The After-Eid Phenomenon: Setback Or Advancement?

Image

There is a new phenomenon in the life of the people of Jakarta. Not just a phenomenon of the massive arrival of the villagers after Eid every year. Recently became one of the cities with the fastest economic growth, Jakarta is a magnet for anyone who wants a more prosperous life. All the little things, in Jakarta, can be honed into gold. It’s a city where, regardless to mention how the way to get, making money is easy.

As a young mother, a resident of the city who works from 8 to 5, with the task of taking care of the daughter after returning from office coupled with the tremendous traffic congestion in Jakarta, making the presence of household assistant (maid) or baby sitter (nanny) is a mandatory thing. Mandatory, when the option to not work and be a full-time mother becomes hesitancy in the demands of a housing, car and the decent life of the family. No exception, to buy the urban lifestyle, where coffee drinking in Starbucks and the iPhone are inevitable to purchase.

Unfortunately, today, we find there is no longer a domestic worker who is ready to work serving wholeheartedly as it did in a generation ago. Those who’ve worked up to a dozen or dozens of years without considering their salary increment from year to year, as long as they feel comfortable with the employer. They work in Jakarta while their husbands and children, living separated in the village. Even their children, once they grow as an adult, tend to work at the same employer. It became hereditary. But not anymore.

The modern maid have at least one mobile phone (should we blame or thank the Chinese?). In fact, not infrequently are entering the realm of Facebook and Twitter. Communication between them is all that easy, like we have. So do not be surprised, if the job information in one place or the other could be flowing profusely to them. Instant era makes them instantly will look for a higher paying job (or facility, or location) in the other, making them likely to survive on a single employer over a year is almost impossible.

“My friend works as Inval (temporary work during Eid holidays), do you need her to take care of your child during my return home?”, My nanny offered me one day. The salary for Inval is 150 thousand rupiahs per day, with minimum hire period of 10 days. It’s very high for the standard of a nanny. Suddenly I remember, my nanny once told that her friend was working elsewhere. “It’s common, that they pretended to go home but the truth is they are in Jakarta to offer services to employers who need Inval,” she continued, as I could only stunned.

My nanny who told so, did not even return home after Eid despite promises at the beginning is not so. While much work in the office waiting to be done after the long Eid holidays, I still had to deal with the supplier, plus, digging extra money from pockets because I ought to pay up more than a million rupiahs again.

Apparently, a high turnover not only occurred in the level of multinational corporations or international organizations. Is this a setback, because even elementary or junior high school graduates can now choose where to work in accordance with their wishes? Or this phenomenon simply reflects the maid’s demand and supply curves no longer balanced. One thing for sure, I am not among those who benefited.

Banjir

Selasa, 8 Agustus 2012. Bertepatan dengan hari ulang tahun ASEAN yang ke-45, saya jadi ingat bahwa seharusnya saya menyampaikan position paper tentang mekanisme partisipasi civil society di ASEAN, yang dibuat oleh teman Filipino saya. Saya kontak dia hari Minggu, untuk tanya apa paper sudah siap, dia bilang akan mengirmkannya ke saya besok (Senin, 7 Agustus 2012).

Saya baru tahu bahwa Selasa pagi, di berbagai media online, tersurat kabar bahwa banjir sedang melanda Filipina, tepatnya di ibukota Manila, di mana hampir 80% wilayahnya tergenang hingga ketinggian air 2 meter. Ini mengingatkan saya akan banjir musiman di Jakarta. Pada saat banjir besar di Jakarta tahun 2002, saya pulang dari sekolah ke rumah dengan berjalan kaki, melintasi air kotor campuran luapan sungai+sampah+limbah sepinggang saya. Ditambah lagi, dengan para ‘ojek’ gerobak yang semena-mena melakukan harassment kepada saya dan teman-teman saya yang berbaju putih dan memakai rok pendek selutut abu-abu yang seolah mengambang saat sedang melintasi banjir. Dalam kondisi seperti itu, apa yang bisa kita perbuat?

Banjir di Manila, kalau yang saya lihat dari foto-foto yang beredar di internet, tampak sangat parah. Puluhan ribu warga melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi. Gereja dijadikan tempat evakuasi, sementara rumah-rumah terendam tanpa bisa diselamatkan harta-benda yang ada. Inilah potret negara berkembang dengan pemerintahan yang korup. Kalau saya sering disangka etnis Filipino ketika sedang berada di negara tetangga, kadang saya pengen nyeletuk; yah, gakpapa, orang Indonesia dan Filipina memang mirip. Kedua negara mengklaim diri sebagai negara republik, mengusung demokrasi sampai aksi massa dan demonstrasi bisa berjalan bebas sampai menimbulkan rusuh, tapi pemerintahan berlaku ‘turun-temurun’, seolah tidak rela meninggalkan tahta kepemimpinan dan masih ingin keluarga yang ambil bagian. Hampir mirip dengan pemerintahan Pak Beye sekarang. Sedikit-sedikit angkat saudara, atau sepupu, atau ipar, untuk menjabat posisi strategis. Bahkan istri dan anak pun juga direncanakan untuk mendapatkan kursi di periode kepemimpinan selanjutnya, walaupun banyak kontra di mana-mana.

Ini bukan kali pertama Filipina dilanda banjir besar. Setahun yang lalu, banjir menewaskan hampir seribu orang. Kali ini, media melansir sudah lebih dari enam puluh korban akibat bencana typhoon tiga hari yang lalu dan sebagian tewas karena terendam banjir. Tapi tampaknya pemerintah tidak belajar dari situ. Lambatnya evakuasi dan penanganan bencana juga mengingatkan saya dengan Indonesia (kecuali penanganan bencana Merapi, saya acungi dua jempol terhadap masyarakat sekitar dan bantuan dari sukarelawan yang luar biasa). Ditambah lagi, sebagai wilayah kepulauan di Pasifik, Filipina juga rentan terkena bencana seasonal typhoon yang biasanya menewaskan ratusan orang. Kalau kondisi ini sudah terjadi terus-menerus, apa pemerintah tidak bisa merencanakan disaster preparedness dan early-warning system yang lebih baik? Paling tidak, untuk mengurangi korban tewas dan mempersiapkan tempat evakuasi bagi para pengungsi yang kehilangan rumah dan harta benda, dan untuk meminimalisir chaos saat banjir melanda.

Seharusnya ya, bisa. Tapi sayang, tingkat korupsi pemerintah Filipina masih di atas Indonesia. Data Corruption Perception Index (CPI) 2011 yang dikeluarkan oleh Transparency International, Filipina berada di urutan 129 dari 182 negara, dan di tingkat ASEAN hanya lebih baik sedikit daripada Laos, Kamboja dan Myanmar. Untuk negara republik yang masyarakatnya English-literate seperti Filipina, dan dengan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang lebih tinggi daripada Indonesia, hal ini adalah sebuah ironi.

Let’s pray for the Philippines. Semoga keadaan cepat membaik dan semoga pemerintah bisa lebih baik lagi mengatur negaranya.

Floods in Manila 2012

Floods in Jakarta 2007

Raya Raya

Barusan lihat satu op-ed di The Malaysian Insider. Topiknya tentang Lebaran, tapi di judulnya si penulis menamainya dengan Raya. Ah ya, saya baru ngeh. Raya itu kan artinya Lebaran untuk warga Malaysia. Si penulis bilang bahwa rata-rata pekerja di sana rebutan mengambil cuti panjang untuk pulang ke kampung halaman. Harga tiket pesawat pun melonjak 2-3 kali lipat. Dan setelah saya baca artikel sampai habis, memang ternyata orang Malaysia tidak ada bedanya dengan orang Indonesia. Bahwa kita ini memang benar serumpun, benar dari nenek moyang yang sama, dan benar mungkin ada beberapa kebudayaan yang sama. Tapi kenapa sih, gak pernah rukun?

Kadang-kadang, hal yang diberitakan di masing-masing negara tentang negara serumpun-nya itu suka lebay. Padahal, tingkat ketergantungan kedua negara cukup tinggi. Banyak pekerja buruh Indonesia yang mencari sesuap nasi di sana. Sejak tahun 2000-an, pekerja konstruksi/bangunan dari Indonesia berbondong-bondong ke sana. Darimana saya tahu? Saya dengar sendiri dari teman-teman waktu saya bekerja di salah satu perusahaan BUMN konstruksi, bahwa bekerja di Malaysia lebih menjanjikan daripada di sini. Jelas, karena living cost dan tingkat kehidupan mereka lebih baik daripada kita, jadi ya pasti standar gaji dan kesejahteraannya pun di atas kita. Saya juga aware, betapa banyaknya orang Indonesia yang melancong ke Malaysia. Jangan cuma sebut penduduk Jakarta, ada keterkaitan emosional dan historikal yang erat antara orang Medan dengan orang Penang, sebuah pulau kecil di bagian Barat Laut Malaysia. Dasarnya ya karena mereka sama-sama keturunan peranakan. Tidak heran, Airasia saja mempunyai frekuensi flight Medan-Penang lebih banyak daripada Jakarta-Penang. Waktu saya ke Penang, bandara penuh dengan orang Medan yang berbisnis di Penang. Tidak terkecuali orang-orang Sumatera lainnya seperti dari Palembang dan Jambi. Sebaliknya, orang Malaysia berbondong-bondong ke Bandung. Bandung ibarat surga belanja untuk mereka, karena notabene harga barang-barang di Malaysia lebih tinggi daripada di Indonesia. Alasan lain ke Bandung mungkin karena mereka juga tidak suka hiruk-pikuk dan kemacetan Jakarta, sementara di Bandung, lalu lintas kalau bukan weekend kan tidak terlalu padat. Belum lagi kuliner Bandung yang sangat menggoda. Jangan heran kalau masuk factory outlet di Bandung, banyak rombongan berbahasa Melayu walaupun tampang gak ada bedanya sama orang kita. Waktu ke KL kemarin, di Bandara LCCT saya ketemu dan ngobrol sama beberapa orang Malaysia yang habis ngeborong berkoper-koper dari Bandung.

Akhir Mei lalu, saya pergi ke KL beserta suami dan anak. Agak banyak juga yang mempertanyakan, kok Dhara dibawa ke KL sih? Kan lebih enak ke Singapore? Bisa ke Sentosa Island, main di Universal Studio, bla bla bla, dan seterusnya. Saya bilang, saya bosan ke Singapore. Weits, bukan nyombong, selama 27 tahun saya hidup, saya baru 3x kok ke Singapore. Cuma entah kenapa, setiap kali ke sana, bawaannya bosan. Rasanya Singapore cukup dikunjungi dalam waktu 2 hari. Kalau lebih, malah bosan. Apalagi, saya masih Indonesia banget. Gak kuat jalan kaki jauh-jauh. Haha. Jadi, apa kabarnya kalau bawa Dhara ke Singapore dan sebentar-sebentar naik taksi? Bangkrut kan jadinya? 😀 Alasan kedua, karena Dhara masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu Universal Studio. Alasan ketiga, gak tau kenapa, saya pengen aja ke KL lagi setelah kunjungan pertama tahun 2006 lalu. Kayaknya kok banyak yang saya belum explore di KL. Dari Jakarta, saya udah booking segala sesuatunya. Kami punya empat hari di sana, dan saya putuskan bahwa kami menginap di apartemen, karena Dhara masih harus makan makanan home-made. Persiapan traveling saat itu luar biasa repot. Saya sampai bawa-bawa panci segala untuk masak, jaga-jaga kalau di apartemen gak ada panci walaupun ada pantry. Saya dapat info apartemen setelah cari-cari di situs Google. Apartemen Fahrenheit, di kawasan Bukit Bintang. Good one. Harganya cuma 100 RM pula semalam. Murah, meriah, muntah. Tapi dasar saya maunya sok elit, saya takut apartemen tidak sesuai harapan (kotor lah, bau lah, jijik lah, jauh lah), akhirnya saya booking hotel untuk malam terakhir. Rencananya, di hari ke-3, kami cuma jalan-jalan seputar KLCC aja, gak usah jauh-jauh, mengingat pesawat kami pulang ke Jakarta juga jam 1 siang, berarti harus check out agak pagi dari hotel dan pagi itu jelas gak bisa ngapa-ngapain. Setelah browsing di Agoda, saya jatuh cinta dengan Traders Hotel by Shangrila, hotel second line dari grup Shangrila yang harganya lumayan (lumayan nguras dompet, maksudnya). Tapi yasudahlah, kalau di-total untuk akomodasi 3 malam, jatuhnya tetap masih affordable.

Sesampainya di apartemen, saya terkesima luar biasa. Memang apartemennya standar, dengan satu queen-sized bed dan satu single bed. Di dalamnya ada TV, tapi kamar mandi harus sharing dengan 2 kamar lain. Tapi lokasinya betul-betul mengejutkan saya. Letaknya persis di belakang mal. Saya hanya cukup jalan 30-40 meter untuk masuk ke mal tersebut, dan 50 meter jalan ke Sephora. Aaah, surga 😀 Berkali-kali saya titip suami waktu ke Hongkong untuk beliin saya make-up palette Too Faced yang ada di Sephora, tapi dia gak nemu-nemu karena waktunya sempit. Eh, ini Sephora di depan mata 🙂 Apartemen kami letaknya juga cuma 100 meter dari Pavilion Mall, mal terbaru di kawasan tersebut yang isinya kurang lebih sama seperti Grand Indonesia. Kawasan Bukit Bintang juga sangat rapih, dibuat dengan konsep Orchard Road yang kiri-kanan berjejer mall, hotel, butik dan cafe (tertunya dengan harga sedikit lebih miring daripada di Orchard Road). Yang mengejutkan saya lagi adalah, bahwa tingkat kedisiplinan orang Malaysia dalam menyeberang juga sudah mirip orang Singapore. Menyetir mobilpun mereka gak sembarangan seperti di sini. Jadi, pejalan kaki bisa merasa nyaman dan aman.

Suasana jalan di Bukit Bintang

Nyamannya berjalan-jalan

Di depan Mall Pavilion

Aaaa….Sephora!

Hari pertama, saya ajak Dhara ke Berjaya Times Square, yang jauhnya sekitar 400 meter dari apartemen kami, di mana terdapat the largest indoor theme-park in Malaysia. Bukan sesuatu, sih, tapi karena kali ini udah diniatin jalan-jalan buat Dhara, ya pasti kita cari sesuatu yang possibly excites her. Dan ternyata memang sangat besar tempatnya. Terdiri dari tiga lantai, yang sudah diklasifikasikan untuk setiap golongan umur. Lantai paling bawah adalah khusus untuk toddler dan anak balita, dengan permainan yang simpel dan dekorasi yang colorful, lengkap dengan nursing room yang besar. Wow, salut! Pantesan harganya lumayan mahal, 80 RM per orang, tapi gak masalah karena sebanding dengan fasilitasnya yang lengkap.

Berjaya Times Square

Hari berikutnya, saya mengurung niat ke Genting, dengan pertimbangan Dhara juga tidak akan nyaman dengan lamanya perjalanan yang melelahkan. Akhirnya saya putuskan pagi itu untuk pergi ke Sunway Lagoon, dan kemudian sorenya kalau masih sempat kita mampir ke Butterfly Park. Perjalanan ke Sunway tidak terlalu jauh. Sekitar 100 RM dengan taksi. Tapi lagi-lagi jiwa avonturir saya dan suami muncul, kita nekat pergi dengan MRT (yang namanya KTM) sampai ke Subang, stasiun terdekat dari Sunway. Sampai sana, kita baru nyambung taksi. Taksi di Malaysia memang sebagian besar tidak pakai argo, tapi supir-supirnya cukup ramah dan bisa berbahasa Inggris sehingga memudahkan percakapan. On the way ke Sunway Lagoon, dia banyak bercerita soal tempat-tempat wisata di seputar KL. Setiap melewati bangunan tertentu, dia pun bisa menceritakan sejarah atau sekilas tentang bangunan tersebut. Dhara benar-benar menikmati Sunway Lagoon sampai sore. Selain mempunyai kolam renang yang menyerupai pantai lengkap dengan pasir buatan dan arus ombak buatan, Sunway Lagoon juga punya semacam kebun binatang yang jenis varian hewannya membuat saya sakit hati. Di Jakarta, Ragunan atau bahkan Taman Safari, hewannya tidak seberagam ini. Tempatnya pun luar biasa bersih tanpa sampah, dan beberapa unggas dibiarkan jalan berseliweran di jalan kita. Bahkan, di butterfly farm, kupu-kupu bebas beterbangan mengelilingi kita. Cantiknya! Masih kepikir, kenapa di Jakata gak bisa dibuat tempat serupa???

Swimming like a pro 😀

Burung berseliweran

Dhara gak takut kupu-kupu!

Hari udah menunjukkan jam 4 sore saat saya memaksa Dhara keluar dari kolam renang. Dia nangis meraung-raung, karena sangat menikmati berenang di sana. Walaupun cukup ramai, tapi masing-masing orang tahu diri untuk tidak berenang ‘serius’ dan nabrak-nabrak orang lain. Air kolam hangat, tidak dingin, ini yang membuat Dhara betah sekali berenang mengapung dengan life-vest ungu yang saya beli seharga 50 RM di salah satu toko di sana. Tiket Sunway memang agak mahal, sekitar 80 RM per orang untuk 3 park dan 100 RM untuk 5 park. Karena Dhara tidak mungkin masuk ke Extreme Park dan Scream Park, jadi kami hanya beli tiket untuk Water Park, Wildlife Park and Amusement Park. Setelah berenang dan mandi, Dhara langsung minta susu dan tidur pulas 🙂 Ya sudah, ke Butterfly Park nya jadi terasa gak perlu, kan sudah lihat banyak kupu-kupu di Sunway.

Keesokan harinya, kami check out dari apartemen untuk menuju ke Traders Hotel. Setelah packing barang-barang hasil borong dari Sephora, Mothercare, Unilqlo dan Body Shop (anehnya saya sama sekali gak beli Vincci!), kami bergegas ke Traders. Traders Hotel letaknya persis menghadap Petronas Twin Tower. Kalau jalan jauhnya sekitar 700 meter, tapi kita bisa jalan dengan teduh dan nyaman melewati Convention Center, tidak harus lewat taman di luar. Saya heran karena di KL saya menemukan kenyamanan dan kemudahan di mana-mana. Harga hotel per malam 420 RM, dengan free shuttle (seperti mobil golf) ke Suria KLCC at every 15 minutes. Lagi-lagi saya ‘dipaksa’ belanja ke mal. Hehe. Tapi tujuan kami dari awal bukan Suria KLCC, melainkan Aquaria, sejenis Sea World di Indonesia. Ternyata, Aquaria justru jaraknya lebih dekat lagi dari Traders. Benar-benar menyenangkan, seperti tinggal di dalam satu tempat yang one-stop entertainment, mixed between business and leisure. Hebat deh konsepnya mereka. Aquaria, more or less, memang seperti Sea World, tapi varian ikannya lebih banyak dan atraksi yang lebih menarik untuk pengunjung (misalnya, feeding the Piranha atau sleep with Sharks). Tiket masuk 45 RM per orang. Pengunjung tidak diperkenakan makan dan minum di dalam, dan ini benar-benar membuat Aquaria bersih dan nyaman.

Depan replika Shark

Giant Aquarium

Keesokan harinya, saat berangkat ke LCCT, kami kembali memanggil taksi yang kami tumpangi sepulangnya dari Sunway Lagoon ke Bukit Bintang. Namanya Pak Abdul, keturunan Arab. Ramah dan baik sekali. Kami mendapat harga 70 RM untuk taksi dari KLCC ke LCCT. Di perjalanan, dia menawarkan untuk mampir dulu ke Putrajaya. betapa ia membanggakan pemerintah dengan adanya kota pemerintahan di Putrajaya, sehingga aktivitas pemerintahan bisa dipusatkan di satu tempat. Putrajaya kosong saat itu karena hari Minggu. Kantor-kantor dengan bangunan modern berjejer di kiri-kanan, termasuk mess seperti apartemen kelas menengah, sebagai tempat tinggal para pegawai pemerintah dari Senin-Jumat. Dia menawarkan untuk memfoto kami di depan jembatan Putrajaya yang menjadi icon, kemudian meneruskan perjalanan ke LCCT sambil bercerita. Anak pertamanya hampir lulus dari fakultas kedokteran. Pemerintah yang membayar seluruh biayanya, dengan catatatan selepas lulus, dia harus bekerja dan membayar sebagian gajinya untuk pemerintah, dalam beberapa tahun pertama. Itu membuatnya bersyukur, karena mana mungkin dia mampu menyekolahkan anaknya di sekolah dokter kalau harus dibayarkan di awal?

Ah, kalau saja sistem di Indonesia bisa dibuat seperti itu, paling tidak untuk anak-anak pintar yang berasal dari keluarga kurang mampu bisa mendapat kesempatan yang sama dan bisa meraih cita-citanya. Sekarang saya baru sadar, bahwa walaupun pemerintah Malaysia masih otoriter dan represif terhadap rakyatnya, tapi toh seorang supir taksi saja masih bisa bersyukur dan hidup tenang tanpa memikirkan biaya sekolah anak yang luar biasa mahal. Apakah selamanya pemerintah mereka lebih buruk dengan pemerintah Indonesia yang disebut-sebut demokratis dan menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi, tapi rakyatnya mengais-ngais BLT dan sembako murah untuk bisa makan?

Saya jadi ingat iklan provider seluler 3 (three). Dia bilang kebebasan itu tanpa batas. Cukup 50 ribu rupiah untuk akses gratis selama setahun ke 10 situs favorit. See what I’m saying? Akses gratis selama setahun ke 10 situs. Jadi kalau saya mau akses ke situs ke-11 atau ke-12, bayarnya nambah lagi, dong. Lha, apanya yang bebas? 

Petronas Twin Tower dari jendela hotel