Chocoholic Or Dentistholic?

Kemarin, saya baru sadar kalau Dhara suka sekali ngemil dan makan makanan yang bercitarasa coklat. Kebalikan dari sebulan yang lalu saat nafsu makannya sangat mengkhawatirkan, bulan ini, believe it or not, Dhara bisa makan empat kali sehari ditambah snack. Berarti in total makannya empat kali sehari++, belum nett.

Empat hari yang lalu, saat dia nangis-nangis di malam hari setelah baru tertidur satu jam, saya kebingungan, what’s wrong with this baby? Memang minggu kemarin dia sempat batuk pilek ringan jadi asumsi saya adalah karena hidungnya mampet makanya dia nangis-nangis. Setelah beberapa saat gak juga berhenti nangisnya, saya ajak dia keluar kamar, menuju ke ruang makan, kalau-kalau dia merasa sumpek di kamar. Gak lama tangisannya berhenti, sambil menunjuk ke arah lemari kaca tempat di mana saya menyimpan bubur-bubur instan, susu dan makanan ringannya. Dia literally menunjuk biskuit Marie, seakan minta tolong diambilkan. Dan malam itu, dia makan dua keping biskuit Marie sebelum akhirnya kembali minta disusui. Setelahnya, dia tidur lagi sampai pagi.

Kemarin siang, saat kami menghadiri resepsi pernikahan salah satu saudara sepupu, saya baru sadar betapa hobinya si cempluk itu ngemil. Setelah sebelum pergi ke resepsi dia sudah sempat makan dua kali, nasi tim jam tujuh dan bubur pisang jam sepuluh, di resepsi dia menghabiskan ¾ potong bolu coklat dan hampir satu slice puding coklat. Giliran ayahnya mencoba memberikannya zuppa soup seujung sendok, dia meringis. Ternyata dia jauh lebih suka coklat ketimbang jenis rasa lain.

Memang gak mengherankan, karena saya sendiri adalah pecinta coklat, dari kecil. Coba pikir, anak kecil mana yang gak suka coklat ketika saat umurnya baru menginjak empat tahun giginya udah ditambal sana sini sama dokter? Ya, dalam dua puluh tujuh tahun ini, saya baru satu kali opname di rumah sakit karena demam berdarah di tahun 2003, satu kali operasi karena harus Caesar tahun 2011 lalu, tapi kunjungan ke dokter gigi mungkin sudah gak bisa lagi dihitung sama keduapuluh jari tangan dan kaki.

Saya ingat dokter langganan saya waktu kecil dulu, namanya Dokter Andreas, prakteknya di Manggarai. Kayaknya gak kurang dari satu kali dalam sebulan saya pergi ke tempat prakteknya. Bahkan wajah si dokter dan suster yang membantunya pun masih jelas dalam kepala saya. Di situlah gigi-gigi susu saya ditambal, dicabut pertama kalinya (bahkan untuk gigi seri saja mesti dicabut ‘paksa’ di dokter, karena rata-rata gigi barunya sudah tumbuh duluan sebelum gigi susu itu goyang, kasihan ya?), dan saat saya berkenalan dengan suntik kebal. Dan itu terjadi semasa saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Beberapa tahun kemudian, Ibu saya baru tahu bahwa salah satu sepupunya yang dokter gigi praktek di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Sebagai anak karyawan Pertamina, saya merasakan sekali bahwa pelayanan di rumah sakit yang notabene gak pakai bayar itu buruk sekali. Dokternya tidak ada yang ramah. Susternya apalagi, mereka jauh lebih galak daripada pasien. Nah, karena Om saya sendiri yang praktek di sana, jadi saya gak pakai was was, meskipun Om saya punya titel yang sangat menyeramkan; Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut.

Dan karena gratis itulah, saya seolah memanfaatkan segala fasilitas. Kebetulan gigi-gigi saya juga kayaknya tahu bahwa mereka dapat perawatan gratis, jadi sering sekali berulah. Ya tiba-tiba gigi geraham saya kena abses, sampai harus perawatan akar sampai 8 kali (seminggu dua kali) ke dokter spesialis akar gigi alias Endodontist. Sayangnya, gigi geraham yang terkena abses itu adalah graham ketiga, yang perannya luar biasa vital untuk mengunyah. Jadi, gigi itu tidak boleh dicabut permanen. Dengan predikat ‘keponakan Dr. X’, tentu saya dapat perhatian lebih dari teman sejawat Om saya di RSPP. Gak usah ditanya rasanya perawatan akar itu gimana. Luar biasa! Sebuah jarum dibalut kasa beralkohol dan ditusuk-tusukkan ke lubang gigi sampai ke akar. Begitu terus sampai akar itu sembuh dan syaraf-syarafnya mati. Ya, mati. Sampai sekarang gigi itu masih utuh di dalam mulut saya, dan rasanya hambar, mati rasa.

Pada usia 12 tahun, saya melakukan foto panoramic lagi untuk melihat status akar-akar gigi yang lain. Om saya tiba-tiba memvonis bahwa gigi graham bungsu saya yang belum tumbuh, keempat-empatnya, berada jauh dari ‘jalur’ dan sebaiknya diangkat. Mati gue. Ngebayangin operasi untuk cabut empat gigi di usia 12 tahun? It had never been in my dream! Gigi geraham bungsu atas bahkan letaknya masih jauh dekat saluran eustachius (saluran yang menghubungkan hidung dan telinga). Jelas saya menolak mentah-mentah. Tapi akhirnya, enam tahun kemudian, saya tetap menjalani operasi tersebut karena alasan resiko jika gigi-gigi bandel itu gak turun sama sekali dan membusuk di saluran eustachius. Kebayang?

Sejak kecil pula, takdir sudah menggariskan saya untuk berurusan dengan Orthodontist. Ya, apalagi kalau bukan rahang bawah saya yang tumbuh lebih maju daripada rahang atas sehingga bentuk mulut saya dari samping jauh dari nilai estetis. Dulu saya takut sekali membayangkan pakai kawat gigi permanen. Syukurlah saya sekolah di SMA gaul ibukota, di mana rata-rata muridnya menganggap kawat gigi sebagai sebuah trend dan bagian dari gaya hidup. Good timing, saat itulah saya akhirnya berani memutuskan memakai kawat gigi yang melekat di mulut saya selama 3 tahun. Saat saya lulus SMA dan memasuki universitas, saya punya tampilan baru yang mem-boost rasa percaya diri; gigi rapih dan rata dengan rahang normal. It’s time to shine 🙂

Lantas hubungannya dengan coklat? Ya saya sendiri gak tahu. Yang saya tahu bahwa coklat itu mengandung tidak hanya bubuk kakao tapi juga susu dan gula. Yang saya tahu adalah coklat dalam bentuk apapun, pasti jadi makanan favorit saya. Tapi yang saya gak tahu, adalah kenapa gigi saya selalu bermasalah (bahkan sampai detik ini, gigi-gigi saya masih hobi bikin lubang), padahal dari kecil saya selalu rajin sikat gigi. Beng-beng, choki-choki, nutella, silver queen, meses ceres, bahkan susu UHT rasa coklat pun masih masuk dalam daftar belanja bulanan saya. Saya gak pernah punya masalah dengan coklat lokal, termasuk coklat Monggo yang dark chocolate-nya menurut saya nomor satu. Tapi jelas saya juga pecinta coklat impor, di mana tempat gak luput saya kunjungi setiap kali ke airport nunggu pesawat pulang adalah The Cocoa Trees, saya meraup coklat apapun apalagi kalau ada promo ‘buy 2 get 3’, dan memfokuskan perburuan saya ke coklat praline with hazelnuts. Nyum! Dan karena selama hamil hobi saya adalah makan roti dengan selai coklat, jelas gak heran kenapa Dhara juga suka makanan rasa coklat. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya supaya pada nantinya si cempluk itu gak jadi pasien mingguan dokter gigi seperti saya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s