The Art of Lying

Monday morning and I’m totally fed up.

Menjelang akhir bulan, saya tahu semua provider HP saya sudah teriak-teriak diisiin pulsa supaya bisa memperpanjang paket blackberry, paket hotrod, paket modem unlimited, dan lain sebagainya. Biasanya, kalau sedang berkantor di Bidakara, saya dengan gampang lari ke ATM, karena bank apa saja ada di sana. Beberapa minggu terakhir, saya tidak ke Bidakara. Saya juga paling malas menyempatkan diri ke ATM ketika pulang kantor, karena saya adalah tipikal orang yang sangat eager pulang ke rumah langsung dan peluk-pelukan sama si kecil, gak seneng mampir-mampir karena akan ngabisin waktu yang, menurut saya, tidak terlalu penting.

Jadi Jumat lalu saya membeli pulsa secara elektrik di warung pulsa sebelah kantor. Yang jual ibu-ibu usia 30-an. Punya anak kecil yang tampangnya miris. Suaminya tukang ojek yang mangkal di sebelah kantor saya juga. Nah, karena saya males ribet, saya membeli pulsa XL, SmartFren dan Axis masing-masing 100 ribu rupiah. Total bayar 323.000, entah kenapa jadi mahal sekali kalau beli elektrik, tapi yasudalah. Saya pikir, ini toh saya charge ke kantor karena rata-rata pemakaian untuk urusan kantor.

Sampai malamnya, pulsa Axis saya belum juga masuk. Saya bingung dan mbak penjual itu saya SMS. Dia bilang, pulsa sudah sukses masuk. Lalu di forward saya SMS yang menunjukkan bukti pulsa masuk tersebut ke nomor 0838 15xx xxxx. Oh ya, pantes aja, nomor saya 0838 13xx xxxx kok. Waktu saya konfirmasi begitu, dia bilang tulisan saya adalah nomor yang benar dia masukkan (ketika saya mau beli voucher elektrik, saya diminta menulis sendiri nomor HP saya di buku besar catatan si mbak). Saya salah? Kayaknya saya sudah cek kembali tulisan saya sampai 2-3 kali waktu itu. Tapi yasudalah, bukan gak mungkin saya salah dong? Si mbak penjual bilang: “besok diliat aja mbak, mbak nulisnya memang nomor itu.” Oke, gak masalah, kalau memang saya yang salah.

Pagi ini saya datang ke warung pulsa dan penasaran dengan tulisan saya yang salah. Dia dengan PD dan yakin bilang “tuh kan, angka 5 mbak” sambil menunjuk ke tulisan saya. Yah, pada akhirnya saya yang cuma bisa diam. Angka 5 yang tertera disitu jelas ‘bikinan’. Tadinya angka 3, cuma untungnya si angka 3 kurva atasnya gak jelas, dan si mbak penjual menambahkan sedikit garisnya ke samping menjadi angka 5.

Saya gak bodoh sih, tapi rasanya malah jadi bodoh kalau berdebat bahwa si mbak penjual bohong. Mengingat mungkin memang dia tidak sengaja dan ketakutan saya minta ganti uangnya. Mengingat anak si mbak yang bertampang miris, mengingat kehidupannya yang mungkin tidak seberapa beruntung, yasudahlah, saya diam. Saya baru saja membiarkan orang berbuat bohong dan tidak mengakui kesalahannya. Kalaupun dia mengakui dan minta maaf, saya juga gak bakalan minta ganti. Tapi, yah, mungkin memang berbohong sudah menjadi salah satu cara untuk bertahan hidup bagi sebagian orang. 

 

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s