At the Crossroads

Last week, one of the advisers in my office assigned me to open a video lecture by a famous marketing consultant, Simon Sinek. She instructed me to watch, see and find whether its content is possibly related to our project; to promote the bureaucratic reform in Indonesia. Then she asked me to sum it up, put it in a short writing for about 250 words.

I smiled. This is the most interesting assignment that I’ve had so far. Basically, my main responsibility, as written clearly in the contract, is to help the advisers in doing research activities. I wouldn’t say that managing events bla bla bla is a total turn-off, but doing a job that is part of your hobby, should be considered as a gift from God. Suddenly I remember that I ever dreamed to be a singer because I love to sing, though this idea might have been gone from my mind (well, it looks like everyone is starting their passion to be a singer at their early stages, not by the time they reached twenty-something), but still I was overwhelmingly happy that finally I could run from the clerical activities for a while. Then I started to write.

A week after, I came back to her with 716-words article as shown below:

Golden Circle Theory dalam Reformasi Birokrasi

Ada sebuah perbedaan antara orang-orang biasa, seperti kita pada umumnya, dengan para inspiring leaders yang ada di dunia. Perbedaan yang membuat Martin Luther King berhasil melakukan perubahan besar dalam sejarah diskriminasi rasial di Amerika Serikat melalui pidato berjudul I Have A Dream pada tahun 1963. Perbedaan yang, untuk contoh di jaman pop culture saat ini, berhasil membuat kematian Steve Jobs menuai duka di hampir seluruh penjuru dunia. Padahal, Steve Jobs bukan sanak saudara kita, bukan pula seseorang yang kita kenal secara personal, namun Steve Jobs telah sangat berjasa memperkenalkan kita dengan apa yang dinamakan iPod, sebuah MP3 player seperti halnya produk keluaran Sony. Atau sesuatu yang bernama iPhone, jenis telepon genggam yang tiba-tiba muncul mengalahkan popularitas dan dominasi Nokia di pasaran. Atau pula iPad, sebuah computer jenis tablet di mana si empunya bisa terkoneksi dan mengerjakan aktivitas komputer di mana pun, dengan gaya yang lebih stylish daripada laptop/notebook biasa.

Steve Jobs, yang bersama dengan Steve Wozniak merupakan pendiri perusahaan Apple, adalah seorang tokoh yang jelas sudah akrab namanya di telinga kita. Jobs adalah salah satu inspiring leaders yang cara berpikirnya berbeda dengan cara pikir orang kebanyakan. Simon Sinek, seorang konsultan pemasaran, motivator dan penulis buku “Starts With Why”, mencoba untuk menjelaskan teori “Golden Circle” yang dimiliki oleh kebanyakan inspiring leaders termasuk Steve Jobs. Teori “Golden Circle” tersebut terdiri dari tiga lingkarang kecil hingga besar, yang terdiri atas pertanyaan ‘why’ di lingkaran terdalam, ‘how’ di lingkaran ke-2, dan ‘what’ di lingkaran terluar. Cara berpikir manusia pada umumnya menerapkan teori tersebut dengan cara outside-in, yaitu dari luar ke dalam. Di mana pertanyaan kita akan dimulai dari ‘what’, kemudian berkembang menjadi ‘how’ dan barulah di akhir akan muncul pertanyaan ‘why’. Sementara si pendiri Apple memiliki cara perpikir yang inside-out, memulai idenya dengan kata ‘why’, lalu kemudian bergerak ke ‘how’, dan diakhiri dengan ‘what’, yaitu sebuah objek yang riil.

Di sini kita melihat, bahwa jauh sebelum ide penciptaan iPod, Jobs sudah menjawab dua pertanyaan sebelumnya, yaitu ‘why’ dan ‘how’. Kata tanya ‘why’ atau ‘mengapa’ hanya bisa dijawab dengan sebuah belief, sebuah kepercayaan akan sesuatu hal atau sesuatu mimpi yang yakin bisa diwujudkan. Jobs ingin mengubah status quo, sesuatu yang sudah biasa ia temukan di pasaran (‘why’), salah satunya adalah dengan menciptakan suatu alat yang tidak hanya fungsional tapi juga simple dan memiliki model yang classy (‘how’), kemudian Jobs berpikir bahwa ia akan menciptakan iPod (‘what’). iPod adalah buah pikir Jobs setelah ia percaya bahwa dirinya mampu mengubah pandangan umum orang tentang sebuah MP3 player, bukan sebaliknya. Dengan cara inilah Jobs berhasil sukses menjual produknya, karena kepercayaan yang ia miliki berhasil ia transfer kepada para konsumennya, sehingga ada kelompok-kelompok orang yang kini dinamakan dengan Apple freak. 

Simon Sinek berpendapat bahwa sudah terlalu konvensional dan ‘ketinggalan’ kalau kita masih berpikir dengan cara metode outside-in dewasa ini, apalagi jika kita ingin menjadi sebuah agent of change, seseorang yang bisa memimpin sebuah perubahan secara massal, terlebih merubah sesuatu hal yang sudah sangat laten diadopsi selama berpuluh-puluh tahun. Berkaca pada Steve Jobs, sekalipun ia bukan seorang pemimpin sebuah negara, tapi bagi sebagian orang, pengaruh yang ia ciptakan bahkan bisa menyamai ataupun melebihi pengaruh seorang presiden di Amerika Serikat. Inilah yang patut dicontoh oleh para pemimpin di negeri ini dalam kaitannya dengan reformasi birokrasi. Metode birokrasi model lama yang telah tercipta sekian puluh tahun di Indonesia hanya bisa diubah dengan orang-orang yang berpikir dengan metode inside-out. Beberapa tokoh, salah satunya Bapak Dahlan Iskan, bisa dikategorikan sebagai salah satu dari sedikit pemimpin yang mencoba berpikir demikian. Dengan gaya berpakaian yang jauh dari mentereng, sikapnya yang humble pada setiap orang dan aksinya yang beberapa kali melakukan inspeksi mendadak selama ia menjabat sebagai Menteri Negara BUMN telah mencuri hati masyarakat. Dahlan Iskan berpikir dari kata ‘why’, bahwa ia percaya ia bisa merubah perspektif masyarakat tentang seorang Menteri yang selama ini jauh dari jangkauan dan selalu berpenampilan rapi dengan jas dan sepatu mengilat. Kemudian ia memikirkan kata ‘how’ dengan melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh Menteri-Menteri lainnya (contohnya menjadi penumpang kereta api listrik dari Jakarta saat akan menghadiri rapat kabinet di Istana Bogor), dan kemudian ia menjawab pertanyaan terakhir melalui kata ‘what’, yaitu adalah untuk mencapai reformasi birokrasi. Inspiring leaders hanya akan memulai sesuatu dengan dirinya dan apa yang diyakininya, sebelum ia mempengaruhi bawahannya, staf-stafnya, masyarakatnya, konsumennya, maupun orang-orang yang ada di sekelilingnya.             

And this is the impact that I’ve just got after the advisers read my writing; they offered me to leave my current position to become the Writer, a post that they will advertise very soon to the public. They think that I am capable and as the result, they will seek for another Research Assistant to replace me. They only give me this weekend to think and decide. At one side, I consider this as a big appreciation from them. However, at the other side, the Writer post that they initially proposed should be filled by someone who has a broad experience in writings (not only can blogging and making some trashy notes in Facebook), and I am thinking that this person must be quite senior. And for sure, will be paid higher than me. That’s my only one question; “somehow, if I said agree, wouldn’t it be a big saving for them??”

What should I answer for tomorrow? I don’t want – if I agreed with their offer – to re-negotiate the fee that I currently get. But if not, I will be feeling like working underpaid (oh dear, being a dedicated writer is not as simple as you think). On the other hand, I talk to myself that must leaving this place because of some of the reasons that make it’s inconvenient to work. I don’t know when. But, if I sweat the compensation things and eventually get what I expected, I would feel like I just made a greater and tighter commitment between me and the work, which can only be broken by the time the project ends. Holy crap.

2 thoughts on “At the Crossroads

  1. It is a big challenge,….. why not take the challenge…
    Go for it, you can do it, as long as you want to work hard, work smart and learn more and more….
    Everybody can make mistakes, but you can improve yourselves from such mistakes….
    Congrats, asal kalau udah naik gaji, ya jangan lupa traktir teman-teman….

    • Hai, Pak…maaf baru reply setelah sekian lama. yes, I am the writer now, but too bad the salary wasn’t adjusted, so traktir temen2nya di-skip dulu yaaa buat kapan-kapan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s