Twitter Trouble

Geli kalau inget kemarin sempet bersitegang sama orang lewat twitter. Saya bukan twitter-person, yang setiap sepuluh menit sekali nge-twit. Buat saya nge-twit sesuatu itu harus ada maknanya, atau ada tujuannya. Nah, sekarang, mana bisa bikin kalimat bermakna dengan 140 karakter yang tersedia? Buat saya, that doesn’t make any sense. Dan itu yang membuat saya sampe sekarang masih stick my heart to facebook.

Nah, karena saya gak pernah buka twitter itulah, pas sekali-sekalinya saya buka, saya lihat ada tweet emosional seseorang yang sepertinya ditujukan ke saya. Saya agak kepancing, langsung saya buat tweet di page saya sendiri. Saya pikir, toh kalau memang tweet orang itu bukan tertuju ke saya, dia juga gak bakal ‘ngeh’ sama tweet balasan saya. Gak lama BB saya bunyi lagi. New notification. Entah dari siapa, tapi bahasanya ofensif luar biasa. Dan kata-kata terakhirnya dia bilang: “get a life!” Hah?!

Saya betul-betul gak ngerti, apa yang orang tersebut maksud dengan kalimat “get a life”, padahal orang itu gak kenal saya, eh saya deh yang gak kenal dia. Dia mungkin kenal saya lewat orang yang dibelanya tersebut. Orang yang merasa offended sama tweet saya. Lucu. Gimana orang itu bisa offended sama tweet saya, kalau memang tweet dia sebelumnya memang bukan mengarah ke saya? Bisa dicerna, kan? Berarti tweet dia sebelumnya memang mengarah ke saya, kan?

Kata “get a life” yang ditujukan ke saya itu sendiri, saya gak ngerti maksudnya. I have life. I have plan for my life. Kalau kalian pikir having life is equal to having fun to the max, ya monggo. Kalau orang yang gak party-party dan minum-minum itu dianggap gak having life, oh kalian sempit sekali sudut pandangnya. Parameter having life buat tiap orang itu beda-beda, loh. Apa kalian bisa nge-judge kehidupan orang lain? Apa kalian udah merasa having life? Oh ya, satu lagi, saya tahu saya bukan pengguna gadget keluaran Apple dan mungkin kelihatan terlalu excited waktu tahu Instagram dibeli Android, but so what? Saya ngutak-ngutik Photoshop sejak lama, bahkan meng-edit foto prewed saya sendiri, dan buat saya gak ada sesuatu yang istimewa dengan application bernama Instagram. Saya cuma penasaran., karena orang-orang di sekeliling saya memang tidak mainan Instagram. Pengen tahu aja, di mana sih bagusnya? Did I tell you that? Then my question is; am I bothering you? Are you affected from anything that I do? Dan tweet balasan kedua ini buat saya udah sangat gak masuk akal. If you’re trying to make me mad, then you did the wrong move, baby. I wouldn’t get insulted just because I downloaded Instagram from Android. Lah, tablet saya yang punya, apa urusannya sama situ?

But experience taught me all. Beruntung di masa yang lalu, saya sudah pernah berurusan sama orang-orang atau pihak yang lebih ‘penting’ daripada seorang kolega yang lebih muda dari saya. You’re a piece of cake, honey. Makanya saya bilang, I used to deal with this. Saya kerja di delapan tempat, dan rata-rata saya keluar karena merasa diperlakukan tidak fair, atau ada peraturan yang tidak membela karyawan. Because I didn’t want to waste my time with those kind of people. Makin ke sini, saya sadar, di manapun kita, kita perlu punya kebesaran dan keikhlasan hati. Gak melulu saya harus protes karena ini atau itu. I am no longer an impulsive young woman. Kalau saya gak berubah, justru mungkin saya yang gak bisa personally developed. Bukan maksud curhat, hanya memberitahu. Tolong, gak usah cari masalah dengan saya. I feel so enough and sick with office drama. Dulu, mungkin karena emosi saya masih lebih besar dari akal sehat, dengan modal dokumen code of conduct yang ditandatangani setiap karyawan, saya melaporkan kolega senior yang melakukan bullying secara verbal terhadap saya, sampai-sampai si employer memberi saya ‘uang tutup mulut’ karena takut kalau saya sebarkan hal ini maka akan mencoreng nama baik institusinya. Uang yang jumlahnya 6 kali lipat gaji saya. Saya senang? Jelas. I took the positive side of everything. Pertama, saya dapat uang dadakan buat modal persiapan pernikahan saya, kedua, saya mendapatkan pengalaman paling berharga dalam hidup saya. Di tempat lain, bahkan saya bersitegang sama bos saya sendiri karena merasa tidak diperlakukan adil karena kehamilan saya dipermasalahkan. Saya gak takut, tapi kali ini saya sudah menguji diri saya sendiri untuk lebih berbesar hati. Buat saya, menyuruh saya medical check-up karena keseringan mabuk saat hamil muda sama dengan penghinaan terhadap kaum saya. Saya datang ke HRD, menolak mentah-mentah perintah tersebut, karena baru TIGA BULAN sebelumnya saya dinyatakan lolos medical check-up sebelum diterima bekerja di tempat tersebut. Saya jengkel. Adakah penyakit berbahaya yang menimpa orang hamil muda saat tiga bulan sebelumnya dinyatakan sehat? Saya cuma berusaha sabar, karena saya sedang hamil and I had nowhere to run. Walaupun makan hati dan pada akhirnya saya harus pindah kantor lagi, lagi-lagi saya dapat pelajaran berharga, that sometimes even nice people could turn into assholes.

Dan saya benar-benar kapok untuk buka akun twitter saya lagi. Mendingan tetap stick di facebook, deh.

Advertisements

‘Divortiare’

Sempat bingung mau bikin judul apa dari perasaan aneh yang berkecamuk tadi malam. Tiba-tiba muncul kata ‘divortiare’, yang saya ingat merupakan judul novel karangan Ika Natassa beberapa tahun silam. Novel yang kalau saya punya tiga jempol, bisa saya acungkan tiga-tiganya sekaligus. Novel yang kalau di Goodreads saya masukkan dalam ‘all-time favorite shelf‘ dan saya kasih empat dari lima bintang.

Memang gak lucu ngebahas isi buku Divortiare di sini, karena ini bukan halaman book review di Goodreads. Tapi kalau ingin  tentang buku ini, silakan lihat review saya di http://www.goodreads.com/book/show/3573143-divortiare#other_reviews.  Saya suka buku ini karena it amazingly taught us so much about the marriage and after-divorced relationship, considering bahwa si pengarang statusnya masih single alias not married yet.

Saya selama ini berpendapat bahwa kata ‘divortiare’ berasosiasi dengan kata ‘divorce’, yang artinya perceraian dalam Bahasa Indonesia. Enggak tahu lah bener atau enggak, yang jelas kata ‘divorce’ itu saat ini seperti sedang jadi trend, tidak lagi suatu hal yang menakutkan seperti jaman dulu. Kim Kardashian bisa kok cerai dalam beberapa minggu pasca pernikahannya (secara dia eksotis, seksi, sensual dan bisa dapet laki-laki lain dalam sekejap, sampai suami saya sendiri adalah fans berat Kim, hahah) artis kita juga luar biasa hebat, mengungumkan perceraian lewat press release selang beberapa bulan setelah media meliput pesta resepsi pernikahan yang memakan biaya milyaran. Kata ‘divorce’ jelas mengalami penurunan makna. Ter-redefinisi sedemikian hebatnya. Kalau orang jaman dulu berpikir jutaan kali untuk menalak/minta ditalak pasangannya, hari gini nggak gitu lah ya….”kalau elu gak mau pake cara gue, ya kita pisah aja.”, atau seperti lagunya Usher yang berjudul Separated yang berbunyi “so why don’t you go your way, and I’ll go mine?” Segampang itu ternyata.

Oke, jadi apa hubungannya sama perasaan saya tadi malam? Jelas bukan ke arah ‘divorce’. Keluarga kecil saya masih baik-baik saja dan mudah-mudahan selamanya begitu. Tadi malam adalah malam ke-tiga saya tidur berdua dengan Dhara. Seperti yang biasa saya lakukan sebelum tidur, saya dekatkan wajah saya, memperhatikan wajah polosnya beberapa menit, memberikannya kecupan beberapa kali, membisikkannya sepatah dua patah kata nasihat (ada yang bilang kalau nasihat yang dibisikkan ke bayi saat ia tidur pulas akan meresap ke dalam jiwanya, walaupun saya gak yakin dengan hal itu, but I just love to talk to her quietly on her sleep).

Malam ke-tiga sejak suami saya berangkat overseas training-nya yang ke-2 sejak bergabung di perusahaan tersebut pertengahan tahun lalu. Sayang, koneksi wi-fi dan internet di sana buruk sekali, sekalipun dia menginap di hotel Four Points milik Sheraton, tapi kami tidak bisa berkomunikasi sesering biasanya lewat BBM, karena belum ada kerjasama jaringan Blackberry dengan provider telepon selular si suami. Dan karena waktunya di sana sangat padat sehingga sulit cari waktu santai untuk menelepon. Dan, kalau saja Dhara udah agak besar, pasti saya memilih ikut sambil traveling.

Malam ke-tiga yang untungnya belum sampai membuat Dhara rewel seperti kejadian beberapa bulan yang lalu saat Ayahnya pergi hampir dua minggu. Kali ini, sebelum suami pergi, saya sudah siap dengan baju bekas pakainya, jaga-jaga kalau si anak kangen si Ayah. Alhamdulillah, sampai tadi malam belum rewel sama sekali. Dhara itu bisa dibilang Gemini yang super sensitif. She has the real two contradictive personalities of Gemini. Di satu sisi, dia adalah anak super riang dan easy to get along with others. Anak yang energi-nya gak habis-habis kalau dibawa jalan-jalan. Anak yang memilih tidur di perjalanan, to recharge her battery, dan kembali siap beraksi di tempat tujuan berikutnya. Tapi di sisi lain, anak ini juga bisa terbilang super sensitif. She would recognize people who doesn’t really like her or her parents. She wouldn’t smile at them, sekalipun orang itu udah setengah mati becandain dia. Heran, kok dia bisa tahu bahwa Ibu/Ayah-nya gak ‘klik’ sama orang itu, ya?

Jadi, di situlah, saat tadi malam saya memperhatikan wajah polos dengan pipinya yang bulat, saya bisa merasakan kerinduan akan si Ayah di sana. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya yang harus berada di posisi Ayahnya sekarang, sedangkan setiap saya rushing untuk pulang ke rumah, dia selalu menyambut saya sambil lompat-lompat di Jumperoo-nya, dengan senyum paling manisnya, dan merengek kalau saya tidak segera menggendong dan menyusuinya. Tadi malam saya baru merasakan rasa kehilangan saat si suami tidak ada di rumah. Lucu, kalau bukan gara-gara anak ini, saya BIASA AJA kalau suami pergi dinas. Paling-paling ‘ngedumel’ karena gak bisa nganter sana-sini dan saya jadi harus pakai taksi kalau kemana-mana (salah siapa, kenapa juga dari dulu gak mau nyetir sendiri?!), tapi selebihnya saya justru merasa bebas dengan menjadi single fighter untuk sementara. Gak perlu mikirin besok suami pakai baju yang mana, gak perlu janjian ketemu di mana, gak perlu mikirin makan malem apa. I just call the delivery service for pan pizza, do shopping without time limit or complain, other words, I happily do things on my own. *backsound lagu Independent Women by Destiny’s Child. Tapi, tadi malam, sekalipun si suami selalu makan tempat tidur sampai separo (dan hanya menyisakan separo untuk saya berdua dengan Dhara), seringkali menyebalkan, seringkali bikin lemari berantakan, tapi tetap saja dia adalah bagian dari kehidupan saya yang tidak terpisahkan. Last night I felt incomplete without him.

Dan saya sesaat merenung, kalau sebuah keluarga yang seharusnya utuh, lalu becerai-berai. Mungkin rasa kehilangan akan ketiadaan pasangan bisa dikalahkan oleh ego masing-masing. Bisa cari orang lain. Bisa cari yang BARU. Tapi, kerinduan semacam apa yang terbayang di mata si anak saat Ayah/Ibu-nya, salah satunya, selamanya tidak lagi bisa berada di sisinya bersama-sama? This must be even worse than the ‘divorce’ itself.