Babysitter yang Keminter

Ternyata, jaman sekarang udah gak kayak dulu lagi. Enam belas tahun yang lalu, Ibu saya merekrut seorang pembantu, saat saya masih duduk di kelas enam SD. Enam belas tahun kemudian, si pembantu masih tetap setia membantu orangtua saya di rumah walaupun statusnya sudah menikah dan punya anak. Walaupun kini suaminya ada di kota lain dan ia tetap bertahan di rumah. Konsekuensi logis dari kesetiaannya adalah bahwa anak si pembantu itu sudah menjadi bagian dari keluarga kami juga, secara alamiah menjadi ‘cucu’ pertama orangtua saya.

Masih adakah pembantu model begitu? Menurut saya, kemungkinannya nyaris nol persen. Karena terbiasa memperlakukan pembantu seperti saudara sendiri (in fact that pembantu orangtua saya itu jarak umurnya hanya beda 3 tahun dari saya dan bahkan saya yang bantu membalas surat cinta pertama yang dia dapatkan dari tukang bangunan di depan rumah dulu), ketika saatnya saya punya babysitter buat Dhara, saya memperlakukan babysitter seperti saudara sendiri. Kalau mau makan di restoran pun saya tanya, mau makan apa? Segala kebutuhannya saya penuhi. Bahkan karena gak tega lihat sepatunya yang saat datang udah buluk banget, saya hibahkan sepatu Charles & Keith saya yang belinya pas sale jadi gak ngeh kalau itu kekecilan, menyakitkan kalau dipake terlalu lama. Payahnya, saya baru sadar bahwa jaman sekarang memang sudah beda dari jaman dulu. That’s too much. Babysitter (atau pembantu) gak bisa diperlakukan seperti itu.

Memang agak-agak susah dan tricky kalau kita berhadapan dengan babysitter. Gimana gak tricky, kalau di satu sisi kita harus bisa bersikap tegas sekaligus rely-on-her karena nasib anak kita bergantung pada mereka selama kita bekerja? Yang ada, ketika kita tegur satu hal, jawabannya malah cenderung defensif. Lho, saya kan yang megang anak Ibu, dari pagi sampai sore. Saya udah lebih tahu mana makanan yang dia suka atau enggak. Ih, rasanya minta ditimpuk pake sandal.

Saya agak menyesal kenapa dulu gak jadi ambil kuliah S1 Psikologi, karena saya seringkali salah menyikap sikap dan tabiat orang lain. Okay, I’m expert in reading people’s personalities, but then I used to do the wrong way to react. Babysitter Dhara yang pertama orangnya pintar dan cekatan. Saking pinternya ya kadang kepala batu dan boro-boro dengerin majikan yang masih muda ini (blushing sendiri). Mungkin di pikirannya begini; ih, Ibu ini sok tau…umurnya beda empat tahun aja kok dari saya. Babysitter itu akhirnya saya copot dari jabatannya karena sakit (sakitan).

Perlu tiga kali cari pengganti sebelum akhirnya kami menemukan lagi yang cocok. “Cocok” di sini pengertiannya sempit sekali, karena pada intinya saya cuma cari babysitter yang sanggup berjam-jam menyuapi anak saya dengan penuh kesabaran. Dan sekarang sikap saya jauh lebih loose ke babysitter tersebut. Loose, tapi di sisi lain ya standar aja baiknya. Saya trauma. Untuk urusan kerjaan pun, saya gak lagi terlalu bawel. Kalau dia berbuat salah, sekali dua kali, okelah. Karena kalau dia gak betah, yang repot ya gue-gue juga.Perlu minta cuti berkali-kali dari bos saat harus ganti babysitter dan menjadi observer di rumah. Dan saya gak yakin bos saya masih mau berbaik hati memberikan saya izin untuk work from home kalau hal ini terjadi lagi dalam waktu dekat. Ah, saya benar-benar menantikan waktu di saat saya gak perlu lagi tergantung sama babysitter. Mentang-mentang gaji tinggi, bukan berarti harus keminter dong Mbaaaak 😦

Twitter Trouble

Geli kalau inget kemarin sempet bersitegang sama orang lewat twitter. Saya bukan twitter-person, yang setiap sepuluh menit sekali nge-twit. Buat saya nge-twit sesuatu itu harus ada maknanya, atau ada tujuannya. Nah, sekarang, mana bisa bikin kalimat bermakna dengan 140 karakter yang tersedia? Buat saya, that doesn’t make any sense. Dan itu yang membuat saya sampe sekarang masih stick my heart to facebook.

Nah, karena saya gak pernah buka twitter itulah, pas sekali-sekalinya saya buka, saya lihat ada tweet emosional seseorang yang sepertinya ditujukan ke saya. Saya agak kepancing, langsung saya buat tweet di page saya sendiri. Saya pikir, toh kalau memang tweet orang itu bukan tertuju ke saya, dia juga gak bakal ‘ngeh’ sama tweet balasan saya. Gak lama BB saya bunyi lagi. New notification. Entah dari siapa, tapi bahasanya ofensif luar biasa. Dan kata-kata terakhirnya dia bilang: “get a life!” Hah?!

Saya betul-betul gak ngerti, apa yang orang tersebut maksud dengan kalimat “get a life”, padahal orang itu gak kenal saya, eh saya deh yang gak kenal dia. Dia mungkin kenal saya lewat orang yang dibelanya tersebut. Orang yang merasa offended sama tweet saya. Lucu. Gimana orang itu bisa offended sama tweet saya, kalau memang tweet dia sebelumnya memang bukan mengarah ke saya? Bisa dicerna, kan? Berarti tweet dia sebelumnya memang mengarah ke saya, kan?

Kata “get a life” yang ditujukan ke saya itu sendiri, saya gak ngerti maksudnya. I have life. I have plan for my life. Kalau kalian pikir having life is equal to having fun to the max, ya monggo. Kalau orang yang gak party-party dan minum-minum itu dianggap gak having life, oh kalian sempit sekali sudut pandangnya. Parameter having life buat tiap orang itu beda-beda, loh. Apa kalian bisa nge-judge kehidupan orang lain? Apa kalian udah merasa having life? Oh ya, satu lagi, saya tahu saya bukan pengguna gadget keluaran Apple dan mungkin kelihatan terlalu excited waktu tahu Instagram dibeli Android, but so what? Saya ngutak-ngutik Photoshop sejak lama, bahkan meng-edit foto prewed saya sendiri, dan buat saya gak ada sesuatu yang istimewa dengan application bernama Instagram. Saya cuma penasaran., karena orang-orang di sekeliling saya memang tidak mainan Instagram. Pengen tahu aja, di mana sih bagusnya? Did I tell you that? Then my question is; am I bothering you? Are you affected from anything that I do? Dan tweet balasan kedua ini buat saya udah sangat gak masuk akal. If you’re trying to make me mad, then you did the wrong move, baby. I wouldn’t get insulted just because I downloaded Instagram from Android. Lah, tablet saya yang punya, apa urusannya sama situ?

But experience taught me all. Beruntung di masa yang lalu, saya sudah pernah berurusan sama orang-orang atau pihak yang lebih ‘penting’ daripada seorang kolega yang lebih muda dari saya. You’re a piece of cake, honey. Makanya saya bilang, I used to deal with this. Saya kerja di delapan tempat, dan rata-rata saya keluar karena merasa diperlakukan tidak fair, atau ada peraturan yang tidak membela karyawan. Because I didn’t want to waste my time with those kind of people. Makin ke sini, saya sadar, di manapun kita, kita perlu punya kebesaran dan keikhlasan hati. Gak melulu saya harus protes karena ini atau itu. I am no longer an impulsive young woman. Kalau saya gak berubah, justru mungkin saya yang gak bisa personally developed. Bukan maksud curhat, hanya memberitahu. Tolong, gak usah cari masalah dengan saya. I feel so enough and sick with office drama. Dulu, mungkin karena emosi saya masih lebih besar dari akal sehat, dengan modal dokumen code of conduct yang ditandatangani setiap karyawan, saya melaporkan kolega senior yang melakukan bullying secara verbal terhadap saya, sampai-sampai si employer memberi saya ‘uang tutup mulut’ karena takut kalau saya sebarkan hal ini maka akan mencoreng nama baik institusinya. Uang yang jumlahnya 6 kali lipat gaji saya. Saya senang? Jelas. I took the positive side of everything. Pertama, saya dapat uang dadakan buat modal persiapan pernikahan saya, kedua, saya mendapatkan pengalaman paling berharga dalam hidup saya. Di tempat lain, bahkan saya bersitegang sama bos saya sendiri karena merasa tidak diperlakukan adil karena kehamilan saya dipermasalahkan. Saya gak takut, tapi kali ini saya sudah menguji diri saya sendiri untuk lebih berbesar hati. Buat saya, menyuruh saya medical check-up karena keseringan mabuk saat hamil muda sama dengan penghinaan terhadap kaum saya. Saya datang ke HRD, menolak mentah-mentah perintah tersebut, karena baru TIGA BULAN sebelumnya saya dinyatakan lolos medical check-up sebelum diterima bekerja di tempat tersebut. Saya jengkel. Adakah penyakit berbahaya yang menimpa orang hamil muda saat tiga bulan sebelumnya dinyatakan sehat? Saya cuma berusaha sabar, karena saya sedang hamil and I had nowhere to run. Walaupun makan hati dan pada akhirnya saya harus pindah kantor lagi, lagi-lagi saya dapat pelajaran berharga, that sometimes even nice people could turn into assholes.

Dan saya benar-benar kapok untuk buka akun twitter saya lagi. Mendingan tetap stick di facebook, deh.

Chocoholic Or Dentistholic?

Kemarin, saya baru sadar kalau Dhara suka sekali ngemil dan makan makanan yang bercitarasa coklat. Kebalikan dari sebulan yang lalu saat nafsu makannya sangat mengkhawatirkan, bulan ini, believe it or not, Dhara bisa makan empat kali sehari ditambah snack. Berarti in total makannya empat kali sehari++, belum nett.

Empat hari yang lalu, saat dia nangis-nangis di malam hari setelah baru tertidur satu jam, saya kebingungan, what’s wrong with this baby? Memang minggu kemarin dia sempat batuk pilek ringan jadi asumsi saya adalah karena hidungnya mampet makanya dia nangis-nangis. Setelah beberapa saat gak juga berhenti nangisnya, saya ajak dia keluar kamar, menuju ke ruang makan, kalau-kalau dia merasa sumpek di kamar. Gak lama tangisannya berhenti, sambil menunjuk ke arah lemari kaca tempat di mana saya menyimpan bubur-bubur instan, susu dan makanan ringannya. Dia literally menunjuk biskuit Marie, seakan minta tolong diambilkan. Dan malam itu, dia makan dua keping biskuit Marie sebelum akhirnya kembali minta disusui. Setelahnya, dia tidur lagi sampai pagi.

Kemarin siang, saat kami menghadiri resepsi pernikahan salah satu saudara sepupu, saya baru sadar betapa hobinya si cempluk itu ngemil. Setelah sebelum pergi ke resepsi dia sudah sempat makan dua kali, nasi tim jam tujuh dan bubur pisang jam sepuluh, di resepsi dia menghabiskan ¾ potong bolu coklat dan hampir satu slice puding coklat. Giliran ayahnya mencoba memberikannya zuppa soup seujung sendok, dia meringis. Ternyata dia jauh lebih suka coklat ketimbang jenis rasa lain.

Memang gak mengherankan, karena saya sendiri adalah pecinta coklat, dari kecil. Coba pikir, anak kecil mana yang gak suka coklat ketika saat umurnya baru menginjak empat tahun giginya udah ditambal sana sini sama dokter? Ya, dalam dua puluh tujuh tahun ini, saya baru satu kali opname di rumah sakit karena demam berdarah di tahun 2003, satu kali operasi karena harus Caesar tahun 2011 lalu, tapi kunjungan ke dokter gigi mungkin sudah gak bisa lagi dihitung sama keduapuluh jari tangan dan kaki.

Saya ingat dokter langganan saya waktu kecil dulu, namanya Dokter Andreas, prakteknya di Manggarai. Kayaknya gak kurang dari satu kali dalam sebulan saya pergi ke tempat prakteknya. Bahkan wajah si dokter dan suster yang membantunya pun masih jelas dalam kepala saya. Di situlah gigi-gigi susu saya ditambal, dicabut pertama kalinya (bahkan untuk gigi seri saja mesti dicabut ‘paksa’ di dokter, karena rata-rata gigi barunya sudah tumbuh duluan sebelum gigi susu itu goyang, kasihan ya?), dan saat saya berkenalan dengan suntik kebal. Dan itu terjadi semasa saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Beberapa tahun kemudian, Ibu saya baru tahu bahwa salah satu sepupunya yang dokter gigi praktek di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Sebagai anak karyawan Pertamina, saya merasakan sekali bahwa pelayanan di rumah sakit yang notabene gak pakai bayar itu buruk sekali. Dokternya tidak ada yang ramah. Susternya apalagi, mereka jauh lebih galak daripada pasien. Nah, karena Om saya sendiri yang praktek di sana, jadi saya gak pakai was was, meskipun Om saya punya titel yang sangat menyeramkan; Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut.

Dan karena gratis itulah, saya seolah memanfaatkan segala fasilitas. Kebetulan gigi-gigi saya juga kayaknya tahu bahwa mereka dapat perawatan gratis, jadi sering sekali berulah. Ya tiba-tiba gigi geraham saya kena abses, sampai harus perawatan akar sampai 8 kali (seminggu dua kali) ke dokter spesialis akar gigi alias Endodontist. Sayangnya, gigi geraham yang terkena abses itu adalah graham ketiga, yang perannya luar biasa vital untuk mengunyah. Jadi, gigi itu tidak boleh dicabut permanen. Dengan predikat ‘keponakan Dr. X’, tentu saya dapat perhatian lebih dari teman sejawat Om saya di RSPP. Gak usah ditanya rasanya perawatan akar itu gimana. Luar biasa! Sebuah jarum dibalut kasa beralkohol dan ditusuk-tusukkan ke lubang gigi sampai ke akar. Begitu terus sampai akar itu sembuh dan syaraf-syarafnya mati. Ya, mati. Sampai sekarang gigi itu masih utuh di dalam mulut saya, dan rasanya hambar, mati rasa.

Pada usia 12 tahun, saya melakukan foto panoramic lagi untuk melihat status akar-akar gigi yang lain. Om saya tiba-tiba memvonis bahwa gigi graham bungsu saya yang belum tumbuh, keempat-empatnya, berada jauh dari ‘jalur’ dan sebaiknya diangkat. Mati gue. Ngebayangin operasi untuk cabut empat gigi di usia 12 tahun? It had never been in my dream! Gigi geraham bungsu atas bahkan letaknya masih jauh dekat saluran eustachius (saluran yang menghubungkan hidung dan telinga). Jelas saya menolak mentah-mentah. Tapi akhirnya, enam tahun kemudian, saya tetap menjalani operasi tersebut karena alasan resiko jika gigi-gigi bandel itu gak turun sama sekali dan membusuk di saluran eustachius. Kebayang?

Sejak kecil pula, takdir sudah menggariskan saya untuk berurusan dengan Orthodontist. Ya, apalagi kalau bukan rahang bawah saya yang tumbuh lebih maju daripada rahang atas sehingga bentuk mulut saya dari samping jauh dari nilai estetis. Dulu saya takut sekali membayangkan pakai kawat gigi permanen. Syukurlah saya sekolah di SMA gaul ibukota, di mana rata-rata muridnya menganggap kawat gigi sebagai sebuah trend dan bagian dari gaya hidup. Good timing, saat itulah saya akhirnya berani memutuskan memakai kawat gigi yang melekat di mulut saya selama 3 tahun. Saat saya lulus SMA dan memasuki universitas, saya punya tampilan baru yang mem-boost rasa percaya diri; gigi rapih dan rata dengan rahang normal. It’s time to shine 🙂

Lantas hubungannya dengan coklat? Ya saya sendiri gak tahu. Yang saya tahu bahwa coklat itu mengandung tidak hanya bubuk kakao tapi juga susu dan gula. Yang saya tahu adalah coklat dalam bentuk apapun, pasti jadi makanan favorit saya. Tapi yang saya gak tahu, adalah kenapa gigi saya selalu bermasalah (bahkan sampai detik ini, gigi-gigi saya masih hobi bikin lubang), padahal dari kecil saya selalu rajin sikat gigi. Beng-beng, choki-choki, nutella, silver queen, meses ceres, bahkan susu UHT rasa coklat pun masih masuk dalam daftar belanja bulanan saya. Saya gak pernah punya masalah dengan coklat lokal, termasuk coklat Monggo yang dark chocolate-nya menurut saya nomor satu. Tapi jelas saya juga pecinta coklat impor, di mana tempat gak luput saya kunjungi setiap kali ke airport nunggu pesawat pulang adalah The Cocoa Trees, saya meraup coklat apapun apalagi kalau ada promo ‘buy 2 get 3’, dan memfokuskan perburuan saya ke coklat praline with hazelnuts. Nyum! Dan karena selama hamil hobi saya adalah makan roti dengan selai coklat, jelas gak heran kenapa Dhara juga suka makanan rasa coklat. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya supaya pada nantinya si cempluk itu gak jadi pasien mingguan dokter gigi seperti saya?

If He Were A Woman

This week should’ve been the most tiring contemplation time that my husband ever experienced in his life. A leading multinational FMCG company, called him to fill one of their vacant posts. It has never been a dream to get this offer very easily, after a one-day recruitment process, jumped directly from 10 minutes presentation to panel discussion, and they quickly assured that hubby gets everything that they need.

The problem raised afterwards, is that this offer will make him go down one step, from a managerial position into an assistant manager, and unluckily, also must be going down the salary. The company’s highest standard of remuneration for this offered position didn’t suffice. Meanwhile, his current position as Business Development Manager at US’#1 express company is already prestigious, yet he dreamed to move into a FMCG company since working in express and logistic company has been horribly stressful. This is no good for him for a long term engagement. Another meanwhile, is that this FMCG company offers another ‘benefits’ such as free products (shampoo, shower cream, dental paste, you name it), housing allowance after working for 3 years, and also a career opportunity. But, still, the salary and position grade are in the top of considerable things.

If you were him, will you take this opportunity? If I must answer then my answer must be YES. I have been experienced this thing, that my current salary is only 60% of my last-year salary. But so what? I work in project-based contract, and nobody knows whether this contract will be extended by end of year or not. I don’t really objected if the new offer only can pay me less, as long as I’m happy working the project, as long as I’m comfortable with the environment, and yeah, that’s all I can say.

But the condition is different to hubby. He’s not a woman. Not a mother. Not someone who can easily jump and seek for another place if he didn’t feel so good with one company. Other words, he’s not me.

He’s the breadwinner of my family. Not saying that I am so weak so that I fully depend myself on him, bImageut my family should put him as a survivor. We need him as family, that’s why every little step that he takes must be considered as a family decision. I always put our financial thing in this kind of condition: all monthly payments, regular billings, house and car loan must come out from hubby’s pocket. And my earnings should be treated as “additional and complementary”.  So that if someday I could not continue to work due to project end, or maybe because I’m quite overwhelmed by the growing kids, or any little thing that makes me quit working, our family will still be survived. That’s the rule.

And now when he must ignore the offer, he doesn’t know whether someday he would get one more opportunity to work in his dream company. All that I know that he just think about our family, his daughter, and his dream to give the best education for the kids someday. It’s very hard for him to say NO, but he eventually did it by his own will. And for this matter, I would like to give him my standing ovation (and may I kiss you tonight?) ^.~

NOT A Beauty Junkie

Absen menulis hampir dua bulan. Malu-maluin. Baru aja bertekad punya satu blog yang betul-betul actively updated every, at least, 3 days, tapi kok udah males nulis?

Sebenernya bukan males. Lately I just didn’t feel like writing. Gak napsu ngapa-ngapain. There’s a problem to encounter, but right now I already feel like my mood is totally recovered. Dan bahasan pertama yang terlintas pagi ini adalah seputar make up. Untuk habit yang satu ini, saya betul-betul couldn’t resist these temptations, karena satu hal yang paling menyita perhatian saya saat buka-buka majalah atau browsing internet adalah: how beautiful this model wearing these shades of make up. I want to try on myself!

Kebiasaan ber-make up memang baru saya mulai waktu saya kuliah. Ketika masih duduk di bangku SMA, saya cuma pakai bedak Pigeon Compact Powder dan Lip Ice Mentholantum Lip Balm rasa Lemon atau Cherry. Mulai kuliah, daftar belanjaan saya bertambah dengan barang-barang Maybelline, walaupun hanya sebatas blush on dan lipstick. Saya punya dua shades warna favorit semasa kuliah, peach dan fuschia. Blush on Maybelline saat itu modelnya seperti Maybelline Dream Bouncy Blush, dengan warna mendekati Dream Bouncy Blush #10 Pink Frosting dan #30 Candy Coral. Lipstick yang saya pakai saat itu adalah Maybelline Watershine Lipstick in Rose Jam dan Maybelline Watershine Lipgloss in Coral Sunset.

Saya bukan kemana-mana ber-make up tebal. Tentu make-up pun punya manner dan attitude-nya sendiri. Kalau giliran ke kantor, saya pilih yang pale shades and natural look. Kalau nge-mall, saya pakai warna-warna yang lebih bold, tergantung mood dan warna baju. Kalau ke pesta, it’s time to put my make up as heavy as I want to be. Untuk kulit medium cenderung tanned seperti saya, pakai make up is a must, otherwise my face can be look so dull.

Mau warna apapun yang dipilih, make up harus dimulai dengan foundation dan bedak yang tepat sama warna kulit. Tapi karena kulit saya berminyak cenderung berjerawat, saya gak pernah berani pakai foundation untuk daily use, dan jenis foundation-nya juga harus yang mattifying atau oil-free. Saat ini, saya lagi jatuh cinta sama L’Oreal Liquid White Perfect Foundation nomer N7 (Nude Amber). Baru kali ini saya menemukan foundation yang warna tone-nya pas, gak kekuningan dan gak kemerahan. Foundation L’Oreal ini sebenernya varian baru dari True Match yang udah lebih dulu meluncur di pasaran. Dan karena kulit saya pasca melahirkan sangat amat jauh lebih bersahabat (less-acne and less-prone), jadi saya mulai coba ‘kenalan’ sama foundation yang tepat.

Ritual pagi saya mulai dengan mengoleskan Garnier Light Day Cream sebagai moisturizer. Harganya yang murah jadi alasan saya waktu milih day cream ini, jadi kalau gak cocok di kulit, saya nggak sayang buangnya ke tong sampah 😀 Selain itu saya emang merasa butuh produk pencerah (bukan pemutih), dan melihat dari beberapa review bahwa produk Garnier allergic-free dan banyak orang yang merasa cocok pakai, jadi ya saya beli. Setelah itu, saya pakai Very Me Peach Me Skin Glow (Dark), tinted moisturizer keluaran Oriflame, yang menurut saya efeknya lebih hebat dari BB Cream Maybelline. Tinted moisturizer ini warnanya betul-betul peach, with orange radiance, dan bisa menutup warna kulit yang gak merata tanpa membuatnya terkesan pakai apa-apa. Keren kan? Minus-nya, produk ini gak oil-free jadi untuk kulit berminyak-kombinasi kayak saya, siang dikit aja udah bikin muka mengkilap. Untuk menyiasatinya, mengoleskannya harus tipis banget (hanya ditebalkan sedikit di bagian yang butuh ditutupi). Nah, setelah itu, tinggal pilih, kalau mau pergi ke acara formal atau malam, saya akan memakai liquid foundation lagi di atasnya. Tapi kalau untuk sehari-hari dan siang, saya langsung pakai bedak.

Untuk bedak, saya harus beberapa kali failed sampai ketemu warna dan tekstur yang cocok di kulit. Saya lebih suka bedak two-way cake ketimbang loose powder karena kurang praktis dibawa ke mana-mana (suka tumpah dan ngotorin baju saat diaplikasikan ke muka).  Setelah mencoba berbagai merk, hasilnya adalah: (1) Maybelline bikin kulit saya jerawatan mampus, (2) PAC gak punya staying power dan muka saya kelihatan ‘ngabu’, (3) Revlon Mineral Loose Powder wanginya enggak banget, (4) Za cukup enak, tapi coverage-nya terlalu light, dan segala jenis merk lain yang gak bisa saya sebutkan karena gak inget. Suatu hari saya lagi jalan ke Centro dan mampir di counter Revlon. Saya lihat-lihat dan akhirnya saya jatuh cinta sama Revlon Beyond Natural Two way Foundation in Medium Beige. Pas banget sama kulit saya warnanya.

Jadi, ini list of items saat tangan saya mulai bekerja dan berseni di kanvas muka saya:

Natural look

  1. Very Me Peach Me Skin Glow (Dark)
  2. The Body Shop Pressed Face Powder (#02)
  3. Elizabeth Arden Eye Shadow Quad (Brown Quad)
  4. Maybelline Eye Sudio Liquid Liner (Black)
  5. Revlon Powder Blush (Toast of New York)
  6. Revlon Colorburst (Icy Nude)

Warm look   

  1. Very Me Peach Me Skin Glow (Dark)
  2. Revlon Beyond Natural Two Way Foundation (Medium Beige)
  3. Revlon Custom Eye Shadow (Rich Temptations)
  4. Revlon Colorstay Liquid Eye Liner (Brown)
  5. Uptown Visions Blusher (Bordeaux) or
  6. Maybelline Clear Smooth Blush (Fresh Apricot)
  7. Anna Sui Lip Rouge V (#460)

Glam Look

  1. L’Oreal Liquid White Perfect Foundation (#N7 Nude Amber)
  2. Revlon Beyon Natural Two Way Foundation (Medium Beige)
  3. Maybelline EyeStudio Quad (Winter Iris)
  4. Revlon Colorstay Liquid Eye Liner (Black)
  5. Maybelline Clear Smooth Blush (Fresh Berry)
  6. Sariayu Etnika Nusa Tenggara Shimmering Powder
  7. Elizabeth Arden Ceramide Plump Perfect (#20 Perfect Fig)
  8. Christian Dior Serum de Rouge Tinted Lipstick (Soft Pink) as top coat

Dari ketiganya, favorit saya adalah Glam Look, karena saya suka berdandan smokey eyes dengan nuansa biru-silver, sementara pipi saya diwarnai pink tua/fuschia, dan untuk lipstick pilihan saya jatuh ke warna mauve (pink keunguan).

Kalau di-review lagi, jelas saya bukan beauty junkie sama sekali, mengingat merk make up tools yang saya pakai adalah merk-merk medium to low-end. I am objected to buy pricey things just for make up. Merk seperti Elizabeth Arden saya beli karena memang kualitasnya bagus sekali and I really love the shades. Jangan salah, belinya bareng-bareng sama nyokap jadi pasti dapet diskon minimal 20% dari SPG karena nyokap gak pikir dua kali kalau beli skin treatment series 😀 Kalau merk lain seperti Anna Sui, itu pasti hasil jarahan kalau lagi traveling ke luar dan nemu barang bagus di duty free shop dengan harga jauh di bawah harga pasar. Well, I am not going to spend more than 300k just for one lipstick, as this amount of money is better worth to spend for dinner @ Marche with hubby and Dhara ^.~