Indigo

Lately, saya takut. Beberapa hal yang sempat melintas di alam bawah sadar saya, tiba-tiba berubah jadi kenyataan. Padahal, saya bukan orang yang punya ‘feel’ bagus. Biasanya kalau mikir A, kejadiannya malah Z. Tapi kenapa tiba-tiba jadi seperti anak indigo begini?

Pertama, waktu nonton ajang Miss Indonesia secara gak sengaja karena nemenin adik ipar di kamarnya sambil menyusui Dhara. Di awal acara, satu persatu kontestan disorot dan diiklankan, sambil sponsor meminta pemirsa televisi untuk memilih kontestan favoritnya lewat voting SMS. Entah gimana caranya, saya melihat kontestan Kalimantan Barat paling keluar auranya. Dan anehnya, benar dia yang akhirnya jadi juara.

Firasat kedua, waktu saya sedang beli Bread Talk buat Dhara. Ketika lagi asyik menaruh roti ke nampan, tiba-tiba saya lihat ada seekor lalat terbang di antara roti-roti tersebut. Hiyy, lantas saya bergidik. Membanyangkan Dhara muntah-muntah setelah makan roti itu. Karena sudah terlanjur megang nampan, akhirnya saya beli sliced soft cake yang terbungkus plastik, supaya ada jaminan bahwa si lalat tidak mungkin menodai kue itu. Tapi besoknya, setelah Dhara makan kue itu 2 gigit paginya, dia betulan muntah di siang harinya. Entah kebetulan (lagi) atau tidak, yang jelas saya sempat dibuat panik takut-takut Dhara kena infeksi thypus.

Yang ketiga, waktu kemarin ibu mertua saya mau pergi ke pesta pernikahan anak temannya. Ibu saya itu baru operasi lutut dua minggu yang lalu, dan jalannya juga sebetulnya masih harus dibantu tongkat. Mungkin karena keinginannya besar untuk pergi (kalau gak salah dia panitia berseragam juga), dia menyiapkan diri sebaik-baiknya dan sepasang sepatu pesta berhak sekitar 3cm sudah terpajang di balik pintu. Firasat saya langsung jelek. Kok lagi sakit dan gak bisa jalan mau pakai sepatu hak, kenapa gak pakai flat shoes aja. Toh semua orang di sana juga pasti akan ‘ngertiin’. Gak lama, baru turun anak tangga pertama dari lantai atas rumah, tiba-tiba bunyi keras seperti tulang patah. Sedetik kemudian, kakinya kaku gak bisa digerakkan. Akhirnya, pergi ke pesta batal, dan dia harus naik kursi roda kembali ke kamar. Astaga, masa firasat kali ini betul lagi???

Ini hari kedua terakhir saya meninggalkan kantor ini. Ah, yang namanya pindah kantor sih udah biasa. Tapi kali ini, saya belum punya kantor baru. Saya sudah gak sanggup karena kerja di sini kebanyakan capek hati. Kantor baru, insyaallah bisa dicari. Minggu lalu saya mengalami interview paling tough sepanjang sejarah. Di awal, waktu diundang ewat telepon, saya membatin. Saya harus lolos, karena saya ingin pekerjaan ini (bukan asal ingin, tapi secara lokasi kantor, salary dan scope organisasi, ini akan lebih besar dari pekerjaan sekarang). Saya coba datang jam 9 (janji interview jam 10) dan browsing di ruang tunggu. Apapun yang bisa memperkaya penguasaan materi saya. Syukurlah, interview berjalan lancar selama 75 menit. Ditambah written test 90 menit, saya sampai kelaparan karena harus selesai jam setengah dua siang. Saya juga dapat respon positif pasca interview, jadi bolehlah berharap sedikit lebih banyak kali ini.

Dalam pikiran saya, saya bisa melihat bahwa saya akan berkantor di sana. Tapi entahlah, namanya juga manusia, gak bisa lepas dari faktor luck toh? Mungkin aja bakat indigo saya kemarin cuma kebetulan.

2 thoughts on “Indigo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s