Take Me Home

This is my second night in Bangkok.

Feels like I’ve been here for 2 months. Yes, that bad.

I am still struggling not to remember my daughter at home and stop thinking about her. Exactly, right guess, I couldn’t do that. It is easier to be said than done. Moreover, I suddenly miss my hubby, too.

I’d been wondering why Airasia never give me chance to book ticket to Bangkok, yet today I am so thankful for that. I could not see any good points from this city. Traffic is like hell, heavy rain will lead the city into flooding. Sounds familiar, huh? It’s not so different with Jakarta. Though they have built the mass rapid transport called MRT like in Singapore, also BTS sky train that helps connecting places without worry with the bloody traffic. Things that Jakarta doesn’t have. But at least in Jakarta, people will understand if I talk, while here I’ve got some troubles to communicate with the sales girl or taxi driver.

Never mind.

I love visiting new places and learn to find out the way. Yesterday, after arrived safely in Bangkok, I took the airport link which claims that we only need 15 minutes to get into the city. Unluckily, the train came after I waited for half an hour. So in total I had to spend 45 minutes.

Right after stopped in the city station, I took taxi to the hotel. It was quite cheap because the taxi had to use meter. I was rushing to check in, dropped my luggage, and running to find another taxi to go to my regional office. It took 5 minutes until the driver said OK, means he knew where I was going, and charged me for 150 baht (around Rp. 45,000). Perhaps the taximeter is not valid for tourist, though my face sometimes recognized as Filipinos or Thai people, but I don’t speak in Thai. So yes, I’m a tourist.

And that bloody traffic made me crazy. I reached the office at 5 pm and it was like I had spent 12 hours that day from wake up in the morning until arrived at my office. It was insanely happened. I took the 9.45 am flight to Bangkok, when I had to leave home at 5.30 before the morning rush hour. I landed at 1.15 pm and check out from immigration at 2 pm, and still, I arrived at the office three hours later. I suddenly hate this city so much.

After meeting today, at around 6 pm, I went to the mall to buy dinner and buy some stuff for sisters and brother. The faster the better, so that tomorrow and the day after, I wouldn’t have any other burden and hopefully could enjoy the remaining time. I stopped at the National Stadium station and I was about to go to MBK mall, while accidentally I found the signboard to Madame Tussaud. Oh well, that’s my first luckiness in Bangkok. Because I am traveling alone, I had to be friendlier to other tourist so that I could ask their help to take photograph of myself. So that was how I spent my evening today (right now I am writing just to kill some times as I don’t feel like sleeping).

I am looking forward for Saturday. No matter how good my plan to visit Grand Palace and hop into Chao Praya boat on that day, I more want to be home. I left my heart there.

Aerophobic Traveler

Pernah dengar orang yang suka sekali jalan-jalan, mengunjungi tempat-tempat baru di seluruh dunia, tapi takut terbang dengan pesawat? At least, di dunia ini ada satu. Saya.

Ya. Itulah. 5 hari menjelang keberangkatan saya ke Bangkok, saya cemas luar biasa. Sudah lama saya tidak melakukan perjalanan dengan pesawat…sendirian. Biasanya, paling nggak saya pergi bareng kolega. Kalau liburan jelas pergi bareng keluarga. Pengalaman terbang sendiri cuma 1x saya rasakan waktu menyusul orangtua ke Batam dalam rangka day trip ke Singapore, tahun 2006. Bahkan waktu itu saya terbang tanpa rasa takut berlebihan, dan lebih berani daripada sekarang.

Tahun 2007, saat pulang ke Jakarta dari Padang, pesawat Garuda saya mengalami turbulence yang lumayan mengocok perut. Pertama kalinya saya merasakan guncangan separah itu, dan rasanya masih menempel di otak saya sampai sekarang. Beberapa kali penerbangan domestik yang saya lakukan selalu mengalami turbulence. Lucunya, saat saya terbang dengan AirAsia menjelajahi Asia Tenggara dengan suami di tahun 2010, I had very pleasant flights tanpa turbulence sama sekali.

Waktu hamil, saya mengalami empat kali penerbangan. Satu business trip, dan tiga liburan. Leisure trip yang pertama saya baru hamil 10 minggu, tujuan Singapore, aman. Giliran waktu saya hamil 4 bulan, saya naik pesawat ke Batam dengan kondisi mencekam. Apalagi saat itu Batam sedang dilanda hujan deras dan banjir. Tapi ternyata, di luar perkiraan saya, penerbangan saat hujan justru less-bumpy dibandingkan ketika mendung dan awan Cumolus Nimbus masih menggulung. Bahkan waktu saya hamil hampir 6 bulan lebih, pesawat Garuda tujuan Jogja, terbang selama 1 jam dengan guncangan kurang lebih sekitar 45 menit. Bayangin, lebih lama waktu yang berlalu dengan goyangan hebat daripada perjalanan yang mulus. Saya antara pasrah dan khawatir, karena saya lagi hamil lumayan besar, dan kalau ada apa-apa, saya gak tau apa bisa menyelamatkan diri dengan cepat. Di sebelah, bos saya sibuk main game di iPhone-nya, sambil mendengarkan lagu keras-keras melalui earphone yang terdengar jelas dari luar. Well, dia juga takut ternyata. Saat mendarat, pesawat kami bouncing 2-3 kali. Astaga, luar biasa rasanya. I felt like I had the second life after the airplane landed on the ground.

Pasca melahirkan, penerbangan pertama yang saya lakukan adalah ke Kuala Lumpur, bersama anak dan suami. Judulnya liburan. Pertama kalinya saya memangku bayi selama perjalanan. Dan ternyata, saya jauh lebih stres daripada Dhara. Waktu kaki saya ga bisa diam di pesawat, Dhara malah bingung ngeliatin saya. Ayahnya ketawa-ketawa. Ah, didn’t you know that we were traveling with baby? I didn’t want to let bad things happen to Dhara, that was why my knees were shaking. Bayangin lagi, ketika take off saja, pesawat sudah oleng kena turbulensi, jatuh sekitar beberapa meter saat sedang menanjak di angkasa. Awan Jakarta pagi itu memang sangat tebal. Dan saya makin gak bisa tenang saat pramugari mengumumkan bahwa dalam setengah jam ke depan kami akan melewati cuaca buruk. Petir menyambar di sisi kanan sayap pesawat. Kalau bukan untuk liburan, saya pasti sudah mengutuk2 penerbangan itu setengah mati.

Dan sejak saya issuing tiket ke Bangkok kemarin, saya mulai gelisah gak bisa tidur. Padahal saya tahu, turbulence kemungkinan besar akan terjadi, tapi gak tahu tingkat keparahannya seperti apa dan lamanya seberapa. Saya juga tahu, kalau saya pergi sendirian, saya toh masih bisa bertegur sapa dengan penumpang lain jika pesawat tidak terbang dengan mulus, demi menetramkan hati saya dan memberi saya sebuah distraction daripada melihat gumpalan awan ataupun kilat di jendela. Ujung-ujungnya, saya cuma bisa pasrah. Saya tidak pernah sekalipun bisa tidur di dalam pesawat, dan sebutir tablet antimo juga ternyata tidak mempan untuk membuat saya tidur (saya pernah mencobanya di tahun 2010 lalu). Membaca majalah pun tidak bisa fokus. Apalagi sekarang, kekhawatiran saya double karena harus menginggalkan anak di rumah selama 3 malam. Saya trauma naik Garuda, walaupun katanya dia best airline dan dapet beberapa achievements akhir-akhir ini. Sementara, mau naik pesawat lain seperti Singapore Airlines, saya harus transit dan itu lebih saya takuti karena saya harus empat kali mengalami take off dan landing dalam satu roundtrip. Pilihan lain dengan naik Thai Airways yang juga direct, tapi schedule-nya lebih memberatkan saya, karena harus berangkat sehari sebelum acara dan membuat saya harus berpisah dengan Dhara selama 4 malam. Ya Allah, please give me strength to do this. I’ve never been separated with her even for one night! Tampaknya kalau udah begini, saya harus pasrah, supaya Dia yang mengatur segalanya. Saya tetap meyakini bahwa takdir ada di tanganNya.

Tapi, boleh kan ya besok minum 2 tablet antimo sekaligus?

Twitter Trouble

Geli kalau inget kemarin sempet bersitegang sama orang lewat twitter. Saya bukan twitter-person, yang setiap sepuluh menit sekali nge-twit. Buat saya nge-twit sesuatu itu harus ada maknanya, atau ada tujuannya. Nah, sekarang, mana bisa bikin kalimat bermakna dengan 140 karakter yang tersedia? Buat saya, that doesn’t make any sense. Dan itu yang membuat saya sampe sekarang masih stick my heart to facebook.

Nah, karena saya gak pernah buka twitter itulah, pas sekali-sekalinya saya buka, saya lihat ada tweet emosional seseorang yang sepertinya ditujukan ke saya. Saya agak kepancing, langsung saya buat tweet di page saya sendiri. Saya pikir, toh kalau memang tweet orang itu bukan tertuju ke saya, dia juga gak bakal ‘ngeh’ sama tweet balasan saya. Gak lama BB saya bunyi lagi. New notification. Entah dari siapa, tapi bahasanya ofensif luar biasa. Dan kata-kata terakhirnya dia bilang: “get a life!” Hah?!

Saya betul-betul gak ngerti, apa yang orang tersebut maksud dengan kalimat “get a life”, padahal orang itu gak kenal saya, eh saya deh yang gak kenal dia. Dia mungkin kenal saya lewat orang yang dibelanya tersebut. Orang yang merasa offended sama tweet saya. Lucu. Gimana orang itu bisa offended sama tweet saya, kalau memang tweet dia sebelumnya memang bukan mengarah ke saya? Bisa dicerna, kan? Berarti tweet dia sebelumnya memang mengarah ke saya, kan?

Kata “get a life” yang ditujukan ke saya itu sendiri, saya gak ngerti maksudnya. I have life. I have plan for my life. Kalau kalian pikir having life is equal to having fun to the max, ya monggo. Kalau orang yang gak party-party dan minum-minum itu dianggap gak having life, oh kalian sempit sekali sudut pandangnya. Parameter having life buat tiap orang itu beda-beda, loh. Apa kalian bisa nge-judge kehidupan orang lain? Apa kalian udah merasa having life? Oh ya, satu lagi, saya tahu saya bukan pengguna gadget keluaran Apple dan mungkin kelihatan terlalu excited waktu tahu Instagram dibeli Android, but so what? Saya ngutak-ngutik Photoshop sejak lama, bahkan meng-edit foto prewed saya sendiri, dan buat saya gak ada sesuatu yang istimewa dengan application bernama Instagram. Saya cuma penasaran., karena orang-orang di sekeliling saya memang tidak mainan Instagram. Pengen tahu aja, di mana sih bagusnya? Did I tell you that? Then my question is; am I bothering you? Are you affected from anything that I do? Dan tweet balasan kedua ini buat saya udah sangat gak masuk akal. If you’re trying to make me mad, then you did the wrong move, baby. I wouldn’t get insulted just because I downloaded Instagram from Android. Lah, tablet saya yang punya, apa urusannya sama situ?

But experience taught me all. Beruntung di masa yang lalu, saya sudah pernah berurusan sama orang-orang atau pihak yang lebih ‘penting’ daripada seorang kolega yang lebih muda dari saya. You’re a piece of cake, honey. Makanya saya bilang, I used to deal with this. Saya kerja di delapan tempat, dan rata-rata saya keluar karena merasa diperlakukan tidak fair, atau ada peraturan yang tidak membela karyawan. Because I didn’t want to waste my time with those kind of people. Makin ke sini, saya sadar, di manapun kita, kita perlu punya kebesaran dan keikhlasan hati. Gak melulu saya harus protes karena ini atau itu. I am no longer an impulsive young woman. Kalau saya gak berubah, justru mungkin saya yang gak bisa personally developed. Bukan maksud curhat, hanya memberitahu. Tolong, gak usah cari masalah dengan saya. I feel so enough and sick with office drama. Dulu, mungkin karena emosi saya masih lebih besar dari akal sehat, dengan modal dokumen code of conduct yang ditandatangani setiap karyawan, saya melaporkan kolega senior yang melakukan bullying secara verbal terhadap saya, sampai-sampai si employer memberi saya ‘uang tutup mulut’ karena takut kalau saya sebarkan hal ini maka akan mencoreng nama baik institusinya. Uang yang jumlahnya 6 kali lipat gaji saya. Saya senang? Jelas. I took the positive side of everything. Pertama, saya dapat uang dadakan buat modal persiapan pernikahan saya, kedua, saya mendapatkan pengalaman paling berharga dalam hidup saya. Di tempat lain, bahkan saya bersitegang sama bos saya sendiri karena merasa tidak diperlakukan adil karena kehamilan saya dipermasalahkan. Saya gak takut, tapi kali ini saya sudah menguji diri saya sendiri untuk lebih berbesar hati. Buat saya, menyuruh saya medical check-up karena keseringan mabuk saat hamil muda sama dengan penghinaan terhadap kaum saya. Saya datang ke HRD, menolak mentah-mentah perintah tersebut, karena baru TIGA BULAN sebelumnya saya dinyatakan lolos medical check-up sebelum diterima bekerja di tempat tersebut. Saya jengkel. Adakah penyakit berbahaya yang menimpa orang hamil muda saat tiga bulan sebelumnya dinyatakan sehat? Saya cuma berusaha sabar, karena saya sedang hamil and I had nowhere to run. Walaupun makan hati dan pada akhirnya saya harus pindah kantor lagi, lagi-lagi saya dapat pelajaran berharga, that sometimes even nice people could turn into assholes.

Dan saya benar-benar kapok untuk buka akun twitter saya lagi. Mendingan tetap stick di facebook, deh.

At the Crossroads

Last week, one of the advisers in my office assigned me to open a video lecture by a famous marketing consultant, Simon Sinek. She instructed me to watch, see and find whether its content is possibly related to our project; to promote the bureaucratic reform in Indonesia. Then she asked me to sum it up, put it in a short writing for about 250 words.

I smiled. This is the most interesting assignment that I’ve had so far. Basically, my main responsibility, as written clearly in the contract, is to help the advisers in doing research activities. I wouldn’t say that managing events bla bla bla is a total turn-off, but doing a job that is part of your hobby, should be considered as a gift from God. Suddenly I remember that I ever dreamed to be a singer because I love to sing, though this idea might have been gone from my mind (well, it looks like everyone is starting their passion to be a singer at their early stages, not by the time they reached twenty-something), but still I was overwhelmingly happy that finally I could run from the clerical activities for a while. Then I started to write.

A week after, I came back to her with 716-words article as shown below:

Golden Circle Theory dalam Reformasi Birokrasi

Ada sebuah perbedaan antara orang-orang biasa, seperti kita pada umumnya, dengan para inspiring leaders yang ada di dunia. Perbedaan yang membuat Martin Luther King berhasil melakukan perubahan besar dalam sejarah diskriminasi rasial di Amerika Serikat melalui pidato berjudul I Have A Dream pada tahun 1963. Perbedaan yang, untuk contoh di jaman pop culture saat ini, berhasil membuat kematian Steve Jobs menuai duka di hampir seluruh penjuru dunia. Padahal, Steve Jobs bukan sanak saudara kita, bukan pula seseorang yang kita kenal secara personal, namun Steve Jobs telah sangat berjasa memperkenalkan kita dengan apa yang dinamakan iPod, sebuah MP3 player seperti halnya produk keluaran Sony. Atau sesuatu yang bernama iPhone, jenis telepon genggam yang tiba-tiba muncul mengalahkan popularitas dan dominasi Nokia di pasaran. Atau pula iPad, sebuah computer jenis tablet di mana si empunya bisa terkoneksi dan mengerjakan aktivitas komputer di mana pun, dengan gaya yang lebih stylish daripada laptop/notebook biasa.

Steve Jobs, yang bersama dengan Steve Wozniak merupakan pendiri perusahaan Apple, adalah seorang tokoh yang jelas sudah akrab namanya di telinga kita. Jobs adalah salah satu inspiring leaders yang cara berpikirnya berbeda dengan cara pikir orang kebanyakan. Simon Sinek, seorang konsultan pemasaran, motivator dan penulis buku “Starts With Why”, mencoba untuk menjelaskan teori “Golden Circle” yang dimiliki oleh kebanyakan inspiring leaders termasuk Steve Jobs. Teori “Golden Circle” tersebut terdiri dari tiga lingkarang kecil hingga besar, yang terdiri atas pertanyaan ‘why’ di lingkaran terdalam, ‘how’ di lingkaran ke-2, dan ‘what’ di lingkaran terluar. Cara berpikir manusia pada umumnya menerapkan teori tersebut dengan cara outside-in, yaitu dari luar ke dalam. Di mana pertanyaan kita akan dimulai dari ‘what’, kemudian berkembang menjadi ‘how’ dan barulah di akhir akan muncul pertanyaan ‘why’. Sementara si pendiri Apple memiliki cara perpikir yang inside-out, memulai idenya dengan kata ‘why’, lalu kemudian bergerak ke ‘how’, dan diakhiri dengan ‘what’, yaitu sebuah objek yang riil.

Di sini kita melihat, bahwa jauh sebelum ide penciptaan iPod, Jobs sudah menjawab dua pertanyaan sebelumnya, yaitu ‘why’ dan ‘how’. Kata tanya ‘why’ atau ‘mengapa’ hanya bisa dijawab dengan sebuah belief, sebuah kepercayaan akan sesuatu hal atau sesuatu mimpi yang yakin bisa diwujudkan. Jobs ingin mengubah status quo, sesuatu yang sudah biasa ia temukan di pasaran (‘why’), salah satunya adalah dengan menciptakan suatu alat yang tidak hanya fungsional tapi juga simple dan memiliki model yang classy (‘how’), kemudian Jobs berpikir bahwa ia akan menciptakan iPod (‘what’). iPod adalah buah pikir Jobs setelah ia percaya bahwa dirinya mampu mengubah pandangan umum orang tentang sebuah MP3 player, bukan sebaliknya. Dengan cara inilah Jobs berhasil sukses menjual produknya, karena kepercayaan yang ia miliki berhasil ia transfer kepada para konsumennya, sehingga ada kelompok-kelompok orang yang kini dinamakan dengan Apple freak. 

Simon Sinek berpendapat bahwa sudah terlalu konvensional dan ‘ketinggalan’ kalau kita masih berpikir dengan cara metode outside-in dewasa ini, apalagi jika kita ingin menjadi sebuah agent of change, seseorang yang bisa memimpin sebuah perubahan secara massal, terlebih merubah sesuatu hal yang sudah sangat laten diadopsi selama berpuluh-puluh tahun. Berkaca pada Steve Jobs, sekalipun ia bukan seorang pemimpin sebuah negara, tapi bagi sebagian orang, pengaruh yang ia ciptakan bahkan bisa menyamai ataupun melebihi pengaruh seorang presiden di Amerika Serikat. Inilah yang patut dicontoh oleh para pemimpin di negeri ini dalam kaitannya dengan reformasi birokrasi. Metode birokrasi model lama yang telah tercipta sekian puluh tahun di Indonesia hanya bisa diubah dengan orang-orang yang berpikir dengan metode inside-out. Beberapa tokoh, salah satunya Bapak Dahlan Iskan, bisa dikategorikan sebagai salah satu dari sedikit pemimpin yang mencoba berpikir demikian. Dengan gaya berpakaian yang jauh dari mentereng, sikapnya yang humble pada setiap orang dan aksinya yang beberapa kali melakukan inspeksi mendadak selama ia menjabat sebagai Menteri Negara BUMN telah mencuri hati masyarakat. Dahlan Iskan berpikir dari kata ‘why’, bahwa ia percaya ia bisa merubah perspektif masyarakat tentang seorang Menteri yang selama ini jauh dari jangkauan dan selalu berpenampilan rapi dengan jas dan sepatu mengilat. Kemudian ia memikirkan kata ‘how’ dengan melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh Menteri-Menteri lainnya (contohnya menjadi penumpang kereta api listrik dari Jakarta saat akan menghadiri rapat kabinet di Istana Bogor), dan kemudian ia menjawab pertanyaan terakhir melalui kata ‘what’, yaitu adalah untuk mencapai reformasi birokrasi. Inspiring leaders hanya akan memulai sesuatu dengan dirinya dan apa yang diyakininya, sebelum ia mempengaruhi bawahannya, staf-stafnya, masyarakatnya, konsumennya, maupun orang-orang yang ada di sekelilingnya.             

And this is the impact that I’ve just got after the advisers read my writing; they offered me to leave my current position to become the Writer, a post that they will advertise very soon to the public. They think that I am capable and as the result, they will seek for another Research Assistant to replace me. They only give me this weekend to think and decide. At one side, I consider this as a big appreciation from them. However, at the other side, the Writer post that they initially proposed should be filled by someone who has a broad experience in writings (not only can blogging and making some trashy notes in Facebook), and I am thinking that this person must be quite senior. And for sure, will be paid higher than me. That’s my only one question; “somehow, if I said agree, wouldn’t it be a big saving for them??”

What should I answer for tomorrow? I don’t want – if I agreed with their offer – to re-negotiate the fee that I currently get. But if not, I will be feeling like working underpaid (oh dear, being a dedicated writer is not as simple as you think). On the other hand, I talk to myself that must leaving this place because of some of the reasons that make it’s inconvenient to work. I don’t know when. But, if I sweat the compensation things and eventually get what I expected, I would feel like I just made a greater and tighter commitment between me and the work, which can only be broken by the time the project ends. Holy crap.