Mimpi dan Blog Ke-Tujuh

Kalau di antara kalian pernah mendengar (ataupun menyaksikan) film drama “(Mimpi dan) Rumah ke-Tujuh”, judul tulisan ini jelas terinsiprasi dari judul film yang dibintangi Indra Birowo dan Dewi Rezer di tahun 2003 tersebut. Walaupun saya sendiri enggak terlalu tune in sama itu film, tapi kalau diambil benang merahnya, mungkin saya punya paham serupa dengan para tokoh di film itu; yaitu paham “astrologisme”. Nanti mungkin di tulisan-tulisan kemudian, saya akan bercerita tentang paham aneh yang barusan saya sebut, tapi kali ini NO WAY, saya cuma punya sedikit waktu untuk menulis, karena hutang-hutang menulis saya yang lain sedang menumpuk dan menunggu untuk saya sentuh.

Sebut saja begini, hobi saya dari dulu memang menulis. Ya, nulis apa saja. Hobi yang menurut saya berakar pada kecintaan saya membaca buku sejak usia dini. Kenapa saya bilang usia dini? Karena saya mulai membaca di umur 3 tahun. I didn’t lie because that was my parents told me😀. Intinya, saya dengan Gramedia Blok M itu tidak terpisahkan. Bisa loh saya ditinggal sendiri di sana, asyik nongkrong (baca: duduk) sambil baca buku cerita anak-anak keluaran Elex Media Komputindo, sembari Papa saya keliling berbelanja (untuk ukuran tahun 1980-an akhir, Mall Blok M udah terbilang prestisius…haalooo apa kabar Plaza Senayan? Belum ada,  yang ada masih Ratu Plaza namanya :p). Lalu setelah Papa saya kembali dan menanyakan saya mau buku yang mana untuk dia belikan, saya tunjuk buku baru yang masih disampul plastik dan belum terjamah pengunjung lain. Tentu saja, buku yang BELUM sempat saya baca. Anak kecil ternyata bisa juga gak mau rugi, hihi.

Dan sebelum saya melanjutkan cerita tentang hobi membaca saya lebih lanjut, saya harus buru-buru ke tema awal, yaitu cerita historis blog-blog saya yang jumlahnya sudah mencapai enam buah, sambil menemukan alasan mengapa saya harus me-launching blog saya yang ke-tujuh ini.

Pada awalnya saya melihat blog sebagai sebuah diary elektronik, pengganti diary model buku yang jaman keemasannya sudah lewat sebelum tahun 2000. Blog pertama yang saya buat memakai domain blogspot, isinya gak karu-karuan tanpa sensor. Saat itu saya belum tahu, bahwa teknologi search engine di Yahoo! Atau Google memungkinkan blog saya ditemukan oleh SIAPA SAJA dan DI MANA SAJA, termasuk para pengagum rahasia saya yang bertebaran di mana-mana (kalau ini gak usah dipercaya 100%). Hasilnya, gawat total. Setiap orang tahu kapan saya jadian, kapan saya putus, kapan saya sakit hati, kapan saya pergi ke mall ini, kapan saya ngedumel gara-gara dosen gak kooperatif. Sejak saya malu sendiri kalau membaca kembali blog itu, saya putuskan untuk membuat blog baru. Blog baru yang domainnya numpang di Friendster (ah, sesuatu banget sih Friendster waktu itu, Facebook sih bukan apa-apa, pioneer-nya menurut saya ya tetap Friendster) . Dan karena account Friendster saya mencapai dua (ini sih sok gaul banget, 500 temen gak cukup, heh?), jadi blog ketiga saya juga pakai domain Friendster. Isinya? Lalala…ternyata saya masih menganggap blog itu sebagai diary elektronik, pelampiasan segala keluh kesah. Tapi,belajar dari pengalaman, saya membuatnya sedikit lebih implisit dari blog yang pertama.

Blog ke-empat saya kemudian tidak lagi sama. Karena blog ini dibuat untuk saya dengan si suami (yang dulu masih jadi pacar saya). Saya pikir, lucu juga kayaknya punya blog berdua. Karena saya tahu si pacar itu adalah orang yang sangat sensitif dan suka memberikan kata-kata puitis ke saya. Asik, blog saya isinya bakalan romantis abis kalau begini. Jadilah blog itu. Waktu berjalan, beberapa kali saya menulis di sana, si pacar belum. Saya sempet sebel, kok gak bisa meluangkan waktu untuk nulis sepatah-dua patah kata sih di blog itu? Kalau nulis SMS sering banget. Sebulan kemudian, dia sama sekali belum ‘tergerak’ untuk menulis. Saya akhirnya tanya langsung kenapa, dia jawab: “Malu. Perasaan aku ya biar aku dan kamu yang tahu, bukan untuk konsumsi publik.” Ya begitulah, ternyata dia bukan orang seperti saya. Nyampah sana, nyampah sini. Cerita sana, cerita sini, dari yang penting sampai yang gak penting. Ya sudah, saya tinggalkan blog itu dan kembali membuat blog untuk saya sendiri.

Waktu itu sudah tahun 2007 (kalau gak salah), dan saya rasanya sudah mencapai kestabilan emosi yang cukup signifikan. Saya sempat terpikir juga dengan perkataan si pacar; “Perasaan aku ya biar aku dan kamu yang tahu, bukan untuk konsumsi publik.”. Betul memang. Tidak seharusnya blog diisi oleh hal-hal yang isinya melulu curahan hati. Kalau nafsu menulis saya tak tertahankan, kenapa saya nggak mengalokasikan itu ke sebuah blog yang isinya betulan karya tulis? Maka mulailah saya membuat blog dengan alamat http://elegiesokpagi.wordpress.com. Isinya entah cerita pendek saya yang dulu pernah dimuat di majalah A dan B, atau prosa, atau essay saya di jaman kuliah yang mendapat predikat “well written” atau cerita pendek saya yang lainnya, baik yang memenangkan penghargaan ataupun yang hanya sekedar tulisan di kala saya menunggu seseorang di kafe. Apa saja, kapanpun ide saya muncul. Lalu kenapa alamatnya berjudul Elegi Esok Pagi? Karena, percaya gak percaya, ide terbaik dalam menulis muncul saat saya sedang sedih. When I’m in deep agony. Atau bahasa Indonesianya; elegi.

Dan benar, hidup saya jauh lebih tenang sejak saat itu. Tidak ada lagi penyesalan ketika membaca kembali isi blog yang lama, tidak ada lagi rasa malu. Semakin hari hits saya bertambah banyak. Sampai hari ini sudah mencapai 4631 hits. Saya gak pernah mempublikasikan blog ini secara detail, hanya sekedar dicantumkan di profil saya di Facebook & Goodreads, karena buat saya hanya orang-orang tertentu yang mungkin akan menganggap blog ini enjoyable, karena blog ini tanpa personal things. Kemudian di tahun  2009, lahir-lah blog ke-6 saya. Bentuknya lebih menyerupai website, dengan alamat www.intandonny.com, isinya seputar persiapan pernikahan kami waktu itu, sekaligus tempat mensosialisasikan jadwal akad nikah dan resepsi, karena alamat itu juga tercantum di undangan pernihakan riil kami yang dikirim lewat Pak Pos. Maksud saya, supaya si tamu (yang notabene kebanyakan adalah rekan-rekan otangtua saya, orangtua suami, bukan teman-teman saya sendiri) tahu bagaimana sih/siapa sih/kayak gimana sih calon pengantin yang acaranya akan dihadiri oleh mereka? Sayang, karena kami membeli domain dengan harga promo (baca: murah meriah muntah), jadi dalam setahun alamat situs itu hilang dengan sendirinya dari peredaran.

Saat ini saya resmi tidak memiliki blog pribadi. Kalau saya gatel pengen nulis, saya melampiaskannya di Notes laman Facebook saya. Tapi saya pikir-pikir lagi, Friendster sudah tiada. Sangat mungkin Facebook juga satu hari akan mati, dan segala foto-foto, file-file dan notes saya juga akan hilang begitu saja dari peredaran. A blog needs a longer period to exist. Catatan harian tidak akan basi dalam satu dekade.

Dan inilah blog saya yang ke-tujuh, di mana saya bersumpah akan lebih bijak menggunakannya dan menjalankan sesuai dengan prosedur ‘keamanan’ dengan sebaik-baiknya. Mungkin di blog ini saya cuma mau memperkenalkan diri saya yang ‘baru’, dengan cerita-cerita seputar keluarga kecil saya, tentang malaikat kecil saya, tentang pekerjaan saya sehari-hari, tentang dilema menjadi working mom di saat hati saya terbelenggu antara dua kewajiban yang tidak bisa dipilih, dan lain-lain. Atau mungkin satu saat saya menulis satu tema yang saya temukan di jalanan, di angkot saat saya pulang, di jembatan penyeberangan, atau hal-hal apapun yang membuat saya geram tentang negara saya yang nggak bisa dibanggakan. Saya punya mimpi suatu saat saya bisa mengikuti jejak Goenawan Mohamad atau Sindhunata, yah walaupun tulisan saya isinya kebanyakan cuma sampah. Boleh dong, namanya juga MIMPI.

4 thoughts on “Mimpi dan Blog Ke-Tujuh

    • Hahaha…actually it’s you(r blog) that inspires me much, Pak. If a busy person like you could have more than 1 blog and many other social networking activities, why can’t I? =)

  1. bo!!tulisanlo tuh bagus bagus banget!!you shud be a writer, the professional one. gue juga lagi baca blog elegi pagi lo neh. etapi kenapa ga ngelanjut di situ aja atuh? sayang

    • Hahahah…makasih loh…itu compliment banget. udah coba beberapa kali bikin novel (gue self-published lewat nulisbuku.com), eh tapi kok merasa bahasan gue terlalu ‘tua’, gak ‘friendly-to-read’ buat kebanyakan orang. Nanti deh bukunya gue kirim ke elo soft copy-nya. Gak tau kayaknya gue kelewat cepet bosen kalau mendalami sesuatu, jadi semangat di awal, luntur di tengah jalan. And being a professional writer itu susah buat gue mbak, waktu gue ‘terikat’ sama majalah bikin feature tiap bulan aja, kalau inspirasi gak ada, jadinya malah maksa buat artikel-nya. Yah begitulah, nulis juga masih lompat-lompat, sama kayak gue masih suka ‘lompat-lompat’ dalam kerjaan. Sejak hamil Dhara, males bikin fiksi. kalau sekarang, gak sempet. Atau mungkin karena udah kelewat bahagia? Hahaha…mesti sedih dulu, baru idenya ngalir =P Anyway, I adore your writings, too. Menghibur banget, bikin senyum2 sendiri. Lanjut dooong blog-nya!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s