Job Less and Do More

Seorang sepupu saya yang agak kepo kemarin sempat bertanya: “Jadi, sekarang elo gak ngapa-ngapain Tan? Jadi ibu rumah tangga aja?”

Iya betul, saat ini saya sedang menikmati bagaimana rasanya jadi ibu rumah tangga setelah saya kembali bekerja non-stop sejak Dhara berumur 5 bulan, November 2011 silam. Tapi saya gak setuju sama sekali dengan asumsi ‘gak ngapa-ngapain’ yang dilontarkan sama sepupu saya itu. Justru dengan waktu yang sungguh leluasa seperti sekarang, saya bisa dengan bebas survey bahan-bahan untuk mendekorasi apartemen saya. Baru kali ini saya tahu apa itu parquetted, bagaimana melapis keramik di atas keramik dengan semen mortar, bagaimana memilih bahan vinyl yang baik dan anti bakteri, dan hunting cari wallpaper murah tapi berkualitas yang bikin saya puas karena bisa ‘mengalahkan’ proposal pemasangan wallpaper dari design interior yang saya sewa dan menghemat berjuta-juta rupiah.

Waktu yang luar biasanya banyaknya ini juga saya manfaatkan untuk belajar menyetir. Saya udah pernah les nyetir dua kali; tahun 2002 dan tahun 2010, tapi ujung2nya gak kepake karena memang saya lebih suka disupirin daripada nyupir sendiri. Karena beberapa minggu terakhir suami sering sekali tugas ke luar kota, saya gatel banget liat mobil kami terparkir dengan manisnya di garasi tanpa bisa dimanfaatkan dengan baik. Lebih bodohnya karena kemana-mana saya ngandelin kendaraan umum atau taksi. Hah, come on lah, masa iya sih, hari gini, ibu anak satu kayak saya sampe gak bisa nyetir sama sekali??? Berangkat dari statement tersebut, akhirnya saya memberanikan diri mengajak anak saya dan ditemani babysitter untuk belanja ke Giant. Sukses. Sukses keluarin mobil dari garasi, sukses parker, sukses masukin lagi mobil ke garasi. Second trial, waktu minggu kemarin saya harus datang ke acara adat keluarga di daerah kebayoran baru. Karena saya tahu acaranya bajal terlalu membosankan untuk Dhara, saya bilang sama suami bahwa sebaiknya dia dan Dhara saya drop aja di suatu tempat dan saya akan bawa mobilnya ke rumah saudara saya. Akhirnya kami putuskan untuk drop Dhara dan ayahnya di FX supaya Dhara bisa main air di Giggle. Udah lama sekali Dhara kepingin main ini, tapi tiap ke sana kondisi badannya selalu lagi gak fit 100%.  Entah lagi pilek, atau memang nyampe sana udah kemaleman sehingga rasanya gak baik main air malem-malem walaupun indoor. Jadilah saya bawa mobil dengan rute FX-Pakubuwono-FX-Pakubuwono-FX. Yes, sampe dua putaran karena sepatu si Dhara dan member card Giggle-nya sempat ketinggalan di mobil saat saya sudah berhasil landing di Pakubuwono (dengan deg-degan karena gak punya SIM tapi nekat melintasi daerah sudirman-senayan) yang pertama kalinya.

Percobaan ketiga adalah percobaan super nekat kemarin siang. Saya memang kemarin perlu ke PIM karena salah satu sahabat saya minta saya menjadi beauty consultant-nya, alias membelikan dan memilihkannya seperangkat make up untuk girls night out di Bali, mengingat dia masih sangat amatir dalam dunia per-make-up-an. I was really excited to assist her. Dan karena kantor suami saya berlokasi di Pondok Pinang, jadilah saya bilang bahwa saya akan ikut dia pagi-pagi dan akan mampir sarapan sebentar di daerah Pondok Indah sambil menunggu PIM buka. Lalu jam 12 siang kita janjian ketemu di PIM untuk pulang bareng. Dan ya, setelah sampai di kantor suami, saya melanjutkan rute ke McD Plaza Pondok Indah. Great, saat itu kondisi lalu lintas padat merayap dari arah lebak bulus ke pondok indah (yaiyalah, jam setengah 8 pagi, gitu) and it was the biggest challenge I’ve ever had. Setelah makan dan browsing di McD sampai jam setengah sepuluh, saya menyetir mobil ke PIM. Masuk kewat PIM 2, saya masuk ke tempat parkir mencoba skill parkir saya di daerah ladies parking. And I did it. Iya saya tau kondisi parkiran mall saat jam 10 pagi pasti masih kosong melompong, but at least I tried. Memulai sesuatu dari yang paling gampang itu gak dosa, kan?

Nah, kalau dipikir-pikir, saya kurang produktif apa? Masih bisa bilang saya gak ngapa-ngapain? Aduh, memang kayaknya makin ke sini, orang makin sering berpikiran picik dan sinis terhadap orang lain, ya. Senang melihat ‘penderitaan’ orang dan rasanya gimana gitu kalau bisa ‘menjatuhkan’ orang dan kemudian merasa ‘menang’. Atau mungkin saya aja yang lagi super sensi karena kemarin memang lagi dapet hari pertama? Hahaha…atau karena baru-baru ini sempet kecewa karena seorang teman yang bener-bener saya anggap teman, bermain kucing-kucingan di belakang saya dalam urusan pekerjaan, saat saya sudah memercayainya 100% dan selalu terbuka tentang apa yang saya lakukan. Entahlah. Saya saat ini cuma sampai pada kesimpulan; “never jeopardize your life to an untrusted friend”. Sedih karena kehilangan teman, but think again, does she worth my genuineness?

Dan untuk urusa pekerjaan ini, saya lagi kehilangan gairah dan nafsu. Sama sekali gak eager buat cari pekerjaan baru. Kadang ini memang terjadi kalau pekerjaan sebelumya (yang terakhir) menyisakan trauma yang luar biasa. Gawat ini. Kalau saya kelamaan di rumah, Dhara justru jadi semakin manja (iyalah, biasanya ditinggal pagi-sore, sekarang kapanpun bisa ketemu). Apalagi, saya jadi mesti hemat-hemat belanja kebutuhan tersier alias barang-barang yang kurang penting (menurut saya) atau barang yang gak berguna (menurut suami saya). Saya jadi harus mengerem browsing-browsing ke online store. Walaupun saat ini saya masih browsing online store untuk cari barang-barang lucu untuk melengkapi dekor di apartemen, tapi jelas saya harus menahan nafsu saat online store langganan saya lagi kasih promo 10% off buat seluruh make up plus 5% untuk customer tertentu (termasuk saya).

Bad timing bener ngasih promo. Nyebelin.

Advertisements

Constructing Restrictions

Saya minta maaf sedalam-dalamnya kepada bos saya di Bangkok, karena pada saat ini seharusnya saya tengah mendengar presentasi tentang academic freedom, dan harga menjadi peserta pada two days international conference ini 80 dolar, but my mind is going elsewhere.

And suddenly I had a thought about this. Salah satu panelis yang membawakan presentasi di depan ternyata seorang doktor. Padahal umurnya, kelihatannya, paling baru 29-30, setahun dua tahun di atas saya. Kaget sih enggak, because I know she’s not alone who had successfully pursued her doctoral degree, there are many others outside this room, who have dedicated their life into education and science.

Dedicate to what?

Education, and science. Tiba-tiba saya jadi ingat anak saya di rumah. I’m surely not a person who’s willing to do so. I’m not likely dedicating myself into something that are lifeless.

Justifikasi? Tidak. Saya bukan orang yang tidak peduli akan sekolah dan pendidikan. Gini-gini, semasa sekolah saya langganan ranking 1 *sombong abis*. Intinya bukan itu. I just feel like, after I get married and having one child, the need to have me around and spend time with them is greater than my need to continue pursuing my master.

Secara presentase, 80% dari teman seangkatan saya saat kuliah sudah kelar S2, bahkan sebagian juga lagi sekolah S3, kalau gak salah (pardon me, for being too ignorant). Hampir semua dapat beasiswa, bahkan tidak satupun rasanya yang pakai biaya sendiri. Hampir semua lulusan luar negeri; US, UK, Sweden, Aussie, you name it. Ketika itu banyak yang nanya kenapa saya gak ikut-ikutan cari beasiswa. Alasan saya; (selain saya memang gak suka berada dalam mainstream), saya mau kerja dulu dan punya penghasilan sendiri. Mana saya pernah berencana kalau saya ternyata menemukan pendamping hidup dan commited di usia 24 jalan 25? Well, cita-cita saya semasa kecil, saya kawin umur 30, paling cepet, karena saya mau jadi career woman seperti mama saya yang pakai sepatu dengan hak 7cm ke kantor dan rok mini (kalau ini mama saya gak pernah, tapi murni cita-cita saya aja :D)

Nah, ternyata, setelah menikah, ada aja pertimbangan lain mengalahkan urusan kuliah dan ambil S2. Mau punya rumah sendiri lah, mau dapet kerja yang lebih settle lah, mau jalan-jalan dan traveling melulu lah, sehingga kemalasan untuk daftar beasiswa itu makin menjadi. Oh yah, dan pertimbangan terbesar untuk berpisah sama suami juga ikut menyurutkan niat sekolah lagi. I’m not an LDR person at all, gak bisa rasanya pisah lama-lama sama suami (walaupun seringan berantemnya kalau ketemu tiap hari). Nah, pada satu titik saya justru merasa siap jadi Ibu dan punya anak (oke, walaupun kenyataannya saya belum bisa jadi Ibu yang baik karena masih suka ngedumel kalau anak saya ngajak main dan nonton DVD di jam satu pagi), dan setelah saya mendapatkan apa yang saya inginkan, justru saya merasa sedikit ter-alienasi karena merasa ‘tinggal saya yang masih megang ijazah S1’. Crap!

Memasuki pekerjaan baru yang sangat serius (betul, ini titel pekerjaan paling tinggi yang pernah saya punya), di mana orang-orang yang harus jadi lawan interaksi saya sehari-hari adalah para expert dengan otak cemerlang, saya merasa sedikit ter-underestimate karena mereka tahu gelar saya masih S1 tapi titel saya gak merepresentasikan itu. Mau marah, percuma. Paling kesel-kesel aja. Mereka toh gak tau what I have been through sampai ke titik ini. Jadi, maklum kalau pada sok tau. Di saat inilah, mental saya seperti dicambuk. Well, I know that I might not have a strong background to compare to you. But this is me. They appointed me to do these job. As simple as that, ya. Gak usah komplen, titik. Saya akan jalan terus selama jalan itu ada di depan saya.

Kadang saya suka tanya sama diri sendiri: “beneran gak mau lanjut S2 mumpung masih muda?”

“Enggak. Kalaupun iya, saya gak mau pakai biaya sendiri. Jadi pilihannya cuma beasiswa. Dan beasiswa, apparently, justru lebih gampang didapat untuk sekolah di luar negeri. Saya tidak sanggup. Concern saya bukan lagi karena harus LDR sama suami, tapi bagaimana harus pisah sama anak saya walaupun cuma setahun. Gak akan sanggup. And that will also leave me feeling guilty all my life, if I’d ever passed the golden period of her life. Jangankan pisah setahun, kerja pulang malem dikit aja saya merasa bersalah karena dia harus lebih banyak bercengkrama dengan si Mbak dibandingkan dengan saya.

As a wife and a mom, my world seems limited and not limitless. But it’s me who proudly constructing it. And, even though I still hold one academic title after my name, I feel so all content without fear of being separated with my loved ones. Enough said.

Twitter Trouble

Geli kalau inget kemarin sempet bersitegang sama orang lewat twitter. Saya bukan twitter-person, yang setiap sepuluh menit sekali nge-twit. Buat saya nge-twit sesuatu itu harus ada maknanya, atau ada tujuannya. Nah, sekarang, mana bisa bikin kalimat bermakna dengan 140 karakter yang tersedia? Buat saya, that doesn’t make any sense. Dan itu yang membuat saya sampe sekarang masih stick my heart to facebook.

Nah, karena saya gak pernah buka twitter itulah, pas sekali-sekalinya saya buka, saya lihat ada tweet emosional seseorang yang sepertinya ditujukan ke saya. Saya agak kepancing, langsung saya buat tweet di page saya sendiri. Saya pikir, toh kalau memang tweet orang itu bukan tertuju ke saya, dia juga gak bakal ‘ngeh’ sama tweet balasan saya. Gak lama BB saya bunyi lagi. New notification. Entah dari siapa, tapi bahasanya ofensif luar biasa. Dan kata-kata terakhirnya dia bilang: “get a life!” Hah?!

Saya betul-betul gak ngerti, apa yang orang tersebut maksud dengan kalimat “get a life”, padahal orang itu gak kenal saya, eh saya deh yang gak kenal dia. Dia mungkin kenal saya lewat orang yang dibelanya tersebut. Orang yang merasa offended sama tweet saya. Lucu. Gimana orang itu bisa offended sama tweet saya, kalau memang tweet dia sebelumnya memang bukan mengarah ke saya? Bisa dicerna, kan? Berarti tweet dia sebelumnya memang mengarah ke saya, kan?

Kata “get a life” yang ditujukan ke saya itu sendiri, saya gak ngerti maksudnya. I have life. I have plan for my life. Kalau kalian pikir having life is equal to having fun to the max, ya monggo. Kalau orang yang gak party-party dan minum-minum itu dianggap gak having life, oh kalian sempit sekali sudut pandangnya. Parameter having life buat tiap orang itu beda-beda, loh. Apa kalian bisa nge-judge kehidupan orang lain? Apa kalian udah merasa having life? Oh ya, satu lagi, saya tahu saya bukan pengguna gadget keluaran Apple dan mungkin kelihatan terlalu excited waktu tahu Instagram dibeli Android, but so what? Saya ngutak-ngutik Photoshop sejak lama, bahkan meng-edit foto prewed saya sendiri, dan buat saya gak ada sesuatu yang istimewa dengan application bernama Instagram. Saya cuma penasaran., karena orang-orang di sekeliling saya memang tidak mainan Instagram. Pengen tahu aja, di mana sih bagusnya? Did I tell you that? Then my question is; am I bothering you? Are you affected from anything that I do? Dan tweet balasan kedua ini buat saya udah sangat gak masuk akal. If you’re trying to make me mad, then you did the wrong move, baby. I wouldn’t get insulted just because I downloaded Instagram from Android. Lah, tablet saya yang punya, apa urusannya sama situ?

But experience taught me all. Beruntung di masa yang lalu, saya sudah pernah berurusan sama orang-orang atau pihak yang lebih ‘penting’ daripada seorang kolega yang lebih muda dari saya. You’re a piece of cake, honey. Makanya saya bilang, I used to deal with this. Saya kerja di delapan tempat, dan rata-rata saya keluar karena merasa diperlakukan tidak fair, atau ada peraturan yang tidak membela karyawan. Because I didn’t want to waste my time with those kind of people. Makin ke sini, saya sadar, di manapun kita, kita perlu punya kebesaran dan keikhlasan hati. Gak melulu saya harus protes karena ini atau itu. I am no longer an impulsive young woman. Kalau saya gak berubah, justru mungkin saya yang gak bisa personally developed. Bukan maksud curhat, hanya memberitahu. Tolong, gak usah cari masalah dengan saya. I feel so enough and sick with office drama. Dulu, mungkin karena emosi saya masih lebih besar dari akal sehat, dengan modal dokumen code of conduct yang ditandatangani setiap karyawan, saya melaporkan kolega senior yang melakukan bullying secara verbal terhadap saya, sampai-sampai si employer memberi saya ‘uang tutup mulut’ karena takut kalau saya sebarkan hal ini maka akan mencoreng nama baik institusinya. Uang yang jumlahnya 6 kali lipat gaji saya. Saya senang? Jelas. I took the positive side of everything. Pertama, saya dapat uang dadakan buat modal persiapan pernikahan saya, kedua, saya mendapatkan pengalaman paling berharga dalam hidup saya. Di tempat lain, bahkan saya bersitegang sama bos saya sendiri karena merasa tidak diperlakukan adil karena kehamilan saya dipermasalahkan. Saya gak takut, tapi kali ini saya sudah menguji diri saya sendiri untuk lebih berbesar hati. Buat saya, menyuruh saya medical check-up karena keseringan mabuk saat hamil muda sama dengan penghinaan terhadap kaum saya. Saya datang ke HRD, menolak mentah-mentah perintah tersebut, karena baru TIGA BULAN sebelumnya saya dinyatakan lolos medical check-up sebelum diterima bekerja di tempat tersebut. Saya jengkel. Adakah penyakit berbahaya yang menimpa orang hamil muda saat tiga bulan sebelumnya dinyatakan sehat? Saya cuma berusaha sabar, karena saya sedang hamil and I had nowhere to run. Walaupun makan hati dan pada akhirnya saya harus pindah kantor lagi, lagi-lagi saya dapat pelajaran berharga, that sometimes even nice people could turn into assholes.

Dan saya benar-benar kapok untuk buka akun twitter saya lagi. Mendingan tetap stick di facebook, deh.

If He Were A Woman

This week should’ve been the most tiring contemplation time that my husband ever experienced in his life. A leading multinational FMCG company, called him to fill one of their vacant posts. It has never been a dream to get this offer very easily, after a one-day recruitment process, jumped directly from 10 minutes presentation to panel discussion, and they quickly assured that hubby gets everything that they need.

The problem raised afterwards, is that this offer will make him go down one step, from a managerial position into an assistant manager, and unluckily, also must be going down the salary. The company’s highest standard of remuneration for this offered position didn’t suffice. Meanwhile, his current position as Business Development Manager at US’#1 express company is already prestigious, yet he dreamed to move into a FMCG company since working in express and logistic company has been horribly stressful. This is no good for him for a long term engagement. Another meanwhile, is that this FMCG company offers another ‘benefits’ such as free products (shampoo, shower cream, dental paste, you name it), housing allowance after working for 3 years, and also a career opportunity. But, still, the salary and position grade are in the top of considerable things.

If you were him, will you take this opportunity? If I must answer then my answer must be YES. I have been experienced this thing, that my current salary is only 60% of my last-year salary. But so what? I work in project-based contract, and nobody knows whether this contract will be extended by end of year or not. I don’t really objected if the new offer only can pay me less, as long as I’m happy working the project, as long as I’m comfortable with the environment, and yeah, that’s all I can say.

But the condition is different to hubby. He’s not a woman. Not a mother. Not someone who can easily jump and seek for another place if he didn’t feel so good with one company. Other words, he’s not me.

He’s the breadwinner of my family. Not saying that I am so weak so that I fully depend myself on him, bImageut my family should put him as a survivor. We need him as family, that’s why every little step that he takes must be considered as a family decision. I always put our financial thing in this kind of condition: all monthly payments, regular billings, house and car loan must come out from hubby’s pocket. And my earnings should be treated as “additional and complementary”.  So that if someday I could not continue to work due to project end, or maybe because I’m quite overwhelmed by the growing kids, or any little thing that makes me quit working, our family will still be survived. That’s the rule.

And now when he must ignore the offer, he doesn’t know whether someday he would get one more opportunity to work in his dream company. All that I know that he just think about our family, his daughter, and his dream to give the best education for the kids someday. It’s very hard for him to say NO, but he eventually did it by his own will. And for this matter, I would like to give him my standing ovation (and may I kiss you tonight?) ^.~