The Sequence of Vacations

Yay! Hotel di Bali sudah di tangan. Dengan membeli voucher lewat Living Social yang cukup menghemat beberapa ratus ribu rupiah, senyum saya minggu ini pun mengembang. Tidak ada lagi keraguan menginap di Hotel X tersebut, with a full package that comes with a relatively cheap price, plus Kids Club and Kids Swimming Pool provided in hotel. Pada akhirnya kami tidak terlalu peduli bahwa jarak hotel ke pantai bukan sekedar walking distance, karena kami juga akan menyewa mobil selama di sana.

Separuh tahun terakhir di 2013, agenda saya lumayan padat. Mulai dari rencana mendadak ke Bali karena suami kayaknya kangen banget ke sana, jalan-jalan ke kampung halaman saya di Bukittinggi di bulan November, dan a typical family holiday — with Dhara — di akhir tahun. We haven’t decided where to go, tapi kemungkinan besar, saya ingin ajak keluarga ke Hongkong, so that Dhara can meet the Disney’s Princessess 🙂

Dan tiba-tiba kamarin saya chatting dengan seorang sahabat, dan seketika itu pula kami merencanakan liburan berdua saja, to our dream destination: Boracay. Kami sibuk mencari tiket di website-website budget airlines, dan tiket paling murah yang saya dapatkan adalah awal April tahun depan, di angka 2,7 juta PP. To be honest, saya yang selalu menggusung prinsip budget-travel ini rasanya keberatan. Apa? dua juta lebi buat 1 orang? Dulu aja saya ke Phuket hanya bermodal 600 ribu PP, ke Kuala Lumpur 500 ribu PP, bahkan Ho Chi Minh cuma 750 ribu PP. Dua juta sekian rasanya bukan harga yang friendly apalagi tujuan kita memang backpacking. Ya, saya rindu ber-backpacking, jalan-jalan dengan satu ransel dan satu tote bag anti air serbaguna. Sesuatu yang belums sempat saya rasakan lagi sejak saya hamil di akhir 2010 lalu.

Langkah selanjutnya adalah minta ijin ke suami. Eh, gak disangka dia setuju2 aja tanpa kepingin ikut. Terlebih anak saya di bulan itu pun sudah hampir 3 tahun, jadi seharusnya udah gak masalah ditinggal selama 5 hari. Sampai detik ini saya masih dilema, antara beli tiket atau nunggu sampai ada promo tiket murahnya AA, Tiger atau CebuPacific. Tapi, apa iya bakal ada promo tiket murah ke sana? Secara dari Desember sampai May, Boracay sedang high season. Kalaupun ada tiket promo, mungkin ada untuk penerbangan tahun depannya lagi which is I cannot wait for that long.

Oh, kenapa si Boracay dengan pasir putih dan air biru beningnya itu menari-naru di pelupuk mata saya terus, sih?? I feel like they’re calling my name 😦

Boracay_Travel_Tips

Advertisements

Raya Raya

Barusan lihat satu op-ed di The Malaysian Insider. Topiknya tentang Lebaran, tapi di judulnya si penulis menamainya dengan Raya. Ah ya, saya baru ngeh. Raya itu kan artinya Lebaran untuk warga Malaysia. Si penulis bilang bahwa rata-rata pekerja di sana rebutan mengambil cuti panjang untuk pulang ke kampung halaman. Harga tiket pesawat pun melonjak 2-3 kali lipat. Dan setelah saya baca artikel sampai habis, memang ternyata orang Malaysia tidak ada bedanya dengan orang Indonesia. Bahwa kita ini memang benar serumpun, benar dari nenek moyang yang sama, dan benar mungkin ada beberapa kebudayaan yang sama. Tapi kenapa sih, gak pernah rukun?

Kadang-kadang, hal yang diberitakan di masing-masing negara tentang negara serumpun-nya itu suka lebay. Padahal, tingkat ketergantungan kedua negara cukup tinggi. Banyak pekerja buruh Indonesia yang mencari sesuap nasi di sana. Sejak tahun 2000-an, pekerja konstruksi/bangunan dari Indonesia berbondong-bondong ke sana. Darimana saya tahu? Saya dengar sendiri dari teman-teman waktu saya bekerja di salah satu perusahaan BUMN konstruksi, bahwa bekerja di Malaysia lebih menjanjikan daripada di sini. Jelas, karena living cost dan tingkat kehidupan mereka lebih baik daripada kita, jadi ya pasti standar gaji dan kesejahteraannya pun di atas kita. Saya juga aware, betapa banyaknya orang Indonesia yang melancong ke Malaysia. Jangan cuma sebut penduduk Jakarta, ada keterkaitan emosional dan historikal yang erat antara orang Medan dengan orang Penang, sebuah pulau kecil di bagian Barat Laut Malaysia. Dasarnya ya karena mereka sama-sama keturunan peranakan. Tidak heran, Airasia saja mempunyai frekuensi flight Medan-Penang lebih banyak daripada Jakarta-Penang. Waktu saya ke Penang, bandara penuh dengan orang Medan yang berbisnis di Penang. Tidak terkecuali orang-orang Sumatera lainnya seperti dari Palembang dan Jambi. Sebaliknya, orang Malaysia berbondong-bondong ke Bandung. Bandung ibarat surga belanja untuk mereka, karena notabene harga barang-barang di Malaysia lebih tinggi daripada di Indonesia. Alasan lain ke Bandung mungkin karena mereka juga tidak suka hiruk-pikuk dan kemacetan Jakarta, sementara di Bandung, lalu lintas kalau bukan weekend kan tidak terlalu padat. Belum lagi kuliner Bandung yang sangat menggoda. Jangan heran kalau masuk factory outlet di Bandung, banyak rombongan berbahasa Melayu walaupun tampang gak ada bedanya sama orang kita. Waktu ke KL kemarin, di Bandara LCCT saya ketemu dan ngobrol sama beberapa orang Malaysia yang habis ngeborong berkoper-koper dari Bandung.

Akhir Mei lalu, saya pergi ke KL beserta suami dan anak. Agak banyak juga yang mempertanyakan, kok Dhara dibawa ke KL sih? Kan lebih enak ke Singapore? Bisa ke Sentosa Island, main di Universal Studio, bla bla bla, dan seterusnya. Saya bilang, saya bosan ke Singapore. Weits, bukan nyombong, selama 27 tahun saya hidup, saya baru 3x kok ke Singapore. Cuma entah kenapa, setiap kali ke sana, bawaannya bosan. Rasanya Singapore cukup dikunjungi dalam waktu 2 hari. Kalau lebih, malah bosan. Apalagi, saya masih Indonesia banget. Gak kuat jalan kaki jauh-jauh. Haha. Jadi, apa kabarnya kalau bawa Dhara ke Singapore dan sebentar-sebentar naik taksi? Bangkrut kan jadinya? 😀 Alasan kedua, karena Dhara masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu Universal Studio. Alasan ketiga, gak tau kenapa, saya pengen aja ke KL lagi setelah kunjungan pertama tahun 2006 lalu. Kayaknya kok banyak yang saya belum explore di KL. Dari Jakarta, saya udah booking segala sesuatunya. Kami punya empat hari di sana, dan saya putuskan bahwa kami menginap di apartemen, karena Dhara masih harus makan makanan home-made. Persiapan traveling saat itu luar biasa repot. Saya sampai bawa-bawa panci segala untuk masak, jaga-jaga kalau di apartemen gak ada panci walaupun ada pantry. Saya dapat info apartemen setelah cari-cari di situs Google. Apartemen Fahrenheit, di kawasan Bukit Bintang. Good one. Harganya cuma 100 RM pula semalam. Murah, meriah, muntah. Tapi dasar saya maunya sok elit, saya takut apartemen tidak sesuai harapan (kotor lah, bau lah, jijik lah, jauh lah), akhirnya saya booking hotel untuk malam terakhir. Rencananya, di hari ke-3, kami cuma jalan-jalan seputar KLCC aja, gak usah jauh-jauh, mengingat pesawat kami pulang ke Jakarta juga jam 1 siang, berarti harus check out agak pagi dari hotel dan pagi itu jelas gak bisa ngapa-ngapain. Setelah browsing di Agoda, saya jatuh cinta dengan Traders Hotel by Shangrila, hotel second line dari grup Shangrila yang harganya lumayan (lumayan nguras dompet, maksudnya). Tapi yasudahlah, kalau di-total untuk akomodasi 3 malam, jatuhnya tetap masih affordable.

Sesampainya di apartemen, saya terkesima luar biasa. Memang apartemennya standar, dengan satu queen-sized bed dan satu single bed. Di dalamnya ada TV, tapi kamar mandi harus sharing dengan 2 kamar lain. Tapi lokasinya betul-betul mengejutkan saya. Letaknya persis di belakang mal. Saya hanya cukup jalan 30-40 meter untuk masuk ke mal tersebut, dan 50 meter jalan ke Sephora. Aaah, surga 😀 Berkali-kali saya titip suami waktu ke Hongkong untuk beliin saya make-up palette Too Faced yang ada di Sephora, tapi dia gak nemu-nemu karena waktunya sempit. Eh, ini Sephora di depan mata 🙂 Apartemen kami letaknya juga cuma 100 meter dari Pavilion Mall, mal terbaru di kawasan tersebut yang isinya kurang lebih sama seperti Grand Indonesia. Kawasan Bukit Bintang juga sangat rapih, dibuat dengan konsep Orchard Road yang kiri-kanan berjejer mall, hotel, butik dan cafe (tertunya dengan harga sedikit lebih miring daripada di Orchard Road). Yang mengejutkan saya lagi adalah, bahwa tingkat kedisiplinan orang Malaysia dalam menyeberang juga sudah mirip orang Singapore. Menyetir mobilpun mereka gak sembarangan seperti di sini. Jadi, pejalan kaki bisa merasa nyaman dan aman.

Suasana jalan di Bukit Bintang

Nyamannya berjalan-jalan

Di depan Mall Pavilion

Aaaa….Sephora!

Hari pertama, saya ajak Dhara ke Berjaya Times Square, yang jauhnya sekitar 400 meter dari apartemen kami, di mana terdapat the largest indoor theme-park in Malaysia. Bukan sesuatu, sih, tapi karena kali ini udah diniatin jalan-jalan buat Dhara, ya pasti kita cari sesuatu yang possibly excites her. Dan ternyata memang sangat besar tempatnya. Terdiri dari tiga lantai, yang sudah diklasifikasikan untuk setiap golongan umur. Lantai paling bawah adalah khusus untuk toddler dan anak balita, dengan permainan yang simpel dan dekorasi yang colorful, lengkap dengan nursing room yang besar. Wow, salut! Pantesan harganya lumayan mahal, 80 RM per orang, tapi gak masalah karena sebanding dengan fasilitasnya yang lengkap.

Berjaya Times Square

Hari berikutnya, saya mengurung niat ke Genting, dengan pertimbangan Dhara juga tidak akan nyaman dengan lamanya perjalanan yang melelahkan. Akhirnya saya putuskan pagi itu untuk pergi ke Sunway Lagoon, dan kemudian sorenya kalau masih sempat kita mampir ke Butterfly Park. Perjalanan ke Sunway tidak terlalu jauh. Sekitar 100 RM dengan taksi. Tapi lagi-lagi jiwa avonturir saya dan suami muncul, kita nekat pergi dengan MRT (yang namanya KTM) sampai ke Subang, stasiun terdekat dari Sunway. Sampai sana, kita baru nyambung taksi. Taksi di Malaysia memang sebagian besar tidak pakai argo, tapi supir-supirnya cukup ramah dan bisa berbahasa Inggris sehingga memudahkan percakapan. On the way ke Sunway Lagoon, dia banyak bercerita soal tempat-tempat wisata di seputar KL. Setiap melewati bangunan tertentu, dia pun bisa menceritakan sejarah atau sekilas tentang bangunan tersebut. Dhara benar-benar menikmati Sunway Lagoon sampai sore. Selain mempunyai kolam renang yang menyerupai pantai lengkap dengan pasir buatan dan arus ombak buatan, Sunway Lagoon juga punya semacam kebun binatang yang jenis varian hewannya membuat saya sakit hati. Di Jakarta, Ragunan atau bahkan Taman Safari, hewannya tidak seberagam ini. Tempatnya pun luar biasa bersih tanpa sampah, dan beberapa unggas dibiarkan jalan berseliweran di jalan kita. Bahkan, di butterfly farm, kupu-kupu bebas beterbangan mengelilingi kita. Cantiknya! Masih kepikir, kenapa di Jakata gak bisa dibuat tempat serupa???

Swimming like a pro 😀

Burung berseliweran

Dhara gak takut kupu-kupu!

Hari udah menunjukkan jam 4 sore saat saya memaksa Dhara keluar dari kolam renang. Dia nangis meraung-raung, karena sangat menikmati berenang di sana. Walaupun cukup ramai, tapi masing-masing orang tahu diri untuk tidak berenang ‘serius’ dan nabrak-nabrak orang lain. Air kolam hangat, tidak dingin, ini yang membuat Dhara betah sekali berenang mengapung dengan life-vest ungu yang saya beli seharga 50 RM di salah satu toko di sana. Tiket Sunway memang agak mahal, sekitar 80 RM per orang untuk 3 park dan 100 RM untuk 5 park. Karena Dhara tidak mungkin masuk ke Extreme Park dan Scream Park, jadi kami hanya beli tiket untuk Water Park, Wildlife Park and Amusement Park. Setelah berenang dan mandi, Dhara langsung minta susu dan tidur pulas 🙂 Ya sudah, ke Butterfly Park nya jadi terasa gak perlu, kan sudah lihat banyak kupu-kupu di Sunway.

Keesokan harinya, kami check out dari apartemen untuk menuju ke Traders Hotel. Setelah packing barang-barang hasil borong dari Sephora, Mothercare, Unilqlo dan Body Shop (anehnya saya sama sekali gak beli Vincci!), kami bergegas ke Traders. Traders Hotel letaknya persis menghadap Petronas Twin Tower. Kalau jalan jauhnya sekitar 700 meter, tapi kita bisa jalan dengan teduh dan nyaman melewati Convention Center, tidak harus lewat taman di luar. Saya heran karena di KL saya menemukan kenyamanan dan kemudahan di mana-mana. Harga hotel per malam 420 RM, dengan free shuttle (seperti mobil golf) ke Suria KLCC at every 15 minutes. Lagi-lagi saya ‘dipaksa’ belanja ke mal. Hehe. Tapi tujuan kami dari awal bukan Suria KLCC, melainkan Aquaria, sejenis Sea World di Indonesia. Ternyata, Aquaria justru jaraknya lebih dekat lagi dari Traders. Benar-benar menyenangkan, seperti tinggal di dalam satu tempat yang one-stop entertainment, mixed between business and leisure. Hebat deh konsepnya mereka. Aquaria, more or less, memang seperti Sea World, tapi varian ikannya lebih banyak dan atraksi yang lebih menarik untuk pengunjung (misalnya, feeding the Piranha atau sleep with Sharks). Tiket masuk 45 RM per orang. Pengunjung tidak diperkenakan makan dan minum di dalam, dan ini benar-benar membuat Aquaria bersih dan nyaman.

Depan replika Shark

Giant Aquarium

Keesokan harinya, saat berangkat ke LCCT, kami kembali memanggil taksi yang kami tumpangi sepulangnya dari Sunway Lagoon ke Bukit Bintang. Namanya Pak Abdul, keturunan Arab. Ramah dan baik sekali. Kami mendapat harga 70 RM untuk taksi dari KLCC ke LCCT. Di perjalanan, dia menawarkan untuk mampir dulu ke Putrajaya. betapa ia membanggakan pemerintah dengan adanya kota pemerintahan di Putrajaya, sehingga aktivitas pemerintahan bisa dipusatkan di satu tempat. Putrajaya kosong saat itu karena hari Minggu. Kantor-kantor dengan bangunan modern berjejer di kiri-kanan, termasuk mess seperti apartemen kelas menengah, sebagai tempat tinggal para pegawai pemerintah dari Senin-Jumat. Dia menawarkan untuk memfoto kami di depan jembatan Putrajaya yang menjadi icon, kemudian meneruskan perjalanan ke LCCT sambil bercerita. Anak pertamanya hampir lulus dari fakultas kedokteran. Pemerintah yang membayar seluruh biayanya, dengan catatatan selepas lulus, dia harus bekerja dan membayar sebagian gajinya untuk pemerintah, dalam beberapa tahun pertama. Itu membuatnya bersyukur, karena mana mungkin dia mampu menyekolahkan anaknya di sekolah dokter kalau harus dibayarkan di awal?

Ah, kalau saja sistem di Indonesia bisa dibuat seperti itu, paling tidak untuk anak-anak pintar yang berasal dari keluarga kurang mampu bisa mendapat kesempatan yang sama dan bisa meraih cita-citanya. Sekarang saya baru sadar, bahwa walaupun pemerintah Malaysia masih otoriter dan represif terhadap rakyatnya, tapi toh seorang supir taksi saja masih bisa bersyukur dan hidup tenang tanpa memikirkan biaya sekolah anak yang luar biasa mahal. Apakah selamanya pemerintah mereka lebih buruk dengan pemerintah Indonesia yang disebut-sebut demokratis dan menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi, tapi rakyatnya mengais-ngais BLT dan sembako murah untuk bisa makan?

Saya jadi ingat iklan provider seluler 3 (three). Dia bilang kebebasan itu tanpa batas. Cukup 50 ribu rupiah untuk akses gratis selama setahun ke 10 situs favorit. See what I’m saying? Akses gratis selama setahun ke 10 situs. Jadi kalau saya mau akses ke situs ke-11 atau ke-12, bayarnya nambah lagi, dong. Lha, apanya yang bebas? 

Petronas Twin Tower dari jendela hotel

Take Me Home

This is my second night in Bangkok.

Feels like I’ve been here for 2 months. Yes, that bad.

I am still struggling not to remember my daughter at home and stop thinking about her. Exactly, right guess, I couldn’t do that. It is easier to be said than done. Moreover, I suddenly miss my hubby, too.

I’d been wondering why Airasia never give me chance to book ticket to Bangkok, yet today I am so thankful for that. I could not see any good points from this city. Traffic is like hell, heavy rain will lead the city into flooding. Sounds familiar, huh? It’s not so different with Jakarta. Though they have built the mass rapid transport called MRT like in Singapore, also BTS sky train that helps connecting places without worry with the bloody traffic. Things that Jakarta doesn’t have. But at least in Jakarta, people will understand if I talk, while here I’ve got some troubles to communicate with the sales girl or taxi driver.

Never mind.

I love visiting new places and learn to find out the way. Yesterday, after arrived safely in Bangkok, I took the airport link which claims that we only need 15 minutes to get into the city. Unluckily, the train came after I waited for half an hour. So in total I had to spend 45 minutes.

Right after stopped in the city station, I took taxi to the hotel. It was quite cheap because the taxi had to use meter. I was rushing to check in, dropped my luggage, and running to find another taxi to go to my regional office. It took 5 minutes until the driver said OK, means he knew where I was going, and charged me for 150 baht (around Rp. 45,000). Perhaps the taximeter is not valid for tourist, though my face sometimes recognized as Filipinos or Thai people, but I don’t speak in Thai. So yes, I’m a tourist.

And that bloody traffic made me crazy. I reached the office at 5 pm and it was like I had spent 12 hours that day from wake up in the morning until arrived at my office. It was insanely happened. I took the 9.45 am flight to Bangkok, when I had to leave home at 5.30 before the morning rush hour. I landed at 1.15 pm and check out from immigration at 2 pm, and still, I arrived at the office three hours later. I suddenly hate this city so much.

After meeting today, at around 6 pm, I went to the mall to buy dinner and buy some stuff for sisters and brother. The faster the better, so that tomorrow and the day after, I wouldn’t have any other burden and hopefully could enjoy the remaining time. I stopped at the National Stadium station and I was about to go to MBK mall, while accidentally I found the signboard to Madame Tussaud. Oh well, that’s my first luckiness in Bangkok. Because I am traveling alone, I had to be friendlier to other tourist so that I could ask their help to take photograph of myself. So that was how I spent my evening today (right now I am writing just to kill some times as I don’t feel like sleeping).

I am looking forward for Saturday. No matter how good my plan to visit Grand Palace and hop into Chao Praya boat on that day, I more want to be home. I left my heart there.

Aerophobic Traveler

Pernah dengar orang yang suka sekali jalan-jalan, mengunjungi tempat-tempat baru di seluruh dunia, tapi takut terbang dengan pesawat? At least, di dunia ini ada satu. Saya.

Ya. Itulah. 5 hari menjelang keberangkatan saya ke Bangkok, saya cemas luar biasa. Sudah lama saya tidak melakukan perjalanan dengan pesawat…sendirian. Biasanya, paling nggak saya pergi bareng kolega. Kalau liburan jelas pergi bareng keluarga. Pengalaman terbang sendiri cuma 1x saya rasakan waktu menyusul orangtua ke Batam dalam rangka day trip ke Singapore, tahun 2006. Bahkan waktu itu saya terbang tanpa rasa takut berlebihan, dan lebih berani daripada sekarang.

Tahun 2007, saat pulang ke Jakarta dari Padang, pesawat Garuda saya mengalami turbulence yang lumayan mengocok perut. Pertama kalinya saya merasakan guncangan separah itu, dan rasanya masih menempel di otak saya sampai sekarang. Beberapa kali penerbangan domestik yang saya lakukan selalu mengalami turbulence. Lucunya, saat saya terbang dengan AirAsia menjelajahi Asia Tenggara dengan suami di tahun 2010, I had very pleasant flights tanpa turbulence sama sekali.

Waktu hamil, saya mengalami empat kali penerbangan. Satu business trip, dan tiga liburan. Leisure trip yang pertama saya baru hamil 10 minggu, tujuan Singapore, aman. Giliran waktu saya hamil 4 bulan, saya naik pesawat ke Batam dengan kondisi mencekam. Apalagi saat itu Batam sedang dilanda hujan deras dan banjir. Tapi ternyata, di luar perkiraan saya, penerbangan saat hujan justru less-bumpy dibandingkan ketika mendung dan awan Cumolus Nimbus masih menggulung. Bahkan waktu saya hamil hampir 6 bulan lebih, pesawat Garuda tujuan Jogja, terbang selama 1 jam dengan guncangan kurang lebih sekitar 45 menit. Bayangin, lebih lama waktu yang berlalu dengan goyangan hebat daripada perjalanan yang mulus. Saya antara pasrah dan khawatir, karena saya lagi hamil lumayan besar, dan kalau ada apa-apa, saya gak tau apa bisa menyelamatkan diri dengan cepat. Di sebelah, bos saya sibuk main game di iPhone-nya, sambil mendengarkan lagu keras-keras melalui earphone yang terdengar jelas dari luar. Well, dia juga takut ternyata. Saat mendarat, pesawat kami bouncing 2-3 kali. Astaga, luar biasa rasanya. I felt like I had the second life after the airplane landed on the ground.

Pasca melahirkan, penerbangan pertama yang saya lakukan adalah ke Kuala Lumpur, bersama anak dan suami. Judulnya liburan. Pertama kalinya saya memangku bayi selama perjalanan. Dan ternyata, saya jauh lebih stres daripada Dhara. Waktu kaki saya ga bisa diam di pesawat, Dhara malah bingung ngeliatin saya. Ayahnya ketawa-ketawa. Ah, didn’t you know that we were traveling with baby? I didn’t want to let bad things happen to Dhara, that was why my knees were shaking. Bayangin lagi, ketika take off saja, pesawat sudah oleng kena turbulensi, jatuh sekitar beberapa meter saat sedang menanjak di angkasa. Awan Jakarta pagi itu memang sangat tebal. Dan saya makin gak bisa tenang saat pramugari mengumumkan bahwa dalam setengah jam ke depan kami akan melewati cuaca buruk. Petir menyambar di sisi kanan sayap pesawat. Kalau bukan untuk liburan, saya pasti sudah mengutuk2 penerbangan itu setengah mati.

Dan sejak saya issuing tiket ke Bangkok kemarin, saya mulai gelisah gak bisa tidur. Padahal saya tahu, turbulence kemungkinan besar akan terjadi, tapi gak tahu tingkat keparahannya seperti apa dan lamanya seberapa. Saya juga tahu, kalau saya pergi sendirian, saya toh masih bisa bertegur sapa dengan penumpang lain jika pesawat tidak terbang dengan mulus, demi menetramkan hati saya dan memberi saya sebuah distraction daripada melihat gumpalan awan ataupun kilat di jendela. Ujung-ujungnya, saya cuma bisa pasrah. Saya tidak pernah sekalipun bisa tidur di dalam pesawat, dan sebutir tablet antimo juga ternyata tidak mempan untuk membuat saya tidur (saya pernah mencobanya di tahun 2010 lalu). Membaca majalah pun tidak bisa fokus. Apalagi sekarang, kekhawatiran saya double karena harus menginggalkan anak di rumah selama 3 malam. Saya trauma naik Garuda, walaupun katanya dia best airline dan dapet beberapa achievements akhir-akhir ini. Sementara, mau naik pesawat lain seperti Singapore Airlines, saya harus transit dan itu lebih saya takuti karena saya harus empat kali mengalami take off dan landing dalam satu roundtrip. Pilihan lain dengan naik Thai Airways yang juga direct, tapi schedule-nya lebih memberatkan saya, karena harus berangkat sehari sebelum acara dan membuat saya harus berpisah dengan Dhara selama 4 malam. Ya Allah, please give me strength to do this. I’ve never been separated with her even for one night! Tampaknya kalau udah begini, saya harus pasrah, supaya Dia yang mengatur segalanya. Saya tetap meyakini bahwa takdir ada di tanganNya.

Tapi, boleh kan ya besok minum 2 tablet antimo sekaligus?