Constructing Restrictions

Saya minta maaf sedalam-dalamnya kepada bos saya di Bangkok, karena pada saat ini seharusnya saya tengah mendengar presentasi tentang academic freedom, dan harga menjadi peserta pada two days international conference ini 80 dolar, but my mind is going elsewhere.

And suddenly I had a thought about this. Salah satu panelis yang membawakan presentasi di depan ternyata seorang doktor. Padahal umurnya, kelihatannya, paling baru 29-30, setahun dua tahun di atas saya. Kaget sih enggak, because I know she’s not alone who had successfully pursued her doctoral degree, there are many others outside this room, who have dedicated their life into education and science.

Dedicate to what?

Education, and science. Tiba-tiba saya jadi ingat anak saya di rumah. I’m surely not a person who’s willing to do so. I’m not likely dedicating myself into something that are lifeless.

Justifikasi? Tidak. Saya bukan orang yang tidak peduli akan sekolah dan pendidikan. Gini-gini, semasa sekolah saya langganan ranking 1 *sombong abis*. Intinya bukan itu. I just feel like, after I get married and having one child, the need to have me around and spend time with them is greater than my need to continue pursuing my master.

Secara presentase, 80% dari teman seangkatan saya saat kuliah sudah kelar S2, bahkan sebagian juga lagi sekolah S3, kalau gak salah (pardon me, for being too ignorant). Hampir semua dapat beasiswa, bahkan tidak satupun rasanya yang pakai biaya sendiri. Hampir semua lulusan luar negeri; US, UK, Sweden, Aussie, you name it. Ketika itu banyak yang nanya kenapa saya gak ikut-ikutan cari beasiswa. Alasan saya; (selain saya memang gak suka berada dalam mainstream), saya mau kerja dulu dan punya penghasilan sendiri. Mana saya pernah berencana kalau saya ternyata menemukan pendamping hidup dan commited di usia 24 jalan 25? Well, cita-cita saya semasa kecil, saya kawin umur 30, paling cepet, karena saya mau jadi career woman seperti mama saya yang pakai sepatu dengan hak 7cm ke kantor dan rok mini (kalau ini mama saya gak pernah, tapi murni cita-cita saya aja :D)

Nah, ternyata, setelah menikah, ada aja pertimbangan lain mengalahkan urusan kuliah dan ambil S2. Mau punya rumah sendiri lah, mau dapet kerja yang lebih settle lah, mau jalan-jalan dan traveling melulu lah, sehingga kemalasan untuk daftar beasiswa itu makin menjadi. Oh yah, dan pertimbangan terbesar untuk berpisah sama suami juga ikut menyurutkan niat sekolah lagi. I’m not an LDR person at all, gak bisa rasanya pisah lama-lama sama suami (walaupun seringan berantemnya kalau ketemu tiap hari). Nah, pada satu titik saya justru merasa siap jadi Ibu dan punya anak (oke, walaupun kenyataannya saya belum bisa jadi Ibu yang baik karena masih suka ngedumel kalau anak saya ngajak main dan nonton DVD di jam satu pagi), dan setelah saya mendapatkan apa yang saya inginkan, justru saya merasa sedikit ter-alienasi karena merasa ‘tinggal saya yang masih megang ijazah S1’. Crap!

Memasuki pekerjaan baru yang sangat serius (betul, ini titel pekerjaan paling tinggi yang pernah saya punya), di mana orang-orang yang harus jadi lawan interaksi saya sehari-hari adalah para expert dengan otak cemerlang, saya merasa sedikit ter-underestimate karena mereka tahu gelar saya masih S1 tapi titel saya gak merepresentasikan itu. Mau marah, percuma. Paling kesel-kesel aja. Mereka toh gak tau what I have been through sampai ke titik ini. Jadi, maklum kalau pada sok tau. Di saat inilah, mental saya seperti dicambuk. Well, I know that I might not have a strong background to compare to you. But this is me. They appointed me to do these job. As simple as that, ya. Gak usah komplen, titik. Saya akan jalan terus selama jalan itu ada di depan saya.

Kadang saya suka tanya sama diri sendiri: “beneran gak mau lanjut S2 mumpung masih muda?”

“Enggak. Kalaupun iya, saya gak mau pakai biaya sendiri. Jadi pilihannya cuma beasiswa. Dan beasiswa, apparently, justru lebih gampang didapat untuk sekolah di luar negeri. Saya tidak sanggup. Concern saya bukan lagi karena harus LDR sama suami, tapi bagaimana harus pisah sama anak saya walaupun cuma setahun. Gak akan sanggup. And that will also leave me feeling guilty all my life, if I’d ever passed the golden period of her life. Jangankan pisah setahun, kerja pulang malem dikit aja saya merasa bersalah karena dia harus lebih banyak bercengkrama dengan si Mbak dibandingkan dengan saya.

As a wife and a mom, my world seems limited and not limitless. But it’s me who proudly constructing it. And, even though I still hold one academic title after my name, I feel so all content without fear of being separated with my loved ones. Enough said.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s