Little Note for My Daughter

I feel like I need to re-post this from my Facebook notes because I don’t want to lose this if Facebook is closed someday.

Little Note for My Daughter

Dear my daughter,

Just like every Mom in the world, I felt overwhelmingly happy when I first saw you in the world. The unbeatable pain when delivering you was gone, a second after I saw your beautiful eyes were staring at me.

Dear my daughter,

I didn’t feel any hurt at the first times I was struggling to breastfeed you. I’ve never ever complained when I had to wake up – many times – at night, whenever you want some milk to vanish your thirst. I am happy to breastfeed you since we’re holding hands, as you always seek for something to grab on while drinking. I feel very close to you and, except God, I feel like no one can tear us apart. I feel like, I’ve never loved someone this much before in my whole life.

Dear my daughter.

Yes, once I was dreaming to have a baby boy. Not because I wanted to see him playing football or becoming a great athlete just like I had dreamed of myself to be. But I wanted him to be a leader, a wise man who can be a role model and become a guardian for his little brothers and sisters, even for his own family in the next phase of life. I and your father really know how big the burden goes to the first child of the family. We knew it very well. We had to set the bar high, we received less attention and we become more independent than anyone else. We had to be tough. We used to be tough. And, since you’re happened to be the first child, you have to be tough as well.

Dear my daughter,

I never feel sorry for having an adorable baby girl like you. I’ve seen you grow up amazingly. I will not ask you to do things you don’t like. I will let you free as what you want to become. Because, my daughter, I and your father don’t want to see you being suffered because of our own selfishness. We always want to see you smile heavenly, not suffered in your own agony.

Dear my daughter,

I am sorry if someday I have to be mad at you. Just believe that I will not mad for something that I don’t like, but for something that is not good for you. I am not going to spoil you, I will let you know when you are doing something wrong, and will give you compliment if you are doing a good things. After all, we are always be proud of you.

Dear my daughter,

Please don’t ever hate me because, until the time is through, I will never ever be able to hate you. You are the part of me, you are something that God has given me as gift. I promise not to let you getting hurt, in any situation. I will always be beside you to accompany, and will be behind your back to push you upward, though I may not always be an angel for you. With me, you can share many things. That’s my duty. That’s why I am here. I am here to take care of you and nurture you to be someone with good mental attitude. And promise to do it at my best, though I may be far from perfection.

Dear my daughter,

I hope these three words could describe it all. I love you. And my only wish is that you always keep in mind that I do.

me and the 9 days old Andhara

Before you were conceived I wanted you; Before you were born I loved you; Before you were here an hour I would die for you; This is the miracle of life – Maureen Hawkins –

Advertisements

At the Crossroads

Last week, one of the advisers in my office assigned me to open a video lecture by a famous marketing consultant, Simon Sinek. She instructed me to watch, see and find whether its content is possibly related to our project; to promote the bureaucratic reform in Indonesia. Then she asked me to sum it up, put it in a short writing for about 250 words.

I smiled. This is the most interesting assignment that I’ve had so far. Basically, my main responsibility, as written clearly in the contract, is to help the advisers in doing research activities. I wouldn’t say that managing events bla bla bla is a total turn-off, but doing a job that is part of your hobby, should be considered as a gift from God. Suddenly I remember that I ever dreamed to be a singer because I love to sing, though this idea might have been gone from my mind (well, it looks like everyone is starting their passion to be a singer at their early stages, not by the time they reached twenty-something), but still I was overwhelmingly happy that finally I could run from the clerical activities for a while. Then I started to write.

A week after, I came back to her with 716-words article as shown below:

Golden Circle Theory dalam Reformasi Birokrasi

Ada sebuah perbedaan antara orang-orang biasa, seperti kita pada umumnya, dengan para inspiring leaders yang ada di dunia. Perbedaan yang membuat Martin Luther King berhasil melakukan perubahan besar dalam sejarah diskriminasi rasial di Amerika Serikat melalui pidato berjudul I Have A Dream pada tahun 1963. Perbedaan yang, untuk contoh di jaman pop culture saat ini, berhasil membuat kematian Steve Jobs menuai duka di hampir seluruh penjuru dunia. Padahal, Steve Jobs bukan sanak saudara kita, bukan pula seseorang yang kita kenal secara personal, namun Steve Jobs telah sangat berjasa memperkenalkan kita dengan apa yang dinamakan iPod, sebuah MP3 player seperti halnya produk keluaran Sony. Atau sesuatu yang bernama iPhone, jenis telepon genggam yang tiba-tiba muncul mengalahkan popularitas dan dominasi Nokia di pasaran. Atau pula iPad, sebuah computer jenis tablet di mana si empunya bisa terkoneksi dan mengerjakan aktivitas komputer di mana pun, dengan gaya yang lebih stylish daripada laptop/notebook biasa.

Steve Jobs, yang bersama dengan Steve Wozniak merupakan pendiri perusahaan Apple, adalah seorang tokoh yang jelas sudah akrab namanya di telinga kita. Jobs adalah salah satu inspiring leaders yang cara berpikirnya berbeda dengan cara pikir orang kebanyakan. Simon Sinek, seorang konsultan pemasaran, motivator dan penulis buku “Starts With Why”, mencoba untuk menjelaskan teori “Golden Circle” yang dimiliki oleh kebanyakan inspiring leaders termasuk Steve Jobs. Teori “Golden Circle” tersebut terdiri dari tiga lingkarang kecil hingga besar, yang terdiri atas pertanyaan ‘why’ di lingkaran terdalam, ‘how’ di lingkaran ke-2, dan ‘what’ di lingkaran terluar. Cara berpikir manusia pada umumnya menerapkan teori tersebut dengan cara outside-in, yaitu dari luar ke dalam. Di mana pertanyaan kita akan dimulai dari ‘what’, kemudian berkembang menjadi ‘how’ dan barulah di akhir akan muncul pertanyaan ‘why’. Sementara si pendiri Apple memiliki cara perpikir yang inside-out, memulai idenya dengan kata ‘why’, lalu kemudian bergerak ke ‘how’, dan diakhiri dengan ‘what’, yaitu sebuah objek yang riil.

Di sini kita melihat, bahwa jauh sebelum ide penciptaan iPod, Jobs sudah menjawab dua pertanyaan sebelumnya, yaitu ‘why’ dan ‘how’. Kata tanya ‘why’ atau ‘mengapa’ hanya bisa dijawab dengan sebuah belief, sebuah kepercayaan akan sesuatu hal atau sesuatu mimpi yang yakin bisa diwujudkan. Jobs ingin mengubah status quo, sesuatu yang sudah biasa ia temukan di pasaran (‘why’), salah satunya adalah dengan menciptakan suatu alat yang tidak hanya fungsional tapi juga simple dan memiliki model yang classy (‘how’), kemudian Jobs berpikir bahwa ia akan menciptakan iPod (‘what’). iPod adalah buah pikir Jobs setelah ia percaya bahwa dirinya mampu mengubah pandangan umum orang tentang sebuah MP3 player, bukan sebaliknya. Dengan cara inilah Jobs berhasil sukses menjual produknya, karena kepercayaan yang ia miliki berhasil ia transfer kepada para konsumennya, sehingga ada kelompok-kelompok orang yang kini dinamakan dengan Apple freak. 

Simon Sinek berpendapat bahwa sudah terlalu konvensional dan ‘ketinggalan’ kalau kita masih berpikir dengan cara metode outside-in dewasa ini, apalagi jika kita ingin menjadi sebuah agent of change, seseorang yang bisa memimpin sebuah perubahan secara massal, terlebih merubah sesuatu hal yang sudah sangat laten diadopsi selama berpuluh-puluh tahun. Berkaca pada Steve Jobs, sekalipun ia bukan seorang pemimpin sebuah negara, tapi bagi sebagian orang, pengaruh yang ia ciptakan bahkan bisa menyamai ataupun melebihi pengaruh seorang presiden di Amerika Serikat. Inilah yang patut dicontoh oleh para pemimpin di negeri ini dalam kaitannya dengan reformasi birokrasi. Metode birokrasi model lama yang telah tercipta sekian puluh tahun di Indonesia hanya bisa diubah dengan orang-orang yang berpikir dengan metode inside-out. Beberapa tokoh, salah satunya Bapak Dahlan Iskan, bisa dikategorikan sebagai salah satu dari sedikit pemimpin yang mencoba berpikir demikian. Dengan gaya berpakaian yang jauh dari mentereng, sikapnya yang humble pada setiap orang dan aksinya yang beberapa kali melakukan inspeksi mendadak selama ia menjabat sebagai Menteri Negara BUMN telah mencuri hati masyarakat. Dahlan Iskan berpikir dari kata ‘why’, bahwa ia percaya ia bisa merubah perspektif masyarakat tentang seorang Menteri yang selama ini jauh dari jangkauan dan selalu berpenampilan rapi dengan jas dan sepatu mengilat. Kemudian ia memikirkan kata ‘how’ dengan melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh Menteri-Menteri lainnya (contohnya menjadi penumpang kereta api listrik dari Jakarta saat akan menghadiri rapat kabinet di Istana Bogor), dan kemudian ia menjawab pertanyaan terakhir melalui kata ‘what’, yaitu adalah untuk mencapai reformasi birokrasi. Inspiring leaders hanya akan memulai sesuatu dengan dirinya dan apa yang diyakininya, sebelum ia mempengaruhi bawahannya, staf-stafnya, masyarakatnya, konsumennya, maupun orang-orang yang ada di sekelilingnya.             

And this is the impact that I’ve just got after the advisers read my writing; they offered me to leave my current position to become the Writer, a post that they will advertise very soon to the public. They think that I am capable and as the result, they will seek for another Research Assistant to replace me. They only give me this weekend to think and decide. At one side, I consider this as a big appreciation from them. However, at the other side, the Writer post that they initially proposed should be filled by someone who has a broad experience in writings (not only can blogging and making some trashy notes in Facebook), and I am thinking that this person must be quite senior. And for sure, will be paid higher than me. That’s my only one question; “somehow, if I said agree, wouldn’t it be a big saving for them??”

What should I answer for tomorrow? I don’t want – if I agreed with their offer – to re-negotiate the fee that I currently get. But if not, I will be feeling like working underpaid (oh dear, being a dedicated writer is not as simple as you think). On the other hand, I talk to myself that must leaving this place because of some of the reasons that make it’s inconvenient to work. I don’t know when. But, if I sweat the compensation things and eventually get what I expected, I would feel like I just made a greater and tighter commitment between me and the work, which can only be broken by the time the project ends. Holy crap.

‘Divortiare’

Sempat bingung mau bikin judul apa dari perasaan aneh yang berkecamuk tadi malam. Tiba-tiba muncul kata ‘divortiare’, yang saya ingat merupakan judul novel karangan Ika Natassa beberapa tahun silam. Novel yang kalau saya punya tiga jempol, bisa saya acungkan tiga-tiganya sekaligus. Novel yang kalau di Goodreads saya masukkan dalam ‘all-time favorite shelf‘ dan saya kasih empat dari lima bintang.

Memang gak lucu ngebahas isi buku Divortiare di sini, karena ini bukan halaman book review di Goodreads. Tapi kalau ingin  tentang buku ini, silakan lihat review saya di http://www.goodreads.com/book/show/3573143-divortiare#other_reviews.  Saya suka buku ini karena it amazingly taught us so much about the marriage and after-divorced relationship, considering bahwa si pengarang statusnya masih single alias not married yet.

Saya selama ini berpendapat bahwa kata ‘divortiare’ berasosiasi dengan kata ‘divorce’, yang artinya perceraian dalam Bahasa Indonesia. Enggak tahu lah bener atau enggak, yang jelas kata ‘divorce’ itu saat ini seperti sedang jadi trend, tidak lagi suatu hal yang menakutkan seperti jaman dulu. Kim Kardashian bisa kok cerai dalam beberapa minggu pasca pernikahannya (secara dia eksotis, seksi, sensual dan bisa dapet laki-laki lain dalam sekejap, sampai suami saya sendiri adalah fans berat Kim, hahah) artis kita juga luar biasa hebat, mengungumkan perceraian lewat press release selang beberapa bulan setelah media meliput pesta resepsi pernikahan yang memakan biaya milyaran. Kata ‘divorce’ jelas mengalami penurunan makna. Ter-redefinisi sedemikian hebatnya. Kalau orang jaman dulu berpikir jutaan kali untuk menalak/minta ditalak pasangannya, hari gini nggak gitu lah ya….”kalau elu gak mau pake cara gue, ya kita pisah aja.”, atau seperti lagunya Usher yang berjudul Separated yang berbunyi “so why don’t you go your way, and I’ll go mine?” Segampang itu ternyata.

Oke, jadi apa hubungannya sama perasaan saya tadi malam? Jelas bukan ke arah ‘divorce’. Keluarga kecil saya masih baik-baik saja dan mudah-mudahan selamanya begitu. Tadi malam adalah malam ke-tiga saya tidur berdua dengan Dhara. Seperti yang biasa saya lakukan sebelum tidur, saya dekatkan wajah saya, memperhatikan wajah polosnya beberapa menit, memberikannya kecupan beberapa kali, membisikkannya sepatah dua patah kata nasihat (ada yang bilang kalau nasihat yang dibisikkan ke bayi saat ia tidur pulas akan meresap ke dalam jiwanya, walaupun saya gak yakin dengan hal itu, but I just love to talk to her quietly on her sleep).

Malam ke-tiga sejak suami saya berangkat overseas training-nya yang ke-2 sejak bergabung di perusahaan tersebut pertengahan tahun lalu. Sayang, koneksi wi-fi dan internet di sana buruk sekali, sekalipun dia menginap di hotel Four Points milik Sheraton, tapi kami tidak bisa berkomunikasi sesering biasanya lewat BBM, karena belum ada kerjasama jaringan Blackberry dengan provider telepon selular si suami. Dan karena waktunya di sana sangat padat sehingga sulit cari waktu santai untuk menelepon. Dan, kalau saja Dhara udah agak besar, pasti saya memilih ikut sambil traveling.

Malam ke-tiga yang untungnya belum sampai membuat Dhara rewel seperti kejadian beberapa bulan yang lalu saat Ayahnya pergi hampir dua minggu. Kali ini, sebelum suami pergi, saya sudah siap dengan baju bekas pakainya, jaga-jaga kalau si anak kangen si Ayah. Alhamdulillah, sampai tadi malam belum rewel sama sekali. Dhara itu bisa dibilang Gemini yang super sensitif. She has the real two contradictive personalities of Gemini. Di satu sisi, dia adalah anak super riang dan easy to get along with others. Anak yang energi-nya gak habis-habis kalau dibawa jalan-jalan. Anak yang memilih tidur di perjalanan, to recharge her battery, dan kembali siap beraksi di tempat tujuan berikutnya. Tapi di sisi lain, anak ini juga bisa terbilang super sensitif. She would recognize people who doesn’t really like her or her parents. She wouldn’t smile at them, sekalipun orang itu udah setengah mati becandain dia. Heran, kok dia bisa tahu bahwa Ibu/Ayah-nya gak ‘klik’ sama orang itu, ya?

Jadi, di situlah, saat tadi malam saya memperhatikan wajah polos dengan pipinya yang bulat, saya bisa merasakan kerinduan akan si Ayah di sana. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya yang harus berada di posisi Ayahnya sekarang, sedangkan setiap saya rushing untuk pulang ke rumah, dia selalu menyambut saya sambil lompat-lompat di Jumperoo-nya, dengan senyum paling manisnya, dan merengek kalau saya tidak segera menggendong dan menyusuinya. Tadi malam saya baru merasakan rasa kehilangan saat si suami tidak ada di rumah. Lucu, kalau bukan gara-gara anak ini, saya BIASA AJA kalau suami pergi dinas. Paling-paling ‘ngedumel’ karena gak bisa nganter sana-sini dan saya jadi harus pakai taksi kalau kemana-mana (salah siapa, kenapa juga dari dulu gak mau nyetir sendiri?!), tapi selebihnya saya justru merasa bebas dengan menjadi single fighter untuk sementara. Gak perlu mikirin besok suami pakai baju yang mana, gak perlu janjian ketemu di mana, gak perlu mikirin makan malem apa. I just call the delivery service for pan pizza, do shopping without time limit or complain, other words, I happily do things on my own. *backsound lagu Independent Women by Destiny’s Child. Tapi, tadi malam, sekalipun si suami selalu makan tempat tidur sampai separo (dan hanya menyisakan separo untuk saya berdua dengan Dhara), seringkali menyebalkan, seringkali bikin lemari berantakan, tapi tetap saja dia adalah bagian dari kehidupan saya yang tidak terpisahkan. Last night I felt incomplete without him.

Dan saya sesaat merenung, kalau sebuah keluarga yang seharusnya utuh, lalu becerai-berai. Mungkin rasa kehilangan akan ketiadaan pasangan bisa dikalahkan oleh ego masing-masing. Bisa cari orang lain. Bisa cari yang BARU. Tapi, kerinduan semacam apa yang terbayang di mata si anak saat Ayah/Ibu-nya, salah satunya, selamanya tidak lagi bisa berada di sisinya bersama-sama? This must be even worse than the ‘divorce’ itself.

Mimpi dan Blog Ke-Tujuh

Kalau di antara kalian pernah mendengar (ataupun menyaksikan) film drama “(Mimpi dan) Rumah ke-Tujuh”, judul tulisan ini jelas terinsiprasi dari judul film yang dibintangi Indra Birowo dan Dewi Rezer di tahun 2003 tersebut. Walaupun saya sendiri enggak terlalu tune in sama itu film, tapi kalau diambil benang merahnya, mungkin saya punya paham serupa dengan para tokoh di film itu; yaitu paham “astrologisme”. Nanti mungkin di tulisan-tulisan kemudian, saya akan bercerita tentang paham aneh yang barusan saya sebut, tapi kali ini NO WAY, saya cuma punya sedikit waktu untuk menulis, karena hutang-hutang menulis saya yang lain sedang menumpuk dan menunggu untuk saya sentuh.

Sebut saja begini, hobi saya dari dulu memang menulis. Ya, nulis apa saja. Hobi yang menurut saya berakar pada kecintaan saya membaca buku sejak usia dini. Kenapa saya bilang usia dini? Karena saya mulai membaca di umur 3 tahun. I didn’t lie because that was my parents told me :D. Intinya, saya dengan Gramedia Blok M itu tidak terpisahkan. Bisa loh saya ditinggal sendiri di sana, asyik nongkrong (baca: duduk) sambil baca buku cerita anak-anak keluaran Elex Media Komputindo, sembari Papa saya keliling berbelanja (untuk ukuran tahun 1980-an akhir, Mall Blok M udah terbilang prestisius…haalooo apa kabar Plaza Senayan? Belum ada,  yang ada masih Ratu Plaza namanya :p). Lalu setelah Papa saya kembali dan menanyakan saya mau buku yang mana untuk dia belikan, saya tunjuk buku baru yang masih disampul plastik dan belum terjamah pengunjung lain. Tentu saja, buku yang BELUM sempat saya baca. Anak kecil ternyata bisa juga gak mau rugi, hihi.

Dan sebelum saya melanjutkan cerita tentang hobi membaca saya lebih lanjut, saya harus buru-buru ke tema awal, yaitu cerita historis blog-blog saya yang jumlahnya sudah mencapai enam buah, sambil menemukan alasan mengapa saya harus me-launching blog saya yang ke-tujuh ini.

Pada awalnya saya melihat blog sebagai sebuah diary elektronik, pengganti diary model buku yang jaman keemasannya sudah lewat sebelum tahun 2000. Blog pertama yang saya buat memakai domain blogspot, isinya gak karu-karuan tanpa sensor. Saat itu saya belum tahu, bahwa teknologi search engine di Yahoo! Atau Google memungkinkan blog saya ditemukan oleh SIAPA SAJA dan DI MANA SAJA, termasuk para pengagum rahasia saya yang bertebaran di mana-mana (kalau ini gak usah dipercaya 100%). Hasilnya, gawat total. Setiap orang tahu kapan saya jadian, kapan saya putus, kapan saya sakit hati, kapan saya pergi ke mall ini, kapan saya ngedumel gara-gara dosen gak kooperatif. Sejak saya malu sendiri kalau membaca kembali blog itu, saya putuskan untuk membuat blog baru. Blog baru yang domainnya numpang di Friendster (ah, sesuatu banget sih Friendster waktu itu, Facebook sih bukan apa-apa, pioneer-nya menurut saya ya tetap Friendster) . Dan karena account Friendster saya mencapai dua (ini sih sok gaul banget, 500 temen gak cukup, heh?), jadi blog ketiga saya juga pakai domain Friendster. Isinya? Lalala…ternyata saya masih menganggap blog itu sebagai diary elektronik, pelampiasan segala keluh kesah. Tapi,belajar dari pengalaman, saya membuatnya sedikit lebih implisit dari blog yang pertama.

Blog ke-empat saya kemudian tidak lagi sama. Karena blog ini dibuat untuk saya dengan si suami (yang dulu masih jadi pacar saya). Saya pikir, lucu juga kayaknya punya blog berdua. Karena saya tahu si pacar itu adalah orang yang sangat sensitif dan suka memberikan kata-kata puitis ke saya. Asik, blog saya isinya bakalan romantis abis kalau begini. Jadilah blog itu. Waktu berjalan, beberapa kali saya menulis di sana, si pacar belum. Saya sempet sebel, kok gak bisa meluangkan waktu untuk nulis sepatah-dua patah kata sih di blog itu? Kalau nulis SMS sering banget. Sebulan kemudian, dia sama sekali belum ‘tergerak’ untuk menulis. Saya akhirnya tanya langsung kenapa, dia jawab: “Malu. Perasaan aku ya biar aku dan kamu yang tahu, bukan untuk konsumsi publik.” Ya begitulah, ternyata dia bukan orang seperti saya. Nyampah sana, nyampah sini. Cerita sana, cerita sini, dari yang penting sampai yang gak penting. Ya sudah, saya tinggalkan blog itu dan kembali membuat blog untuk saya sendiri.

Waktu itu sudah tahun 2007 (kalau gak salah), dan saya rasanya sudah mencapai kestabilan emosi yang cukup signifikan. Saya sempat terpikir juga dengan perkataan si pacar; “Perasaan aku ya biar aku dan kamu yang tahu, bukan untuk konsumsi publik.”. Betul memang. Tidak seharusnya blog diisi oleh hal-hal yang isinya melulu curahan hati. Kalau nafsu menulis saya tak tertahankan, kenapa saya nggak mengalokasikan itu ke sebuah blog yang isinya betulan karya tulis? Maka mulailah saya membuat blog dengan alamat http://elegiesokpagi.wordpress.com. Isinya entah cerita pendek saya yang dulu pernah dimuat di majalah A dan B, atau prosa, atau essay saya di jaman kuliah yang mendapat predikat “well written” atau cerita pendek saya yang lainnya, baik yang memenangkan penghargaan ataupun yang hanya sekedar tulisan di kala saya menunggu seseorang di kafe. Apa saja, kapanpun ide saya muncul. Lalu kenapa alamatnya berjudul Elegi Esok Pagi? Karena, percaya gak percaya, ide terbaik dalam menulis muncul saat saya sedang sedih. When I’m in deep agony. Atau bahasa Indonesianya; elegi.

Dan benar, hidup saya jauh lebih tenang sejak saat itu. Tidak ada lagi penyesalan ketika membaca kembali isi blog yang lama, tidak ada lagi rasa malu. Semakin hari hits saya bertambah banyak. Sampai hari ini sudah mencapai 4631 hits. Saya gak pernah mempublikasikan blog ini secara detail, hanya sekedar dicantumkan di profil saya di Facebook & Goodreads, karena buat saya hanya orang-orang tertentu yang mungkin akan menganggap blog ini enjoyable, karena blog ini tanpa personal things. Kemudian di tahun  2009, lahir-lah blog ke-6 saya. Bentuknya lebih menyerupai website, dengan alamat www.intandonny.com, isinya seputar persiapan pernikahan kami waktu itu, sekaligus tempat mensosialisasikan jadwal akad nikah dan resepsi, karena alamat itu juga tercantum di undangan pernihakan riil kami yang dikirim lewat Pak Pos. Maksud saya, supaya si tamu (yang notabene kebanyakan adalah rekan-rekan otangtua saya, orangtua suami, bukan teman-teman saya sendiri) tahu bagaimana sih/siapa sih/kayak gimana sih calon pengantin yang acaranya akan dihadiri oleh mereka? Sayang, karena kami membeli domain dengan harga promo (baca: murah meriah muntah), jadi dalam setahun alamat situs itu hilang dengan sendirinya dari peredaran.

Saat ini saya resmi tidak memiliki blog pribadi. Kalau saya gatel pengen nulis, saya melampiaskannya di Notes laman Facebook saya. Tapi saya pikir-pikir lagi, Friendster sudah tiada. Sangat mungkin Facebook juga satu hari akan mati, dan segala foto-foto, file-file dan notes saya juga akan hilang begitu saja dari peredaran. A blog needs a longer period to exist. Catatan harian tidak akan basi dalam satu dekade.

Dan inilah blog saya yang ke-tujuh, di mana saya bersumpah akan lebih bijak menggunakannya dan menjalankan sesuai dengan prosedur ‘keamanan’ dengan sebaik-baiknya. Mungkin di blog ini saya cuma mau memperkenalkan diri saya yang ‘baru’, dengan cerita-cerita seputar keluarga kecil saya, tentang malaikat kecil saya, tentang pekerjaan saya sehari-hari, tentang dilema menjadi working mom di saat hati saya terbelenggu antara dua kewajiban yang tidak bisa dipilih, dan lain-lain. Atau mungkin satu saat saya menulis satu tema yang saya temukan di jalanan, di angkot saat saya pulang, di jembatan penyeberangan, atau hal-hal apapun yang membuat saya geram tentang negara saya yang nggak bisa dibanggakan. Saya punya mimpi suatu saat saya bisa mengikuti jejak Goenawan Mohamad atau Sindhunata, yah walaupun tulisan saya isinya kebanyakan cuma sampah. Boleh dong, namanya juga MIMPI.