A Letter for Her

Halo sayang,

Bulan lalu kamu berumur dua tahun. Tidak terasa secepat itu waktu berlalu. Bahkan kamu pun sudah bisa menjawab dengan fasih jika seseorang bertanya: “Dhara umurnya berapa?”, dan kamu jawab “Dua tahun!” sembari jarimu membentuk salam perdamaian untuk menunjukkan angka ‘dua’.

Setahun ini banyak sekali perkembanganmu secara fisikal dan intelektual. Bahkan Ibu gak pernah menyangka sebelumnya bahwa di usia kurang lebih 20 bulan, kamu sudah bisa diajak mengobrol tentang keseharianmu di rumah. Makan apa hari ini, banyak atau tidak, menonton video apa kamu hari itu, dan banyak hal lain yang sekejap membuat Ibu lupa kepenatan yang Ibu rasakan selama perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Kamu mulai berjalan dengan percaya diri di usia 14 bulan, walaupun keseimbanganmu yang masih belum cukup membuatmu sering terjatuh, tapi kamu hanya tertawa setelahnya dan bangkit berdiri sambil berkata: “eh tatuh..”. Kamu adalah anak yang suka berpetualan dan jalan-jalan. Bahkan ketika kita ke Kuala Lumpur bersama ayah tahun lalu, kamu tidak pernah mau duduk di kereta dorong, padahal kamu belum bisa jalan sendiri. Kamu berusaha pegang sana sini supaya tidak jatuh, dan tidak pernah membiarkan Ibu santai walaupun sesaat karena harus mengawasimu tanpa kedip. Tapi, sayang, that was fun. The time that we spent together has always been fun.

Jiwa petualangmu terlihat lagi ketika anniversary Ayah Ibu ke-3 tahun lalu kita pergi ke Yogyakarta bersama-sama. Kita mengunjungi Tamansari, Candi Prambanan, lalu besoknya dilanjutkan ke Candi Borobudur, di mana kamu berlari sana-sini di antara stupa yang berjejer, tidak kecapaian walaupun matahari bulan Oktober sangat menyengat. Kamu juga suka ketika Ayah dan Ibu mengajak naik Andong keliling yang ditawarkan hotel. Bahkan kamu tertidur di pangkuan Ibu saat kita masih dalam perjalanan kembali ke hotel di atas Andong. Matamu terpejam dan kemu terlelap dengan damai. There’s nothing more beautiful than watching you sleep on my arms.

Ketika usiamu 13 bulan, Ibu dan Ayah mendaftarkanmu sekolah. Iya sekolah. Kami mau kamu mulai mengenal bahwa kamu punya teman-teman sebaya di luar sana. Mau kamu mulai mandiri berinteraksi dengan guru dan orang lain. Ternyata kamu senang sekali bersekolah, walaupun kalau pagi dibangunkannya susah akibat kamu tidur terlalu larut di malam harinya. Kamu paling suka ketika saatnya bernyanyi, baik lagu klasik nursery dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Setiap lagu-lagu itu diputar, kamu bergoyang-goyang sambil mulutmu mencoba mengikuti lirik.

Aku tahu, lagu pertama yang kamu hapal adalah Topi Saya Bundar. Dan kemudian semua lagu dalam DVD DVD musik yang kami belikan untukmu kamu lahap semua. Kamu hapal hampir seluruh lagu di DVD favoritmu. Kalau kita pergi naik mobil, kamu pasti minta diputarkan video musik dan tidak berhenti bernyayi sampai kamu benar-benar lelah dan minta menyusu untuk tidur. Sampai kini, kereta dorong merah yang dibelikan Nema dan Kepa lebih sering parkir di bawah tangga, karena kalau berjalan di mall kamu tidak pernah mau naik kereta. Hanya mau jalan atau kalau manjanya sedang luar biasa, selalu minta Ibu menggendongmu. Kamu begitu manja kepada Ibu, sampai sekarang Ibu tidak pernah menyentuh sepatu atau sandal higheels kalau pergi bersama dirimu. Melupakan jumpsuit karena sangat sulit menyusuimu dengan baju model seperti itu. Tapi Ibu masih bisa berdandan sesuka Ibu karena kamu tidak akan protes dan bahkan dengan senang hati ikut memakai lipstik Ibu di seluruh pipimu.

Sayangku, usiamu sudah dua tahun. Itu berarti kamu sudah bisa lebih mandiri dan mulai memasuki tahap baru dalam kehidupanmu. Kamu senang sekali menulis, menggambar sesuatu, dan Ibu tidak marah sekalipun kamu menggambar di atas seprai tempat tidur. Apapun itu asal membuatmu menjadi anak yang kreatif. Ibu juga bangga karena kamu pandai bernyanyi dengan nada yang benar. Suatu saat kalau kamu sudah siap, kamu boleh belajar bernyanyi dengan serius. Atau boleh Ibu daftarkan kelas melukis kalau memang kamu suka. Atau kelas ballet kalau kamu lebih pilih menari. Ibu hanya ingin kamu menjadi anak yang bisa mengikuti cita-citamu kelak dan bersyukur dengan bakat apapun yang diberikan Allah kepadamu.

Jadilah anak yang berbakti dan santun, yang berakhlak baik, yang punya empati terhadap sesama. Sebuah perayaan kecil sudah kami berikan sebagai hadiah. Tapi hadiah terpenting kami yang harus kamu tahu adalah cinta kami kepadamu, sekarang dan selamanya.

Ibu

Image,

Advertisements

God is Good

Copied from Facebook Notes (01.01.13)

I barely remember when was the last time I wrote a note and I am slightly thinking that my writing ability is getting worse and worse. I have been quitting to work as feature writer from the beginning of 2011, and recently, having a 1,5-y.o.-daughter-that-always-keep-me-busy also contribute the reason why I am getting less often to write. So I almost forgot how to make a good writing; well-structured, right context, catchy and reader friendly, while most of the topics I have and like to talk about is just how happy I am to be a mother. And for some people, it more sounds boring than attractive.

But thanks if you keep reading, that means you’re not one of the people who thinks that I am too boring 🙂

January 1st, 2013. As routine, I send prayer to my grandmother in heaven (I am quite sure she is there, she’s the most lovable person on earth). Today is her birthday and she would have been 89 years old if she’s still alive. Last night I was wearing t-shirt that I found in Coconut Island store, it texts: My New Year Resolution: No Resolution. I bought it in discounted price though, as I still couldn’t take that one t-shirt would cost 200k rupiah (so much waste of money!). I didn’t celebrate the new year until 12AM, as my daughter needs to sleep earlier. We came home from Kemang at 9.30PM, after watching some fireworks show and I still remember how Dhara amazed with it (and along the way home, she keeps pointing at the sky outside and said “api…api…”). It was nice ambiance and glad that we could have it for free. We even ate at my newly-favorite fast food restaurant for dinner. Who said we should have all the fancy things to celebrate new year? 😀 Me? Growing up in a conservative family, my parents always said that Moslem should not celebrate the new year that based on Roman calendar. We have our own new year’s eve to welcome Hijriyah, my father once said. My husband? Grew in a moderately liberal circumstances, with some of the family members even married cross-religion, new year is something that they used to celebrate. After home, my husband swear that next year we should not repeat the same thing again for the new year’s eve 😀

Of course I am joking if I said that I don’t have any resolution for 2013. As usual, I have sooo many. Sadly, looks like I am always not being committed to achieve those resolutions after the new year’s euphoria ends. A couple of weeks from now, I will be 28. It is a mature age, so I think this time I should be more serious. I am trying to look back on 366 days of 2012, and for me, my life is good. My life is not perfect and maybe is not as great as yours, but I keep in mind that I’ve always been blessed. Yes, there were a lot of troubles happened, but God gave me the way and showed me how to overcome it all. Remember a year ago, when I always complaining that my daughter could not drink milk from bottles so that I should pump the breast milk as much as possible at the office? God is really good for that case, because I was working in a very flexible workplace and I had a very supportive boss. Imagine that 2×30 mins of my normal working time should be allocated for pumping, so that means I received 1/8 of my salary for free, right? Also remember when I was crazily suffered from babysitter’s drama? My boss allowed me to work from home for nearly 3 weeks, and he didn’t even giving me a lot of work burden because he knew that I already had tons at that time. He could understand when I said that I wasn’t be able to do the business trip as my daughter still depends on breastfeeding activity every night. He was a truly God sent! Moreover, I had a very delightful time at office since I had the best colleagues since I started working in 2006. I felt all the problems became hassle-free. We’ve done many things together and shared many things in common. It was something that I couldn’t ask for more.

But life must go on. The situation urged me to find another workplace to continue. Another challenge and experience. Admit that this time I should work harder and double than before, but everything came with price. In mid-2012, I successfully did the first business trip abroad. Okay, you are allowed to laugh out loud now. That may sounds silly, as some of you probably has done this many times and reached various places. But not for me. I as keep moving and jumping from one workplace to another, I hadn’t have a chance to go abroad, for training or just meeting. Who wants to send the staff like me for overseas training and spend thousand of dollars, when my CV recorded that I’d never stay in one place for more than 1 (one) year? I am definitely not a good investment for their institution 🙂 So, my travel to Bangkok last time was sort of an achievement for myself, despite my fear of flying, I was trying to enjoy it as much as possible. In the middle of tight schedule, I went to each mall and attraction by solo, and shopped a lot 🙂

In the end of 2012, I again got a shock therapy, as my babysitter (for the second time) wasn’t back from her ‘kampung’ after taking leave. After Eid, she did it once, but soon she made up her mind and she was back with one week delay. Well, problem was solved for a while. I strongly warned her not to do this anymore and she should give at least one month notification before quitting. But a maid is a maid, she wouldn’t care. So at the beginning of December, I took 2 weeks leave from work and almost decided to be a full-time mom, as I was quite fed up with the babysitter’s drama. I was thinking that: “hey, look, you think that I am not able to take care of my daughter? I can! I just need a babysitter because I am working, not because I can’t do the babysitting.” As a mother, I was emotionally disturbed. My mental health was in the worst condition. Moreover, my daughter became more and more spoiled if I was around. It was not a good sign. Hubby did not agree if I quit from job, but I indeed hesitate to find a new babysitter, trying hard to teach and make them comfortable but at the end they just stayed for a month or so. But again, God has been very good to me. On the 8th day without the babysitter, when my leave was only 6 days remaining, my mom-in-law, who attended a mourn of one of her relatives’ mother, found this babysitter. She used to take care of the old lady who died, and her employer offered us to use her service for trial, and after she suits the job, we could go the her supplier and do the paperworks. It was great, I took the offer. And grateful that the new babysitter wanted to stay with us and take care of my daughter. It was quite hard to find a babysitter who would happily run and follow wherever my daughter runs, to be patient to serve the meals to that super picky eater, and also deal with her stubbornness and persistence to get anything that she wants. I am her mother but i could say that it is not easy to have this kind of kid. And I could not complaint as my father always said that she copied me, thoroughly. Karma? 😀 So, after that, I got back to work and one more problem looks like being solved miraculously. 

Then there comes 2013.

As I said earlier, I am making a couple of resolutions for this year. Some of them are:

  1. I should stop browsing to strawberrynet.com, or I should make it less often. As an unofficial beauty junkie, I’ve got some huge discounts for some of my fave products, but that doesn’t mean that I must do it monthly, rite?
  2. I need to find a good pediatrician for my daughter. To date, we haven’t found the best one yet, whether they are too commercial or too conservative. We need a progressive but genuine one. Any recommendation?
  3. I should be a better wifey, by reducing my high temper and trying to keep my emotion more stable. Not to say I am going to be as flat as my husband though (that’s gonna be boring, yes?), and trying to cook more advanced dish (meaning not only frying some nuggets or boiling an egg)
  4. Have a healthier lifestyle. Back to gym and eating some diet pills to burn these (still) 6 kilos of excess fat, soon after I stop breastfeed my daughter in June 2013. My weight should be back to pre-pregnancy or at least no more than 60 kgs!
  5. Be more satisfied with my current job and not quitting before it reaches one year. That’s probably the most difficult one. I’m not easily satisfied, in any matters 😀
  6. We should start doing our house project. We love our apartment and its wow location, but we think that live in our apartment wouldn’t be a wise choice for our daughter (she loves run and play, barely can sit peacefully for more than 5 minutes, and therefore she needs space more than 30 sqm), but still living with parents no longer fits me. They’re both nice and wonderful, and they are very happy to see their one and only granddaughter everyday, but at this stage, I just want to run my family independently in our own humble house. I am not asking too much, eh?

I don’t know whether I still have some other resolutions, but this time I will just focus on those 6. If I accomplish any other than that, perhaps I am moving to other workplace with a salary two times higher, I will just consider that as a bonus 🙂 With God’s will, everything is possible, right?

So, I am wishing you all more success and happiness in 2013. Hope you get what you want and reach what have you dreamed of. 

Love,

IDY

Constructing Restrictions

Saya minta maaf sedalam-dalamnya kepada bos saya di Bangkok, karena pada saat ini seharusnya saya tengah mendengar presentasi tentang academic freedom, dan harga menjadi peserta pada two days international conference ini 80 dolar, but my mind is going elsewhere.

And suddenly I had a thought about this. Salah satu panelis yang membawakan presentasi di depan ternyata seorang doktor. Padahal umurnya, kelihatannya, paling baru 29-30, setahun dua tahun di atas saya. Kaget sih enggak, because I know she’s not alone who had successfully pursued her doctoral degree, there are many others outside this room, who have dedicated their life into education and science.

Dedicate to what?

Education, and science. Tiba-tiba saya jadi ingat anak saya di rumah. I’m surely not a person who’s willing to do so. I’m not likely dedicating myself into something that are lifeless.

Justifikasi? Tidak. Saya bukan orang yang tidak peduli akan sekolah dan pendidikan. Gini-gini, semasa sekolah saya langganan ranking 1 *sombong abis*. Intinya bukan itu. I just feel like, after I get married and having one child, the need to have me around and spend time with them is greater than my need to continue pursuing my master.

Secara presentase, 80% dari teman seangkatan saya saat kuliah sudah kelar S2, bahkan sebagian juga lagi sekolah S3, kalau gak salah (pardon me, for being too ignorant). Hampir semua dapat beasiswa, bahkan tidak satupun rasanya yang pakai biaya sendiri. Hampir semua lulusan luar negeri; US, UK, Sweden, Aussie, you name it. Ketika itu banyak yang nanya kenapa saya gak ikut-ikutan cari beasiswa. Alasan saya; (selain saya memang gak suka berada dalam mainstream), saya mau kerja dulu dan punya penghasilan sendiri. Mana saya pernah berencana kalau saya ternyata menemukan pendamping hidup dan commited di usia 24 jalan 25? Well, cita-cita saya semasa kecil, saya kawin umur 30, paling cepet, karena saya mau jadi career woman seperti mama saya yang pakai sepatu dengan hak 7cm ke kantor dan rok mini (kalau ini mama saya gak pernah, tapi murni cita-cita saya aja :D)

Nah, ternyata, setelah menikah, ada aja pertimbangan lain mengalahkan urusan kuliah dan ambil S2. Mau punya rumah sendiri lah, mau dapet kerja yang lebih settle lah, mau jalan-jalan dan traveling melulu lah, sehingga kemalasan untuk daftar beasiswa itu makin menjadi. Oh yah, dan pertimbangan terbesar untuk berpisah sama suami juga ikut menyurutkan niat sekolah lagi. I’m not an LDR person at all, gak bisa rasanya pisah lama-lama sama suami (walaupun seringan berantemnya kalau ketemu tiap hari). Nah, pada satu titik saya justru merasa siap jadi Ibu dan punya anak (oke, walaupun kenyataannya saya belum bisa jadi Ibu yang baik karena masih suka ngedumel kalau anak saya ngajak main dan nonton DVD di jam satu pagi), dan setelah saya mendapatkan apa yang saya inginkan, justru saya merasa sedikit ter-alienasi karena merasa ‘tinggal saya yang masih megang ijazah S1’. Crap!

Memasuki pekerjaan baru yang sangat serius (betul, ini titel pekerjaan paling tinggi yang pernah saya punya), di mana orang-orang yang harus jadi lawan interaksi saya sehari-hari adalah para expert dengan otak cemerlang, saya merasa sedikit ter-underestimate karena mereka tahu gelar saya masih S1 tapi titel saya gak merepresentasikan itu. Mau marah, percuma. Paling kesel-kesel aja. Mereka toh gak tau what I have been through sampai ke titik ini. Jadi, maklum kalau pada sok tau. Di saat inilah, mental saya seperti dicambuk. Well, I know that I might not have a strong background to compare to you. But this is me. They appointed me to do these job. As simple as that, ya. Gak usah komplen, titik. Saya akan jalan terus selama jalan itu ada di depan saya.

Kadang saya suka tanya sama diri sendiri: “beneran gak mau lanjut S2 mumpung masih muda?”

“Enggak. Kalaupun iya, saya gak mau pakai biaya sendiri. Jadi pilihannya cuma beasiswa. Dan beasiswa, apparently, justru lebih gampang didapat untuk sekolah di luar negeri. Saya tidak sanggup. Concern saya bukan lagi karena harus LDR sama suami, tapi bagaimana harus pisah sama anak saya walaupun cuma setahun. Gak akan sanggup. And that will also leave me feeling guilty all my life, if I’d ever passed the golden period of her life. Jangankan pisah setahun, kerja pulang malem dikit aja saya merasa bersalah karena dia harus lebih banyak bercengkrama dengan si Mbak dibandingkan dengan saya.

As a wife and a mom, my world seems limited and not limitless. But it’s me who proudly constructing it. And, even though I still hold one academic title after my name, I feel so all content without fear of being separated with my loved ones. Enough said.

Raya Raya

Barusan lihat satu op-ed di The Malaysian Insider. Topiknya tentang Lebaran, tapi di judulnya si penulis menamainya dengan Raya. Ah ya, saya baru ngeh. Raya itu kan artinya Lebaran untuk warga Malaysia. Si penulis bilang bahwa rata-rata pekerja di sana rebutan mengambil cuti panjang untuk pulang ke kampung halaman. Harga tiket pesawat pun melonjak 2-3 kali lipat. Dan setelah saya baca artikel sampai habis, memang ternyata orang Malaysia tidak ada bedanya dengan orang Indonesia. Bahwa kita ini memang benar serumpun, benar dari nenek moyang yang sama, dan benar mungkin ada beberapa kebudayaan yang sama. Tapi kenapa sih, gak pernah rukun?

Kadang-kadang, hal yang diberitakan di masing-masing negara tentang negara serumpun-nya itu suka lebay. Padahal, tingkat ketergantungan kedua negara cukup tinggi. Banyak pekerja buruh Indonesia yang mencari sesuap nasi di sana. Sejak tahun 2000-an, pekerja konstruksi/bangunan dari Indonesia berbondong-bondong ke sana. Darimana saya tahu? Saya dengar sendiri dari teman-teman waktu saya bekerja di salah satu perusahaan BUMN konstruksi, bahwa bekerja di Malaysia lebih menjanjikan daripada di sini. Jelas, karena living cost dan tingkat kehidupan mereka lebih baik daripada kita, jadi ya pasti standar gaji dan kesejahteraannya pun di atas kita. Saya juga aware, betapa banyaknya orang Indonesia yang melancong ke Malaysia. Jangan cuma sebut penduduk Jakarta, ada keterkaitan emosional dan historikal yang erat antara orang Medan dengan orang Penang, sebuah pulau kecil di bagian Barat Laut Malaysia. Dasarnya ya karena mereka sama-sama keturunan peranakan. Tidak heran, Airasia saja mempunyai frekuensi flight Medan-Penang lebih banyak daripada Jakarta-Penang. Waktu saya ke Penang, bandara penuh dengan orang Medan yang berbisnis di Penang. Tidak terkecuali orang-orang Sumatera lainnya seperti dari Palembang dan Jambi. Sebaliknya, orang Malaysia berbondong-bondong ke Bandung. Bandung ibarat surga belanja untuk mereka, karena notabene harga barang-barang di Malaysia lebih tinggi daripada di Indonesia. Alasan lain ke Bandung mungkin karena mereka juga tidak suka hiruk-pikuk dan kemacetan Jakarta, sementara di Bandung, lalu lintas kalau bukan weekend kan tidak terlalu padat. Belum lagi kuliner Bandung yang sangat menggoda. Jangan heran kalau masuk factory outlet di Bandung, banyak rombongan berbahasa Melayu walaupun tampang gak ada bedanya sama orang kita. Waktu ke KL kemarin, di Bandara LCCT saya ketemu dan ngobrol sama beberapa orang Malaysia yang habis ngeborong berkoper-koper dari Bandung.

Akhir Mei lalu, saya pergi ke KL beserta suami dan anak. Agak banyak juga yang mempertanyakan, kok Dhara dibawa ke KL sih? Kan lebih enak ke Singapore? Bisa ke Sentosa Island, main di Universal Studio, bla bla bla, dan seterusnya. Saya bilang, saya bosan ke Singapore. Weits, bukan nyombong, selama 27 tahun saya hidup, saya baru 3x kok ke Singapore. Cuma entah kenapa, setiap kali ke sana, bawaannya bosan. Rasanya Singapore cukup dikunjungi dalam waktu 2 hari. Kalau lebih, malah bosan. Apalagi, saya masih Indonesia banget. Gak kuat jalan kaki jauh-jauh. Haha. Jadi, apa kabarnya kalau bawa Dhara ke Singapore dan sebentar-sebentar naik taksi? Bangkrut kan jadinya? 😀 Alasan kedua, karena Dhara masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu Universal Studio. Alasan ketiga, gak tau kenapa, saya pengen aja ke KL lagi setelah kunjungan pertama tahun 2006 lalu. Kayaknya kok banyak yang saya belum explore di KL. Dari Jakarta, saya udah booking segala sesuatunya. Kami punya empat hari di sana, dan saya putuskan bahwa kami menginap di apartemen, karena Dhara masih harus makan makanan home-made. Persiapan traveling saat itu luar biasa repot. Saya sampai bawa-bawa panci segala untuk masak, jaga-jaga kalau di apartemen gak ada panci walaupun ada pantry. Saya dapat info apartemen setelah cari-cari di situs Google. Apartemen Fahrenheit, di kawasan Bukit Bintang. Good one. Harganya cuma 100 RM pula semalam. Murah, meriah, muntah. Tapi dasar saya maunya sok elit, saya takut apartemen tidak sesuai harapan (kotor lah, bau lah, jijik lah, jauh lah), akhirnya saya booking hotel untuk malam terakhir. Rencananya, di hari ke-3, kami cuma jalan-jalan seputar KLCC aja, gak usah jauh-jauh, mengingat pesawat kami pulang ke Jakarta juga jam 1 siang, berarti harus check out agak pagi dari hotel dan pagi itu jelas gak bisa ngapa-ngapain. Setelah browsing di Agoda, saya jatuh cinta dengan Traders Hotel by Shangrila, hotel second line dari grup Shangrila yang harganya lumayan (lumayan nguras dompet, maksudnya). Tapi yasudahlah, kalau di-total untuk akomodasi 3 malam, jatuhnya tetap masih affordable.

Sesampainya di apartemen, saya terkesima luar biasa. Memang apartemennya standar, dengan satu queen-sized bed dan satu single bed. Di dalamnya ada TV, tapi kamar mandi harus sharing dengan 2 kamar lain. Tapi lokasinya betul-betul mengejutkan saya. Letaknya persis di belakang mal. Saya hanya cukup jalan 30-40 meter untuk masuk ke mal tersebut, dan 50 meter jalan ke Sephora. Aaah, surga 😀 Berkali-kali saya titip suami waktu ke Hongkong untuk beliin saya make-up palette Too Faced yang ada di Sephora, tapi dia gak nemu-nemu karena waktunya sempit. Eh, ini Sephora di depan mata 🙂 Apartemen kami letaknya juga cuma 100 meter dari Pavilion Mall, mal terbaru di kawasan tersebut yang isinya kurang lebih sama seperti Grand Indonesia. Kawasan Bukit Bintang juga sangat rapih, dibuat dengan konsep Orchard Road yang kiri-kanan berjejer mall, hotel, butik dan cafe (tertunya dengan harga sedikit lebih miring daripada di Orchard Road). Yang mengejutkan saya lagi adalah, bahwa tingkat kedisiplinan orang Malaysia dalam menyeberang juga sudah mirip orang Singapore. Menyetir mobilpun mereka gak sembarangan seperti di sini. Jadi, pejalan kaki bisa merasa nyaman dan aman.

Suasana jalan di Bukit Bintang

Nyamannya berjalan-jalan

Di depan Mall Pavilion

Aaaa….Sephora!

Hari pertama, saya ajak Dhara ke Berjaya Times Square, yang jauhnya sekitar 400 meter dari apartemen kami, di mana terdapat the largest indoor theme-park in Malaysia. Bukan sesuatu, sih, tapi karena kali ini udah diniatin jalan-jalan buat Dhara, ya pasti kita cari sesuatu yang possibly excites her. Dan ternyata memang sangat besar tempatnya. Terdiri dari tiga lantai, yang sudah diklasifikasikan untuk setiap golongan umur. Lantai paling bawah adalah khusus untuk toddler dan anak balita, dengan permainan yang simpel dan dekorasi yang colorful, lengkap dengan nursing room yang besar. Wow, salut! Pantesan harganya lumayan mahal, 80 RM per orang, tapi gak masalah karena sebanding dengan fasilitasnya yang lengkap.

Berjaya Times Square

Hari berikutnya, saya mengurung niat ke Genting, dengan pertimbangan Dhara juga tidak akan nyaman dengan lamanya perjalanan yang melelahkan. Akhirnya saya putuskan pagi itu untuk pergi ke Sunway Lagoon, dan kemudian sorenya kalau masih sempat kita mampir ke Butterfly Park. Perjalanan ke Sunway tidak terlalu jauh. Sekitar 100 RM dengan taksi. Tapi lagi-lagi jiwa avonturir saya dan suami muncul, kita nekat pergi dengan MRT (yang namanya KTM) sampai ke Subang, stasiun terdekat dari Sunway. Sampai sana, kita baru nyambung taksi. Taksi di Malaysia memang sebagian besar tidak pakai argo, tapi supir-supirnya cukup ramah dan bisa berbahasa Inggris sehingga memudahkan percakapan. On the way ke Sunway Lagoon, dia banyak bercerita soal tempat-tempat wisata di seputar KL. Setiap melewati bangunan tertentu, dia pun bisa menceritakan sejarah atau sekilas tentang bangunan tersebut. Dhara benar-benar menikmati Sunway Lagoon sampai sore. Selain mempunyai kolam renang yang menyerupai pantai lengkap dengan pasir buatan dan arus ombak buatan, Sunway Lagoon juga punya semacam kebun binatang yang jenis varian hewannya membuat saya sakit hati. Di Jakarta, Ragunan atau bahkan Taman Safari, hewannya tidak seberagam ini. Tempatnya pun luar biasa bersih tanpa sampah, dan beberapa unggas dibiarkan jalan berseliweran di jalan kita. Bahkan, di butterfly farm, kupu-kupu bebas beterbangan mengelilingi kita. Cantiknya! Masih kepikir, kenapa di Jakata gak bisa dibuat tempat serupa???

Swimming like a pro 😀

Burung berseliweran

Dhara gak takut kupu-kupu!

Hari udah menunjukkan jam 4 sore saat saya memaksa Dhara keluar dari kolam renang. Dia nangis meraung-raung, karena sangat menikmati berenang di sana. Walaupun cukup ramai, tapi masing-masing orang tahu diri untuk tidak berenang ‘serius’ dan nabrak-nabrak orang lain. Air kolam hangat, tidak dingin, ini yang membuat Dhara betah sekali berenang mengapung dengan life-vest ungu yang saya beli seharga 50 RM di salah satu toko di sana. Tiket Sunway memang agak mahal, sekitar 80 RM per orang untuk 3 park dan 100 RM untuk 5 park. Karena Dhara tidak mungkin masuk ke Extreme Park dan Scream Park, jadi kami hanya beli tiket untuk Water Park, Wildlife Park and Amusement Park. Setelah berenang dan mandi, Dhara langsung minta susu dan tidur pulas 🙂 Ya sudah, ke Butterfly Park nya jadi terasa gak perlu, kan sudah lihat banyak kupu-kupu di Sunway.

Keesokan harinya, kami check out dari apartemen untuk menuju ke Traders Hotel. Setelah packing barang-barang hasil borong dari Sephora, Mothercare, Unilqlo dan Body Shop (anehnya saya sama sekali gak beli Vincci!), kami bergegas ke Traders. Traders Hotel letaknya persis menghadap Petronas Twin Tower. Kalau jalan jauhnya sekitar 700 meter, tapi kita bisa jalan dengan teduh dan nyaman melewati Convention Center, tidak harus lewat taman di luar. Saya heran karena di KL saya menemukan kenyamanan dan kemudahan di mana-mana. Harga hotel per malam 420 RM, dengan free shuttle (seperti mobil golf) ke Suria KLCC at every 15 minutes. Lagi-lagi saya ‘dipaksa’ belanja ke mal. Hehe. Tapi tujuan kami dari awal bukan Suria KLCC, melainkan Aquaria, sejenis Sea World di Indonesia. Ternyata, Aquaria justru jaraknya lebih dekat lagi dari Traders. Benar-benar menyenangkan, seperti tinggal di dalam satu tempat yang one-stop entertainment, mixed between business and leisure. Hebat deh konsepnya mereka. Aquaria, more or less, memang seperti Sea World, tapi varian ikannya lebih banyak dan atraksi yang lebih menarik untuk pengunjung (misalnya, feeding the Piranha atau sleep with Sharks). Tiket masuk 45 RM per orang. Pengunjung tidak diperkenakan makan dan minum di dalam, dan ini benar-benar membuat Aquaria bersih dan nyaman.

Depan replika Shark

Giant Aquarium

Keesokan harinya, saat berangkat ke LCCT, kami kembali memanggil taksi yang kami tumpangi sepulangnya dari Sunway Lagoon ke Bukit Bintang. Namanya Pak Abdul, keturunan Arab. Ramah dan baik sekali. Kami mendapat harga 70 RM untuk taksi dari KLCC ke LCCT. Di perjalanan, dia menawarkan untuk mampir dulu ke Putrajaya. betapa ia membanggakan pemerintah dengan adanya kota pemerintahan di Putrajaya, sehingga aktivitas pemerintahan bisa dipusatkan di satu tempat. Putrajaya kosong saat itu karena hari Minggu. Kantor-kantor dengan bangunan modern berjejer di kiri-kanan, termasuk mess seperti apartemen kelas menengah, sebagai tempat tinggal para pegawai pemerintah dari Senin-Jumat. Dia menawarkan untuk memfoto kami di depan jembatan Putrajaya yang menjadi icon, kemudian meneruskan perjalanan ke LCCT sambil bercerita. Anak pertamanya hampir lulus dari fakultas kedokteran. Pemerintah yang membayar seluruh biayanya, dengan catatatan selepas lulus, dia harus bekerja dan membayar sebagian gajinya untuk pemerintah, dalam beberapa tahun pertama. Itu membuatnya bersyukur, karena mana mungkin dia mampu menyekolahkan anaknya di sekolah dokter kalau harus dibayarkan di awal?

Ah, kalau saja sistem di Indonesia bisa dibuat seperti itu, paling tidak untuk anak-anak pintar yang berasal dari keluarga kurang mampu bisa mendapat kesempatan yang sama dan bisa meraih cita-citanya. Sekarang saya baru sadar, bahwa walaupun pemerintah Malaysia masih otoriter dan represif terhadap rakyatnya, tapi toh seorang supir taksi saja masih bisa bersyukur dan hidup tenang tanpa memikirkan biaya sekolah anak yang luar biasa mahal. Apakah selamanya pemerintah mereka lebih buruk dengan pemerintah Indonesia yang disebut-sebut demokratis dan menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi, tapi rakyatnya mengais-ngais BLT dan sembako murah untuk bisa makan?

Saya jadi ingat iklan provider seluler 3 (three). Dia bilang kebebasan itu tanpa batas. Cukup 50 ribu rupiah untuk akses gratis selama setahun ke 10 situs favorit. See what I’m saying? Akses gratis selama setahun ke 10 situs. Jadi kalau saya mau akses ke situs ke-11 atau ke-12, bayarnya nambah lagi, dong. Lha, apanya yang bebas? 

Petronas Twin Tower dari jendela hotel

A Year Has Passed

A year has passed.

I still strongly remember when I had the first contraction. It was 14th of June, a day after right in the morning, I found some blood splashes in my panty then I ran to the hospital and came back with disappointing result; there was no dilation (pembukaan) yet. I started to think that I should do some more exercise so that the dilation will start. That day, I asked my sister to accompany me hanging out on the nearest mall from home. I ate Solaria (of course, big portion) for lunch and after that I started looking around baby stuff at the department store. Then I felt it. The false contraction, perhaps. Because I didn’t feel it again until the next couple of hours.

In the evening I came to my obsgyn and he keep repeating the same thing; that the baby could be born around 38-42 weeks, then my 41 weeks old pregnancy shouldn’t be a problem (yes of course that was ME who had the problem of carrying big belly). My conventional obsgyn did a transvaginal observation, checking whether the dilation has started. Nope. Still not yet. He asked me to come home even when I insist that I had some false contractions that afternoon. He just asked the nurse to give me CTG to check whether I lied or not :p Unfortunately, the CTG result showed only one contraction within 45 minutes. Haha. You can guess. I came back home (again) with disappointment. It looked like my baby felt more comfortable to be inside.

During my way back home, I started to have another contraction. I said to myself, hang on, this is still a false one. Don’t be that excited. Then 10 minutes later I felt it again. Again, and again. It happened every 10 minutes. The contraction had met its rhythm. But I decided not turned back to the hospital, as the pain was still bearable and I don’t want to get another ‘rejection’. Around 11 PM, the pain was worsening. And I was pretty sure that the dilation MUST have started! I came back to the hospital and they checked me through CTG. Yes, they found 3 contractions within 30 minutes with 10 minutes interval. They put me on the delivery room as I gave them my ‘winning’ smile. See, I didn’t lie J

Around 12 AM, they asked what I wanted to eat. I didn’t feel like eating at all. Then they instructed me to sleep, so that in the morning I would be fresher. Hello, what do you mean with the word ‘fresher’? My contraction is now happening every 5 minutes and you told me that I have just reached FIRST dilation. Owh, come on? Magazines said that early phase of labor wouldn’t be this intense! And I tried so hard to make my eyes closed while staring at the wall clock. Yes, I was staring at the hour hand that I had the pain every 5 minutes without missing any second.  I can tell, 12 times per hour and it lasted until 5 AM (12×5 = 60 times of intense contractions). They checked my dilation again. Still same. 1 centimeter. No more. They even got confused since they used to find this situation (contraction with 5 minutes interval) at the LAST phase of labor, when the baby was about to be launched.

Thus, that morning, after I heard adzan Subuh’s calling, I told the nurse and midwife to prepare me the operation room. I want to get caesarian birth as I couldn’t stand any longer. My body was shivering and I started to throw up since I didn’t eat anything from last night. I needed the baby to come out soon.

A year has passed.

I never ever expected that I could sacrifice all things for a tiny creature that has just sent to us. Never ever recognized how big a mother’s love to her child. At the first five months I stayed at home, giving her full of breast milk and devotion.

I felt happy. No matter how many times I had to wake up at night, but I always awaken up. My instinct did that, because I used to be a person who’d never been able to disturbed when sleeping. I chose not to have babysitter until I started working. Just a little help from my caring Mom-in-Law. My Mom was far.

I felt happy. No matter how ugly I was and how bad my smell was. My shopping list was full of her stuff. I don’t mind spending lots of penny just to buy her the best ingredients from supermarket. With her, my love is redefined.

A year has passed.

I am always thanking God for the breast milk that still comes out from my organ until now. As she always refused to drink any other milk, at least I still can fulfill her need from evening to morning. I am thanking God for any development she made. She might not be able to sit by herself at the age of 6 months, like I heard that most babies do, but she started to communicate and sing along with her voice from the age of 6 weeks, as if she understood and responded to my voice and my lullaby. She might not be able to walk independently at the age of 12 months, like I heard that most babies do, but she started to call Ayah, Mama, and many other basic words at the age of 9 months. Well, babies are not similar to each others. I just want to say that, anything that she does, anything that she has reached up to today, I am very proud of her.  I will always be.

Happy 1 year old, Andhara Davinna Yogantoro. Hope your life will be poured with blessings from Allah.   

Jakarta, June 15th 2012

                                                                                                                                                                                                     Proud Mama

Babysitter yang Keminter

Ternyata, jaman sekarang udah gak kayak dulu lagi. Enam belas tahun yang lalu, Ibu saya merekrut seorang pembantu, saat saya masih duduk di kelas enam SD. Enam belas tahun kemudian, si pembantu masih tetap setia membantu orangtua saya di rumah walaupun statusnya sudah menikah dan punya anak. Walaupun kini suaminya ada di kota lain dan ia tetap bertahan di rumah. Konsekuensi logis dari kesetiaannya adalah bahwa anak si pembantu itu sudah menjadi bagian dari keluarga kami juga, secara alamiah menjadi ‘cucu’ pertama orangtua saya.

Masih adakah pembantu model begitu? Menurut saya, kemungkinannya nyaris nol persen. Karena terbiasa memperlakukan pembantu seperti saudara sendiri (in fact that pembantu orangtua saya itu jarak umurnya hanya beda 3 tahun dari saya dan bahkan saya yang bantu membalas surat cinta pertama yang dia dapatkan dari tukang bangunan di depan rumah dulu), ketika saatnya saya punya babysitter buat Dhara, saya memperlakukan babysitter seperti saudara sendiri. Kalau mau makan di restoran pun saya tanya, mau makan apa? Segala kebutuhannya saya penuhi. Bahkan karena gak tega lihat sepatunya yang saat datang udah buluk banget, saya hibahkan sepatu Charles & Keith saya yang belinya pas sale jadi gak ngeh kalau itu kekecilan, menyakitkan kalau dipake terlalu lama. Payahnya, saya baru sadar bahwa jaman sekarang memang sudah beda dari jaman dulu. That’s too much. Babysitter (atau pembantu) gak bisa diperlakukan seperti itu.

Memang agak-agak susah dan tricky kalau kita berhadapan dengan babysitter. Gimana gak tricky, kalau di satu sisi kita harus bisa bersikap tegas sekaligus rely-on-her karena nasib anak kita bergantung pada mereka selama kita bekerja? Yang ada, ketika kita tegur satu hal, jawabannya malah cenderung defensif. Lho, saya kan yang megang anak Ibu, dari pagi sampai sore. Saya udah lebih tahu mana makanan yang dia suka atau enggak. Ih, rasanya minta ditimpuk pake sandal.

Saya agak menyesal kenapa dulu gak jadi ambil kuliah S1 Psikologi, karena saya seringkali salah menyikap sikap dan tabiat orang lain. Okay, I’m expert in reading people’s personalities, but then I used to do the wrong way to react. Babysitter Dhara yang pertama orangnya pintar dan cekatan. Saking pinternya ya kadang kepala batu dan boro-boro dengerin majikan yang masih muda ini (blushing sendiri). Mungkin di pikirannya begini; ih, Ibu ini sok tau…umurnya beda empat tahun aja kok dari saya. Babysitter itu akhirnya saya copot dari jabatannya karena sakit (sakitan).

Perlu tiga kali cari pengganti sebelum akhirnya kami menemukan lagi yang cocok. “Cocok” di sini pengertiannya sempit sekali, karena pada intinya saya cuma cari babysitter yang sanggup berjam-jam menyuapi anak saya dengan penuh kesabaran. Dan sekarang sikap saya jauh lebih loose ke babysitter tersebut. Loose, tapi di sisi lain ya standar aja baiknya. Saya trauma. Untuk urusan kerjaan pun, saya gak lagi terlalu bawel. Kalau dia berbuat salah, sekali dua kali, okelah. Karena kalau dia gak betah, yang repot ya gue-gue juga.Perlu minta cuti berkali-kali dari bos saat harus ganti babysitter dan menjadi observer di rumah. Dan saya gak yakin bos saya masih mau berbaik hati memberikan saya izin untuk work from home kalau hal ini terjadi lagi dalam waktu dekat. Ah, saya benar-benar menantikan waktu di saat saya gak perlu lagi tergantung sama babysitter. Mentang-mentang gaji tinggi, bukan berarti harus keminter dong Mbaaaak 😦

Chocoholic Or Dentistholic?

Kemarin, saya baru sadar kalau Dhara suka sekali ngemil dan makan makanan yang bercitarasa coklat. Kebalikan dari sebulan yang lalu saat nafsu makannya sangat mengkhawatirkan, bulan ini, believe it or not, Dhara bisa makan empat kali sehari ditambah snack. Berarti in total makannya empat kali sehari++, belum nett.

Empat hari yang lalu, saat dia nangis-nangis di malam hari setelah baru tertidur satu jam, saya kebingungan, what’s wrong with this baby? Memang minggu kemarin dia sempat batuk pilek ringan jadi asumsi saya adalah karena hidungnya mampet makanya dia nangis-nangis. Setelah beberapa saat gak juga berhenti nangisnya, saya ajak dia keluar kamar, menuju ke ruang makan, kalau-kalau dia merasa sumpek di kamar. Gak lama tangisannya berhenti, sambil menunjuk ke arah lemari kaca tempat di mana saya menyimpan bubur-bubur instan, susu dan makanan ringannya. Dia literally menunjuk biskuit Marie, seakan minta tolong diambilkan. Dan malam itu, dia makan dua keping biskuit Marie sebelum akhirnya kembali minta disusui. Setelahnya, dia tidur lagi sampai pagi.

Kemarin siang, saat kami menghadiri resepsi pernikahan salah satu saudara sepupu, saya baru sadar betapa hobinya si cempluk itu ngemil. Setelah sebelum pergi ke resepsi dia sudah sempat makan dua kali, nasi tim jam tujuh dan bubur pisang jam sepuluh, di resepsi dia menghabiskan ¾ potong bolu coklat dan hampir satu slice puding coklat. Giliran ayahnya mencoba memberikannya zuppa soup seujung sendok, dia meringis. Ternyata dia jauh lebih suka coklat ketimbang jenis rasa lain.

Memang gak mengherankan, karena saya sendiri adalah pecinta coklat, dari kecil. Coba pikir, anak kecil mana yang gak suka coklat ketika saat umurnya baru menginjak empat tahun giginya udah ditambal sana sini sama dokter? Ya, dalam dua puluh tujuh tahun ini, saya baru satu kali opname di rumah sakit karena demam berdarah di tahun 2003, satu kali operasi karena harus Caesar tahun 2011 lalu, tapi kunjungan ke dokter gigi mungkin sudah gak bisa lagi dihitung sama keduapuluh jari tangan dan kaki.

Saya ingat dokter langganan saya waktu kecil dulu, namanya Dokter Andreas, prakteknya di Manggarai. Kayaknya gak kurang dari satu kali dalam sebulan saya pergi ke tempat prakteknya. Bahkan wajah si dokter dan suster yang membantunya pun masih jelas dalam kepala saya. Di situlah gigi-gigi susu saya ditambal, dicabut pertama kalinya (bahkan untuk gigi seri saja mesti dicabut ‘paksa’ di dokter, karena rata-rata gigi barunya sudah tumbuh duluan sebelum gigi susu itu goyang, kasihan ya?), dan saat saya berkenalan dengan suntik kebal. Dan itu terjadi semasa saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Beberapa tahun kemudian, Ibu saya baru tahu bahwa salah satu sepupunya yang dokter gigi praktek di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Sebagai anak karyawan Pertamina, saya merasakan sekali bahwa pelayanan di rumah sakit yang notabene gak pakai bayar itu buruk sekali. Dokternya tidak ada yang ramah. Susternya apalagi, mereka jauh lebih galak daripada pasien. Nah, karena Om saya sendiri yang praktek di sana, jadi saya gak pakai was was, meskipun Om saya punya titel yang sangat menyeramkan; Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut.

Dan karena gratis itulah, saya seolah memanfaatkan segala fasilitas. Kebetulan gigi-gigi saya juga kayaknya tahu bahwa mereka dapat perawatan gratis, jadi sering sekali berulah. Ya tiba-tiba gigi geraham saya kena abses, sampai harus perawatan akar sampai 8 kali (seminggu dua kali) ke dokter spesialis akar gigi alias Endodontist. Sayangnya, gigi geraham yang terkena abses itu adalah graham ketiga, yang perannya luar biasa vital untuk mengunyah. Jadi, gigi itu tidak boleh dicabut permanen. Dengan predikat ‘keponakan Dr. X’, tentu saya dapat perhatian lebih dari teman sejawat Om saya di RSPP. Gak usah ditanya rasanya perawatan akar itu gimana. Luar biasa! Sebuah jarum dibalut kasa beralkohol dan ditusuk-tusukkan ke lubang gigi sampai ke akar. Begitu terus sampai akar itu sembuh dan syaraf-syarafnya mati. Ya, mati. Sampai sekarang gigi itu masih utuh di dalam mulut saya, dan rasanya hambar, mati rasa.

Pada usia 12 tahun, saya melakukan foto panoramic lagi untuk melihat status akar-akar gigi yang lain. Om saya tiba-tiba memvonis bahwa gigi graham bungsu saya yang belum tumbuh, keempat-empatnya, berada jauh dari ‘jalur’ dan sebaiknya diangkat. Mati gue. Ngebayangin operasi untuk cabut empat gigi di usia 12 tahun? It had never been in my dream! Gigi geraham bungsu atas bahkan letaknya masih jauh dekat saluran eustachius (saluran yang menghubungkan hidung dan telinga). Jelas saya menolak mentah-mentah. Tapi akhirnya, enam tahun kemudian, saya tetap menjalani operasi tersebut karena alasan resiko jika gigi-gigi bandel itu gak turun sama sekali dan membusuk di saluran eustachius. Kebayang?

Sejak kecil pula, takdir sudah menggariskan saya untuk berurusan dengan Orthodontist. Ya, apalagi kalau bukan rahang bawah saya yang tumbuh lebih maju daripada rahang atas sehingga bentuk mulut saya dari samping jauh dari nilai estetis. Dulu saya takut sekali membayangkan pakai kawat gigi permanen. Syukurlah saya sekolah di SMA gaul ibukota, di mana rata-rata muridnya menganggap kawat gigi sebagai sebuah trend dan bagian dari gaya hidup. Good timing, saat itulah saya akhirnya berani memutuskan memakai kawat gigi yang melekat di mulut saya selama 3 tahun. Saat saya lulus SMA dan memasuki universitas, saya punya tampilan baru yang mem-boost rasa percaya diri; gigi rapih dan rata dengan rahang normal. It’s time to shine 🙂

Lantas hubungannya dengan coklat? Ya saya sendiri gak tahu. Yang saya tahu bahwa coklat itu mengandung tidak hanya bubuk kakao tapi juga susu dan gula. Yang saya tahu adalah coklat dalam bentuk apapun, pasti jadi makanan favorit saya. Tapi yang saya gak tahu, adalah kenapa gigi saya selalu bermasalah (bahkan sampai detik ini, gigi-gigi saya masih hobi bikin lubang), padahal dari kecil saya selalu rajin sikat gigi. Beng-beng, choki-choki, nutella, silver queen, meses ceres, bahkan susu UHT rasa coklat pun masih masuk dalam daftar belanja bulanan saya. Saya gak pernah punya masalah dengan coklat lokal, termasuk coklat Monggo yang dark chocolate-nya menurut saya nomor satu. Tapi jelas saya juga pecinta coklat impor, di mana tempat gak luput saya kunjungi setiap kali ke airport nunggu pesawat pulang adalah The Cocoa Trees, saya meraup coklat apapun apalagi kalau ada promo ‘buy 2 get 3’, dan memfokuskan perburuan saya ke coklat praline with hazelnuts. Nyum! Dan karena selama hamil hobi saya adalah makan roti dengan selai coklat, jelas gak heran kenapa Dhara juga suka makanan rasa coklat. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya supaya pada nantinya si cempluk itu gak jadi pasien mingguan dokter gigi seperti saya?

Little Note for My Daughter

I feel like I need to re-post this from my Facebook notes because I don’t want to lose this if Facebook is closed someday.

Little Note for My Daughter

Dear my daughter,

Just like every Mom in the world, I felt overwhelmingly happy when I first saw you in the world. The unbeatable pain when delivering you was gone, a second after I saw your beautiful eyes were staring at me.

Dear my daughter,

I didn’t feel any hurt at the first times I was struggling to breastfeed you. I’ve never ever complained when I had to wake up – many times – at night, whenever you want some milk to vanish your thirst. I am happy to breastfeed you since we’re holding hands, as you always seek for something to grab on while drinking. I feel very close to you and, except God, I feel like no one can tear us apart. I feel like, I’ve never loved someone this much before in my whole life.

Dear my daughter.

Yes, once I was dreaming to have a baby boy. Not because I wanted to see him playing football or becoming a great athlete just like I had dreamed of myself to be. But I wanted him to be a leader, a wise man who can be a role model and become a guardian for his little brothers and sisters, even for his own family in the next phase of life. I and your father really know how big the burden goes to the first child of the family. We knew it very well. We had to set the bar high, we received less attention and we become more independent than anyone else. We had to be tough. We used to be tough. And, since you’re happened to be the first child, you have to be tough as well.

Dear my daughter,

I never feel sorry for having an adorable baby girl like you. I’ve seen you grow up amazingly. I will not ask you to do things you don’t like. I will let you free as what you want to become. Because, my daughter, I and your father don’t want to see you being suffered because of our own selfishness. We always want to see you smile heavenly, not suffered in your own agony.

Dear my daughter,

I am sorry if someday I have to be mad at you. Just believe that I will not mad for something that I don’t like, but for something that is not good for you. I am not going to spoil you, I will let you know when you are doing something wrong, and will give you compliment if you are doing a good things. After all, we are always be proud of you.

Dear my daughter,

Please don’t ever hate me because, until the time is through, I will never ever be able to hate you. You are the part of me, you are something that God has given me as gift. I promise not to let you getting hurt, in any situation. I will always be beside you to accompany, and will be behind your back to push you upward, though I may not always be an angel for you. With me, you can share many things. That’s my duty. That’s why I am here. I am here to take care of you and nurture you to be someone with good mental attitude. And promise to do it at my best, though I may be far from perfection.

Dear my daughter,

I hope these three words could describe it all. I love you. And my only wish is that you always keep in mind that I do.

me and the 9 days old Andhara

Before you were conceived I wanted you; Before you were born I loved you; Before you were here an hour I would die for you; This is the miracle of life – Maureen Hawkins –

‘Divortiare’

Sempat bingung mau bikin judul apa dari perasaan aneh yang berkecamuk tadi malam. Tiba-tiba muncul kata ‘divortiare’, yang saya ingat merupakan judul novel karangan Ika Natassa beberapa tahun silam. Novel yang kalau saya punya tiga jempol, bisa saya acungkan tiga-tiganya sekaligus. Novel yang kalau di Goodreads saya masukkan dalam ‘all-time favorite shelf‘ dan saya kasih empat dari lima bintang.

Memang gak lucu ngebahas isi buku Divortiare di sini, karena ini bukan halaman book review di Goodreads. Tapi kalau ingin  tentang buku ini, silakan lihat review saya di http://www.goodreads.com/book/show/3573143-divortiare#other_reviews.  Saya suka buku ini karena it amazingly taught us so much about the marriage and after-divorced relationship, considering bahwa si pengarang statusnya masih single alias not married yet.

Saya selama ini berpendapat bahwa kata ‘divortiare’ berasosiasi dengan kata ‘divorce’, yang artinya perceraian dalam Bahasa Indonesia. Enggak tahu lah bener atau enggak, yang jelas kata ‘divorce’ itu saat ini seperti sedang jadi trend, tidak lagi suatu hal yang menakutkan seperti jaman dulu. Kim Kardashian bisa kok cerai dalam beberapa minggu pasca pernikahannya (secara dia eksotis, seksi, sensual dan bisa dapet laki-laki lain dalam sekejap, sampai suami saya sendiri adalah fans berat Kim, hahah) artis kita juga luar biasa hebat, mengungumkan perceraian lewat press release selang beberapa bulan setelah media meliput pesta resepsi pernikahan yang memakan biaya milyaran. Kata ‘divorce’ jelas mengalami penurunan makna. Ter-redefinisi sedemikian hebatnya. Kalau orang jaman dulu berpikir jutaan kali untuk menalak/minta ditalak pasangannya, hari gini nggak gitu lah ya….”kalau elu gak mau pake cara gue, ya kita pisah aja.”, atau seperti lagunya Usher yang berjudul Separated yang berbunyi “so why don’t you go your way, and I’ll go mine?” Segampang itu ternyata.

Oke, jadi apa hubungannya sama perasaan saya tadi malam? Jelas bukan ke arah ‘divorce’. Keluarga kecil saya masih baik-baik saja dan mudah-mudahan selamanya begitu. Tadi malam adalah malam ke-tiga saya tidur berdua dengan Dhara. Seperti yang biasa saya lakukan sebelum tidur, saya dekatkan wajah saya, memperhatikan wajah polosnya beberapa menit, memberikannya kecupan beberapa kali, membisikkannya sepatah dua patah kata nasihat (ada yang bilang kalau nasihat yang dibisikkan ke bayi saat ia tidur pulas akan meresap ke dalam jiwanya, walaupun saya gak yakin dengan hal itu, but I just love to talk to her quietly on her sleep).

Malam ke-tiga sejak suami saya berangkat overseas training-nya yang ke-2 sejak bergabung di perusahaan tersebut pertengahan tahun lalu. Sayang, koneksi wi-fi dan internet di sana buruk sekali, sekalipun dia menginap di hotel Four Points milik Sheraton, tapi kami tidak bisa berkomunikasi sesering biasanya lewat BBM, karena belum ada kerjasama jaringan Blackberry dengan provider telepon selular si suami. Dan karena waktunya di sana sangat padat sehingga sulit cari waktu santai untuk menelepon. Dan, kalau saja Dhara udah agak besar, pasti saya memilih ikut sambil traveling.

Malam ke-tiga yang untungnya belum sampai membuat Dhara rewel seperti kejadian beberapa bulan yang lalu saat Ayahnya pergi hampir dua minggu. Kali ini, sebelum suami pergi, saya sudah siap dengan baju bekas pakainya, jaga-jaga kalau si anak kangen si Ayah. Alhamdulillah, sampai tadi malam belum rewel sama sekali. Dhara itu bisa dibilang Gemini yang super sensitif. She has the real two contradictive personalities of Gemini. Di satu sisi, dia adalah anak super riang dan easy to get along with others. Anak yang energi-nya gak habis-habis kalau dibawa jalan-jalan. Anak yang memilih tidur di perjalanan, to recharge her battery, dan kembali siap beraksi di tempat tujuan berikutnya. Tapi di sisi lain, anak ini juga bisa terbilang super sensitif. She would recognize people who doesn’t really like her or her parents. She wouldn’t smile at them, sekalipun orang itu udah setengah mati becandain dia. Heran, kok dia bisa tahu bahwa Ibu/Ayah-nya gak ‘klik’ sama orang itu, ya?

Jadi, di situlah, saat tadi malam saya memperhatikan wajah polos dengan pipinya yang bulat, saya bisa merasakan kerinduan akan si Ayah di sana. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya yang harus berada di posisi Ayahnya sekarang, sedangkan setiap saya rushing untuk pulang ke rumah, dia selalu menyambut saya sambil lompat-lompat di Jumperoo-nya, dengan senyum paling manisnya, dan merengek kalau saya tidak segera menggendong dan menyusuinya. Tadi malam saya baru merasakan rasa kehilangan saat si suami tidak ada di rumah. Lucu, kalau bukan gara-gara anak ini, saya BIASA AJA kalau suami pergi dinas. Paling-paling ‘ngedumel’ karena gak bisa nganter sana-sini dan saya jadi harus pakai taksi kalau kemana-mana (salah siapa, kenapa juga dari dulu gak mau nyetir sendiri?!), tapi selebihnya saya justru merasa bebas dengan menjadi single fighter untuk sementara. Gak perlu mikirin besok suami pakai baju yang mana, gak perlu janjian ketemu di mana, gak perlu mikirin makan malem apa. I just call the delivery service for pan pizza, do shopping without time limit or complain, other words, I happily do things on my own. *backsound lagu Independent Women by Destiny’s Child. Tapi, tadi malam, sekalipun si suami selalu makan tempat tidur sampai separo (dan hanya menyisakan separo untuk saya berdua dengan Dhara), seringkali menyebalkan, seringkali bikin lemari berantakan, tapi tetap saja dia adalah bagian dari kehidupan saya yang tidak terpisahkan. Last night I felt incomplete without him.

Dan saya sesaat merenung, kalau sebuah keluarga yang seharusnya utuh, lalu becerai-berai. Mungkin rasa kehilangan akan ketiadaan pasangan bisa dikalahkan oleh ego masing-masing. Bisa cari orang lain. Bisa cari yang BARU. Tapi, kerinduan semacam apa yang terbayang di mata si anak saat Ayah/Ibu-nya, salah satunya, selamanya tidak lagi bisa berada di sisinya bersama-sama? This must be even worse than the ‘divorce’ itself.