Babysitter yang Keminter

Ternyata, jaman sekarang udah gak kayak dulu lagi. Enam belas tahun yang lalu, Ibu saya merekrut seorang pembantu, saat saya masih duduk di kelas enam SD. Enam belas tahun kemudian, si pembantu masih tetap setia membantu orangtua saya di rumah walaupun statusnya sudah menikah dan punya anak. Walaupun kini suaminya ada di kota lain dan ia tetap bertahan di rumah. Konsekuensi logis dari kesetiaannya adalah bahwa anak si pembantu itu sudah menjadi bagian dari keluarga kami juga, secara alamiah menjadi ‘cucu’ pertama orangtua saya.

Masih adakah pembantu model begitu? Menurut saya, kemungkinannya nyaris nol persen. Karena terbiasa memperlakukan pembantu seperti saudara sendiri (in fact that pembantu orangtua saya itu jarak umurnya hanya beda 3 tahun dari saya dan bahkan saya yang bantu membalas surat cinta pertama yang dia dapatkan dari tukang bangunan di depan rumah dulu), ketika saatnya saya punya babysitter buat Dhara, saya memperlakukan babysitter seperti saudara sendiri. Kalau mau makan di restoran pun saya tanya, mau makan apa? Segala kebutuhannya saya penuhi. Bahkan karena gak tega lihat sepatunya yang saat datang udah buluk banget, saya hibahkan sepatu Charles & Keith saya yang belinya pas sale jadi gak ngeh kalau itu kekecilan, menyakitkan kalau dipake terlalu lama. Payahnya, saya baru sadar bahwa jaman sekarang memang sudah beda dari jaman dulu. That’s too much. Babysitter (atau pembantu) gak bisa diperlakukan seperti itu.

Memang agak-agak susah dan tricky kalau kita berhadapan dengan babysitter. Gimana gak tricky, kalau di satu sisi kita harus bisa bersikap tegas sekaligus rely-on-her karena nasib anak kita bergantung pada mereka selama kita bekerja? Yang ada, ketika kita tegur satu hal, jawabannya malah cenderung defensif. Lho, saya kan yang megang anak Ibu, dari pagi sampai sore. Saya udah lebih tahu mana makanan yang dia suka atau enggak. Ih, rasanya minta ditimpuk pake sandal.

Saya agak menyesal kenapa dulu gak jadi ambil kuliah S1 Psikologi, karena saya seringkali salah menyikap sikap dan tabiat orang lain. Okay, I’m expert in reading people’s personalities, but then I used to do the wrong way to react. Babysitter Dhara yang pertama orangnya pintar dan cekatan. Saking pinternya ya kadang kepala batu dan boro-boro dengerin majikan yang masih muda ini (blushing sendiri). Mungkin di pikirannya begini; ih, Ibu ini sok tau…umurnya beda empat tahun aja kok dari saya. Babysitter itu akhirnya saya copot dari jabatannya karena sakit (sakitan).

Perlu tiga kali cari pengganti sebelum akhirnya kami menemukan lagi yang cocok. “Cocok” di sini pengertiannya sempit sekali, karena pada intinya saya cuma cari babysitter yang sanggup berjam-jam menyuapi anak saya dengan penuh kesabaran. Dan sekarang sikap saya jauh lebih loose ke babysitter tersebut. Loose, tapi di sisi lain ya standar aja baiknya. Saya trauma. Untuk urusan kerjaan pun, saya gak lagi terlalu bawel. Kalau dia berbuat salah, sekali dua kali, okelah. Karena kalau dia gak betah, yang repot ya gue-gue juga.Perlu minta cuti berkali-kali dari bos saat harus ganti babysitter dan menjadi observer di rumah. Dan saya gak yakin bos saya masih mau berbaik hati memberikan saya izin untuk work from home kalau hal ini terjadi lagi dalam waktu dekat. Ah, saya benar-benar menantikan waktu di saat saya gak perlu lagi tergantung sama babysitter. Mentang-mentang gaji tinggi, bukan berarti harus keminter dong Mbaaaak😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s