Aerophobic Traveler

Pernah dengar orang yang suka sekali jalan-jalan, mengunjungi tempat-tempat baru di seluruh dunia, tapi takut terbang dengan pesawat? At least, di dunia ini ada satu. Saya.

Ya. Itulah. 5 hari menjelang keberangkatan saya ke Bangkok, saya cemas luar biasa. Sudah lama saya tidak melakukan perjalanan dengan pesawat…sendirian. Biasanya, paling nggak saya pergi bareng kolega. Kalau liburan jelas pergi bareng keluarga. Pengalaman terbang sendiri cuma 1x saya rasakan waktu menyusul orangtua ke Batam dalam rangka day trip ke Singapore, tahun 2006. Bahkan waktu itu saya terbang tanpa rasa takut berlebihan, dan lebih berani daripada sekarang.

Tahun 2007, saat pulang ke Jakarta dari Padang, pesawat Garuda saya mengalami turbulence yang lumayan mengocok perut. Pertama kalinya saya merasakan guncangan separah itu, dan rasanya masih menempel di otak saya sampai sekarang. Beberapa kali penerbangan domestik yang saya lakukan selalu mengalami turbulence. Lucunya, saat saya terbang dengan AirAsia menjelajahi Asia Tenggara dengan suami di tahun 2010, I had very pleasant flights tanpa turbulence sama sekali.

Waktu hamil, saya mengalami empat kali penerbangan. Satu business trip, dan tiga liburan. Leisure trip yang pertama saya baru hamil 10 minggu, tujuan Singapore, aman. Giliran waktu saya hamil 4 bulan, saya naik pesawat ke Batam dengan kondisi mencekam. Apalagi saat itu Batam sedang dilanda hujan deras dan banjir. Tapi ternyata, di luar perkiraan saya, penerbangan saat hujan justru less-bumpy dibandingkan ketika mendung dan awan Cumolus Nimbus masih menggulung. Bahkan waktu saya hamil hampir 6 bulan lebih, pesawat Garuda tujuan Jogja, terbang selama 1 jam dengan guncangan kurang lebih sekitar 45 menit. Bayangin, lebih lama waktu yang berlalu dengan goyangan hebat daripada perjalanan yang mulus. Saya antara pasrah dan khawatir, karena saya lagi hamil lumayan besar, dan kalau ada apa-apa, saya gak tau apa bisa menyelamatkan diri dengan cepat. Di sebelah, bos saya sibuk main game di iPhone-nya, sambil mendengarkan lagu keras-keras melalui earphone yang terdengar jelas dari luar. Well, dia juga takut ternyata. Saat mendarat, pesawat kami bouncing 2-3 kali. Astaga, luar biasa rasanya. I felt like I had the second life after the airplane landed on the ground.

Pasca melahirkan, penerbangan pertama yang saya lakukan adalah ke Kuala Lumpur, bersama anak dan suami. Judulnya liburan. Pertama kalinya saya memangku bayi selama perjalanan. Dan ternyata, saya jauh lebih stres daripada Dhara. Waktu kaki saya ga bisa diam di pesawat, Dhara malah bingung ngeliatin saya. Ayahnya ketawa-ketawa. Ah, didn’t you know that we were traveling with baby? I didn’t want to let bad things happen to Dhara, that was why my knees were shaking. Bayangin lagi, ketika take off saja, pesawat sudah oleng kena turbulensi, jatuh sekitar beberapa meter saat sedang menanjak di angkasa. Awan Jakarta pagi itu memang sangat tebal. Dan saya makin gak bisa tenang saat pramugari mengumumkan bahwa dalam setengah jam ke depan kami akan melewati cuaca buruk. Petir menyambar di sisi kanan sayap pesawat. Kalau bukan untuk liburan, saya pasti sudah mengutuk2 penerbangan itu setengah mati.

Dan sejak saya issuing tiket ke Bangkok kemarin, saya mulai gelisah gak bisa tidur. Padahal saya tahu, turbulence kemungkinan besar akan terjadi, tapi gak tahu tingkat keparahannya seperti apa dan lamanya seberapa. Saya juga tahu, kalau saya pergi sendirian, saya toh masih bisa bertegur sapa dengan penumpang lain jika pesawat tidak terbang dengan mulus, demi menetramkan hati saya dan memberi saya sebuah distraction daripada melihat gumpalan awan ataupun kilat di jendela. Ujung-ujungnya, saya cuma bisa pasrah. Saya tidak pernah sekalipun bisa tidur di dalam pesawat, dan sebutir tablet antimo juga ternyata tidak mempan untuk membuat saya tidur (saya pernah mencobanya di tahun 2010 lalu). Membaca majalah pun tidak bisa fokus. Apalagi sekarang, kekhawatiran saya double karena harus menginggalkan anak di rumah selama 3 malam. Saya trauma naik Garuda, walaupun katanya dia best airline dan dapet beberapa achievements akhir-akhir ini. Sementara, mau naik pesawat lain seperti Singapore Airlines, saya harus transit dan itu lebih saya takuti karena saya harus empat kali mengalami take off dan landing dalam satu roundtrip. Pilihan lain dengan naik Thai Airways yang juga direct, tapi schedule-nya lebih memberatkan saya, karena harus berangkat sehari sebelum acara dan membuat saya harus berpisah dengan Dhara selama 4 malam. Ya Allah, please give me strength to do this. I’ve never been separated with her even for one night! Tampaknya kalau udah begini, saya harus pasrah, supaya Dia yang mengatur segalanya. Saya tetap meyakini bahwa takdir ada di tanganNya.

Tapi, boleh kan ya besok minum 2 tablet antimo sekaligus?

4 thoughts on “Aerophobic Traveler

  1. Pasrahkan kepada Allah swt…. sambil berdo’a memohon keselamatan ‘tuk yang pergi maupun yang ditinggal… InsyaAllah ananda (keluarga) yang ditinggal sehat2 dan baik2 aja; dan yang pergi juga demikian, selamat pergi dan kembali…. dan mama bantu do’a juga agar Dhara gak rewel selama ibunya pergi dinas.

    • mb, blogny menarik utk d bc, sy pemula bnget, mw sharing donk, utk travelling amatir ky aku, ak brencena mw pesan vouch hotel d KL melalui livinsoc, tp ak blm mgrti soal blog livsoc tsb, mksutnya, buka livingsocial.co.id tp ak mw liat vouc hotel KL. gmn cranya mb ? apa kt hny bs beli d blog tsb dg penawaran yg mreka sediain aja ? trus ak buka livsoc KL mreka ada nwarin vouc bbrpa hotel, tp ak bingung klo belinya kan pke RM, ak mw beli pk IDR gmn cranya mb ? please pncrahannya….

      • halo Sastri,

        salam kenal. makasih udh baca blog ku. saat ini lagi vakum lama di blog karena sibuk ngurus blog satu lagi http://magnificomaquillaje.blogspot.com, mampir2 ya kalau sempat.

        utk pertanyaan kamu, oke kita mulai dari apakah kamu udh booking tiket pesawat ke KL? kalau mau beli voucher di livsoc, pastikan kamu udh punya tiket di tangan. misalnya, kamu rencana traveling tgl 11-15 Mei 2014. hal pertama kamu cek masa berlaku voucher di livsoc, jangan sampai voucher expired sebelum itu. kedua, sepengalamanku beli di livsoc, setelah kamu proceed checkout dan beli, pilih metode transfer/bayar via atm. biasanya kamu dikasi 1x24jam utk melunasi pembayaran. sebelum bayar, kamu coba kontak hotel di KL yg vouchernya sudah kamu pesan itu lewat email atau telpon saja biar lbh cepat (pake XL murah kok, sekitar 600 rupiah per menit). kamu tanya apakah kamar jenis xxx yg kamu beli di livsoc available tgl 11-15 Mei 2014. kalau YA, info saja bahwa kamu akan beli voucher dari livsoc utk tanggal tsb dan akan segera info kembali ke hotel setelah kamu terima e-voucher lewat email. utk kali ini, email saja pihak customer service hotel utk konfirmasi. DONE.

        utk pembayaran yg kamu bilang pake MYR. setauku livsoc akan mengconvert ke IDR, selama kamu belanja di situs indonesia nya livsoc. telp CS nya livsoc kalau mau mastiin ya.

        kalau menurutku, kamu coba deh liat2 hotel di booking.com atau agoda.com, kalau mau backpacking mereka banyak referensi hostel. kalau pergi rame2 sama teman misalnya 4-5 orang, coba cari apartemen di daerah bukit bintang, murah dan dekat ke shopping places. coba googling ya. kalau agoda / booking.con mereka butuh pembayaran pake paypal atau kartu kredit. kalau kamu belum pegang kartu kredit, bis pinjam punya teman/kakak/ortu dan kamu bisa bayar cash ke mereka. semog membantu ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s