A Year Has Passed

A year has passed.

I still strongly remember when I had the first contraction. It was 14th of June, a day after right in the morning, I found some blood splashes in my panty then I ran to the hospital and came back with disappointing result; there was no dilation (pembukaan) yet. I started to think that I should do some more exercise so that the dilation will start. That day, I asked my sister to accompany me hanging out on the nearest mall from home. I ate Solaria (of course, big portion) for lunch and after that I started looking around baby stuff at the department store. Then I felt it. The false contraction, perhaps. Because I didn’t feel it again until the next couple of hours.

In the evening I came to my obsgyn and he keep repeating the same thing; that the baby could be born around 38-42 weeks, then my 41 weeks old pregnancy shouldn’t be a problem (yes of course that was ME who had the problem of carrying big belly). My conventional obsgyn did a transvaginal observation, checking whether the dilation has started. Nope. Still not yet. He asked me to come home even when I insist that I had some false contractions that afternoon. He just asked the nurse to give me CTG to check whether I lied or not :p Unfortunately, the CTG result showed only one contraction within 45 minutes. Haha. You can guess. I came back home (again) with disappointment. It looked like my baby felt more comfortable to be inside.

During my way back home, I started to have another contraction. I said to myself, hang on, this is still a false one. Don’t be that excited. Then 10 minutes later I felt it again. Again, and again. It happened every 10 minutes. The contraction had met its rhythm. But I decided not turned back to the hospital, as the pain was still bearable and I don’t want to get another ‘rejection’. Around 11 PM, the pain was worsening. And I was pretty sure that the dilation MUST have started! I came back to the hospital and they checked me through CTG. Yes, they found 3 contractions within 30 minutes with 10 minutes interval. They put me on the delivery room as I gave them my ‘winning’ smile. See, I didn’t lie J

Around 12 AM, they asked what I wanted to eat. I didn’t feel like eating at all. Then they instructed me to sleep, so that in the morning I would be fresher. Hello, what do you mean with the word ‘fresher’? My contraction is now happening every 5 minutes and you told me that I have just reached FIRST dilation. Owh, come on? Magazines said that early phase of labor wouldn’t be this intense! And I tried so hard to make my eyes closed while staring at the wall clock. Yes, I was staring at the hour hand that I had the pain every 5 minutes without missing any second.  I can tell, 12 times per hour and it lasted until 5 AM (12×5 = 60 times of intense contractions). They checked my dilation again. Still same. 1 centimeter. No more. They even got confused since they used to find this situation (contraction with 5 minutes interval) at the LAST phase of labor, when the baby was about to be launched.

Thus, that morning, after I heard adzan Subuh’s calling, I told the nurse and midwife to prepare me the operation room. I want to get caesarian birth as I couldn’t stand any longer. My body was shivering and I started to throw up since I didn’t eat anything from last night. I needed the baby to come out soon.

A year has passed.

I never ever expected that I could sacrifice all things for a tiny creature that has just sent to us. Never ever recognized how big a mother’s love to her child. At the first five months I stayed at home, giving her full of breast milk and devotion.

I felt happy. No matter how many times I had to wake up at night, but I always awaken up. My instinct did that, because I used to be a person who’d never been able to disturbed when sleeping. I chose not to have babysitter until I started working. Just a little help from my caring Mom-in-Law. My Mom was far.

I felt happy. No matter how ugly I was and how bad my smell was. My shopping list was full of her stuff. I don’t mind spending lots of penny just to buy her the best ingredients from supermarket. With her, my love is redefined.

A year has passed.

I am always thanking God for the breast milk that still comes out from my organ until now. As she always refused to drink any other milk, at least I still can fulfill her need from evening to morning. I am thanking God for any development she made. She might not be able to sit by herself at the age of 6 months, like I heard that most babies do, but she started to communicate and sing along with her voice from the age of 6 weeks, as if she understood and responded to my voice and my lullaby. She might not be able to walk independently at the age of 12 months, like I heard that most babies do, but she started to call Ayah, Mama, and many other basic words at the age of 9 months. Well, babies are not similar to each others. I just want to say that, anything that she does, anything that she has reached up to today, I am very proud of her.  I will always be.

Happy 1 year old, Andhara Davinna Yogantoro. Hope your life will be poured with blessings from Allah.   

Jakarta, June 15th 2012

                                                                                                                                                                                                     Proud Mama

Chocoholic Or Dentistholic?

Kemarin, saya baru sadar kalau Dhara suka sekali ngemil dan makan makanan yang bercitarasa coklat. Kebalikan dari sebulan yang lalu saat nafsu makannya sangat mengkhawatirkan, bulan ini, believe it or not, Dhara bisa makan empat kali sehari ditambah snack. Berarti in total makannya empat kali sehari++, belum nett.

Empat hari yang lalu, saat dia nangis-nangis di malam hari setelah baru tertidur satu jam, saya kebingungan, what’s wrong with this baby? Memang minggu kemarin dia sempat batuk pilek ringan jadi asumsi saya adalah karena hidungnya mampet makanya dia nangis-nangis. Setelah beberapa saat gak juga berhenti nangisnya, saya ajak dia keluar kamar, menuju ke ruang makan, kalau-kalau dia merasa sumpek di kamar. Gak lama tangisannya berhenti, sambil menunjuk ke arah lemari kaca tempat di mana saya menyimpan bubur-bubur instan, susu dan makanan ringannya. Dia literally menunjuk biskuit Marie, seakan minta tolong diambilkan. Dan malam itu, dia makan dua keping biskuit Marie sebelum akhirnya kembali minta disusui. Setelahnya, dia tidur lagi sampai pagi.

Kemarin siang, saat kami menghadiri resepsi pernikahan salah satu saudara sepupu, saya baru sadar betapa hobinya si cempluk itu ngemil. Setelah sebelum pergi ke resepsi dia sudah sempat makan dua kali, nasi tim jam tujuh dan bubur pisang jam sepuluh, di resepsi dia menghabiskan ¾ potong bolu coklat dan hampir satu slice puding coklat. Giliran ayahnya mencoba memberikannya zuppa soup seujung sendok, dia meringis. Ternyata dia jauh lebih suka coklat ketimbang jenis rasa lain.

Memang gak mengherankan, karena saya sendiri adalah pecinta coklat, dari kecil. Coba pikir, anak kecil mana yang gak suka coklat ketika saat umurnya baru menginjak empat tahun giginya udah ditambal sana sini sama dokter? Ya, dalam dua puluh tujuh tahun ini, saya baru satu kali opname di rumah sakit karena demam berdarah di tahun 2003, satu kali operasi karena harus Caesar tahun 2011 lalu, tapi kunjungan ke dokter gigi mungkin sudah gak bisa lagi dihitung sama keduapuluh jari tangan dan kaki.

Saya ingat dokter langganan saya waktu kecil dulu, namanya Dokter Andreas, prakteknya di Manggarai. Kayaknya gak kurang dari satu kali dalam sebulan saya pergi ke tempat prakteknya. Bahkan wajah si dokter dan suster yang membantunya pun masih jelas dalam kepala saya. Di situlah gigi-gigi susu saya ditambal, dicabut pertama kalinya (bahkan untuk gigi seri saja mesti dicabut ‘paksa’ di dokter, karena rata-rata gigi barunya sudah tumbuh duluan sebelum gigi susu itu goyang, kasihan ya?), dan saat saya berkenalan dengan suntik kebal. Dan itu terjadi semasa saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Beberapa tahun kemudian, Ibu saya baru tahu bahwa salah satu sepupunya yang dokter gigi praktek di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Sebagai anak karyawan Pertamina, saya merasakan sekali bahwa pelayanan di rumah sakit yang notabene gak pakai bayar itu buruk sekali. Dokternya tidak ada yang ramah. Susternya apalagi, mereka jauh lebih galak daripada pasien. Nah, karena Om saya sendiri yang praktek di sana, jadi saya gak pakai was was, meskipun Om saya punya titel yang sangat menyeramkan; Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut.

Dan karena gratis itulah, saya seolah memanfaatkan segala fasilitas. Kebetulan gigi-gigi saya juga kayaknya tahu bahwa mereka dapat perawatan gratis, jadi sering sekali berulah. Ya tiba-tiba gigi geraham saya kena abses, sampai harus perawatan akar sampai 8 kali (seminggu dua kali) ke dokter spesialis akar gigi alias Endodontist. Sayangnya, gigi geraham yang terkena abses itu adalah graham ketiga, yang perannya luar biasa vital untuk mengunyah. Jadi, gigi itu tidak boleh dicabut permanen. Dengan predikat ‘keponakan Dr. X’, tentu saya dapat perhatian lebih dari teman sejawat Om saya di RSPP. Gak usah ditanya rasanya perawatan akar itu gimana. Luar biasa! Sebuah jarum dibalut kasa beralkohol dan ditusuk-tusukkan ke lubang gigi sampai ke akar. Begitu terus sampai akar itu sembuh dan syaraf-syarafnya mati. Ya, mati. Sampai sekarang gigi itu masih utuh di dalam mulut saya, dan rasanya hambar, mati rasa.

Pada usia 12 tahun, saya melakukan foto panoramic lagi untuk melihat status akar-akar gigi yang lain. Om saya tiba-tiba memvonis bahwa gigi graham bungsu saya yang belum tumbuh, keempat-empatnya, berada jauh dari ‘jalur’ dan sebaiknya diangkat. Mati gue. Ngebayangin operasi untuk cabut empat gigi di usia 12 tahun? It had never been in my dream! Gigi geraham bungsu atas bahkan letaknya masih jauh dekat saluran eustachius (saluran yang menghubungkan hidung dan telinga). Jelas saya menolak mentah-mentah. Tapi akhirnya, enam tahun kemudian, saya tetap menjalani operasi tersebut karena alasan resiko jika gigi-gigi bandel itu gak turun sama sekali dan membusuk di saluran eustachius. Kebayang?

Sejak kecil pula, takdir sudah menggariskan saya untuk berurusan dengan Orthodontist. Ya, apalagi kalau bukan rahang bawah saya yang tumbuh lebih maju daripada rahang atas sehingga bentuk mulut saya dari samping jauh dari nilai estetis. Dulu saya takut sekali membayangkan pakai kawat gigi permanen. Syukurlah saya sekolah di SMA gaul ibukota, di mana rata-rata muridnya menganggap kawat gigi sebagai sebuah trend dan bagian dari gaya hidup. Good timing, saat itulah saya akhirnya berani memutuskan memakai kawat gigi yang melekat di mulut saya selama 3 tahun. Saat saya lulus SMA dan memasuki universitas, saya punya tampilan baru yang mem-boost rasa percaya diri; gigi rapih dan rata dengan rahang normal. It’s time to shine 🙂

Lantas hubungannya dengan coklat? Ya saya sendiri gak tahu. Yang saya tahu bahwa coklat itu mengandung tidak hanya bubuk kakao tapi juga susu dan gula. Yang saya tahu adalah coklat dalam bentuk apapun, pasti jadi makanan favorit saya. Tapi yang saya gak tahu, adalah kenapa gigi saya selalu bermasalah (bahkan sampai detik ini, gigi-gigi saya masih hobi bikin lubang), padahal dari kecil saya selalu rajin sikat gigi. Beng-beng, choki-choki, nutella, silver queen, meses ceres, bahkan susu UHT rasa coklat pun masih masuk dalam daftar belanja bulanan saya. Saya gak pernah punya masalah dengan coklat lokal, termasuk coklat Monggo yang dark chocolate-nya menurut saya nomor satu. Tapi jelas saya juga pecinta coklat impor, di mana tempat gak luput saya kunjungi setiap kali ke airport nunggu pesawat pulang adalah The Cocoa Trees, saya meraup coklat apapun apalagi kalau ada promo ‘buy 2 get 3’, dan memfokuskan perburuan saya ke coklat praline with hazelnuts. Nyum! Dan karena selama hamil hobi saya adalah makan roti dengan selai coklat, jelas gak heran kenapa Dhara juga suka makanan rasa coklat. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya supaya pada nantinya si cempluk itu gak jadi pasien mingguan dokter gigi seperti saya?